Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 16 Agustus 2026
Minum Air Sepuh, Bocah Perempuan Tewas
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Nasib malang dialami pasangan Kadek Sudarma (35)dan Ni Kadek Riasih (30). Putri kesayangan mereka yang bernama Ni Putu Eka Ayu Ningsih (3), tewas mengenaskan setelah minum air sepuh, Senin (25/2).
Berdasarkan informasi di lapangan, kejadian itu terjadi sekitar pukul 14.30 Wita. Waktu itu sang Ibu, Riasih sedang membersihkan bokor (peralatan dari perak tempat sesajen) di rumahnya di Banjar Siik, Sumita, Gianyar. Berselang beberapa menit, sang anak, Eka Ayu Ningsih menangis. Riasih kemudian membelikan permen.
Permen yang ditelan kemudian nyangkut di tenggorokan sang anak. Sang Ibu kemudian mengambil minuman, tapi yang diambil bukannya air minum, tetapi air sepuh (keras) yang kebetulan disimpan dalam botol air mineral.
Usai meminum air sepuh, sang anak langsung kejang-kejang.Orang tua korban kemudian langsung membawa sang anak ke RSUD Sanjiwani Gianyar.
Namun Tuhan berkehendak lain. Nyawa Ni Putu Eka Ningsih tak bisa terselamatkan. Tubuh bocah malang ini membujur kaku dan membiru. Berdasarkan keterangan dokter RS Sanjiwani, Dr Komang Agus Wirawan, jiwa anak tersebut tidak tertolong karena bagian dalam perut mengalami pendarahan akibat meminum air sepuh keras.
Reporter: bbn/ctg
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4554 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2360 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2015 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1620 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1065 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun