Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Suasana berbeda terlihat di Pura Masceti, Desa Sayan, Ubud, Minggu (29/3), saat ratusan krama subak dari Desa Sayan dan Desa Singakerta berkumpul dalam tradisi sakral Perang Tipat.
Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar ritual seremonial, melainkan wujud rasa syukur para petani atas hasil bumi yang melimpah selama enam bulan terakhir. Pura Masceti yang berfungsi sebagai Pura Ulun Suwi menjadi pusat pelaksanaan tradisi yang diempon oleh 10 subak dari dua desa dinas dan empat desa adat.
Pemangku pura, Jero Mangku Made Ngastra, menjelaskan bahwa Perang Tipat memiliki makna spiritual yang mendalam dalam menjaga keseimbangan alam dan kesuburan tanah.
“Ini sebagai bentuk syukur krama subak karena selama enam bulan terakhir,” ujarnya singkat namun penuh makna.
Tradisi ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali, tepatnya tiga hari setelah nyineb piodalan yang bertepatan dengan Redite Kliwon Watugunung. Sejak pagi hari, krama subak telah memadati area pura dengan membawa pepranian berupa banten berisi tipat kelanan.
Menariknya, hanya sebagian tipat yang dihaturkan dalam persembahyangan, sementara sisanya dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga sebagai berkah.
Usai prosesi persembahyangan, suasana yang sebelumnya khusyuk berubah menjadi meriah. Diiringi tabuhan baleganjur, krama dari berbagai usia saling melempar tipat yang telah melalui proses upacara.
Meski disebut “perang”, tradisi ini berlangsung penuh keceriaan tanpa adanya konflik. Tawa dan kebersamaan menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual tersebut.
Di balik kemeriahan itu, masyarakat meyakini bahwa tradisi ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Tidak dilaksanakannya ritual ini dipercaya dapat berdampak buruk, seperti munculnya hama yang mengganggu pertanian.
Baca juga:
Tradisi Perang Tipat-Bantal
Selain Perang Tipat, para petani juga melaksanakan ritual nunas ulam bawi. Sarana upacara ini kemudian ditempatkan di palinggih yang ada di area persawahan sebagai simbol perlindungan.
"Ritual ini bertujuan memohon kesuburan tanaman padi agar tumbuh dengan baik dan terhindar dari berbagai halangan hingga masa panen," imbuh Jro Mangku Made Ngastra.
Tradisi Perang Tipat di Desa Sayan menjadi bukti kuat bagaimana kearifan lokal Bali tetap terjaga, sekaligus mempererat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas di tengah perkembangan zaman.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5902 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4629 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2593 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2239 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan