Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Pengerajin Datangkan Dari Luar Buleleng

Minggu, 4 November 2007, 17:45 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Pengerajin batu bata di Kabupaten Buleleng mengeluh lantaran mereka kesulitan bahan baku . Jika sebelumnya bahan baku berupa tanah cukup diambil di lahan pembuatan bata merah, namun kini perajin harus membeli tanah ke luar daerah.

Dalam situasi tersebut, pengerajin bukannya mengeluh karena tanah sulit didapat, tetapi harga tanah pun terus meningkat.


Komang Mariaja pengerajin bata merah di Dusun Dharmayasa, Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng mengatakan, seluruh pengerajin merasakan sulitnya mendapatkan tanah untuk diolah menjadi bata merah berkualitas. Kalau dulu di lokasi pembuatan saja tidak habis, tetapi kerena sudah lama usaha ini berjalan sehingga tanah sulit dicari,ungkapnya.


jenis tanah yang cocok digunakan untuk bata merah adalah tanah kebun atau tegalan. Tanah ini memiliki kelebihan terutama setelah diolah menjadi Lumpur tanah ini tidak terlalu lengket sehingga sulit dicetak. Sedangkan jika menggunakan tanah sawah setelah jadi Lumpur sangat lengket dan begitu dijemur akan pecah, ungkap Mariaja.
Dalam melayani sejumlah pesanan, Komang Mariaja membeli tanah ke luar desa Tukadmungga. Harga tanah yang dibelinya sangat mahal, dimana satu kubik lebih atau bisa disebut para pengerajin bata merah tiap satu mbil Colt dihargai Rp 40.000. Tiap satu kali memproduksi bata merah dirinya membutuhkan tanah hingga 5 lima colt.

Komang Mariaja mempaparkan. Dalam proses pembuatan bata merah diawali dengan membuat Lumpur dari tanah kemudian dicetak dan dijemur. Tanah sebanyak lima colt bisa menghasilkan bata merah menjadi 8.000 buah. Dari proses pencetakan dan pengeringan dilanjutkan dengan membakar bata merah. Setelah itu barulah bata merah siap dipasarkan.
Pesanan tetap saja ada hanya masalah bahan baku ini, kami selama ini berusaha memakai tanah di desa-desa tetangga jika nanti di sini juga sudah tak ada kami hanya bisa pasarah kalu usaha ini akan hilang, papar Mariaja.


Sementara untuk penjualan bata merah tersebut, rata-rata tiap seribu bata merah dijual dengan harga Rp 300.000 di lokasi pembuatan, namun jika dikirim ke luar daerah haraganya ditambah dengan biaya transportasi dan ongkos buruh. 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/ctg



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami