Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung

Senin, 21 September 2026, 16:05 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, KARANGASEM.

Bukan hanya panorama kolam, pepohonan rindang dan laut yang membuat Taman Soekasada Ujung di Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, menarik untuk dikunjungi.

Di balik kemegahannya, taman peninggalan Kerajaan Karangasem ini menyimpan jejak arsitektur yang memperlihatkan pertemuan berbagai kebudayaan. Setiap sudut bangunan di kawasan taman seolah memiliki cerita sendiri. Ada bangunan yang memperlihatkan kuatnya karakter arsitektur Bali, namun di sisi lain terdapat sentuhan Eropa, India hingga Tiongkok.

Perpaduan tersebut membuat Taman Soekasada Ujung tidak sekadar menjadi ruang terbuka dengan lanskap yang indah. Kompleks ini juga menjadi gambaran bagaimana hubungan Kerajaan Karangasem dengan dunia luar pada masanya.

Pengelola Taman Soekasada Ujung, Anak Agung Made Dewandra Djelantik, mengatakan pembangunan taman tersebut dimulai pada 1909 atas gagasan Raja Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Taman yang memiliki luas sekitar 10 hektare itu kemudian rampung dan diresmikan pada 19 September 1921.

Bale Kapal dan Jejak Pengaruh India

Salah satu bangunan yang paling mencolok adalah Bale Kapal. Bangunan ini berdiri di posisi yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah bangunan lainnya.

Dari tempat tersebut, pengunjung dapat melihat kawasan taman sekaligus bentang laut di sisi selatan. Posisi Bale Kapal membuat bangunan ini menjadi salah satu titik yang menarik untuk memahami bagaimana rancangan ruang di Taman Soekasada Ujung berkaitan dengan lingkungan sekitarnya.

Menurut Dewandra, arsitektur Bale Kapal memiliki pengaruh India. Hal tersebut tidak terlepas dari hubungan Kerajaan Karangasem dengan sejumlah kerajaan dan tamu dari luar Bali. Namun, Bale Kapal tidak hanya menarik dari sisi bentuknya. Bangunan tersebut juga memiliki fungsi pada masa lalu.

“Bale Kapal menjadi tempat untuk memantau lalu lintas kapal. Dari sini juga ada akses menuju bagian bawah taman,” jelas Dewandra, Minggu (20/9/2026).

Dari Bale Kapal, pengunjung kemudian dapat menuruni sejumlah anak tangga menuju kawasan utama taman.

Bale Gili, Paviliun di Tengah Kolam

Di bagian bawah terdapat Bale Gili, bangunan yang berada di tengah kawasan kolam. Bangunan ini menjadi salah satu ikon utama Taman Soekasada Ujung.

Posisinya yang dikelilingi air membuat Bale Gili terlihat seperti sebuah paviliun yang mengapung di tengah taman. Bentuk bangunannya memperlihatkan perpaduan arsitektur Eropa dan Bali. Bangunan inilah yang dahulu digunakan Raja Karangasem untuk menjamu para tamunya.

“Bale Gili ini menjadi bangunan utama yang dipakai raja menjamu tamunya yang datang di Karangasem,” ungkapnya.

Keberadaan Bale Gili memperlihatkan bahwa bangunan di dalam kompleks taman tidak semata dirancang sebagai elemen dekoratif. Ada fungsi sosial dan kerajaan yang melekat pada ruang-ruang tersebut.

Laut, Gunung dan Sumber Air

Jika diperhatikan lebih jauh, konsep Taman Soekasada Ujung juga tidak berdiri sendiri. Lanskap taman dibangun dengan mempertemukan tiga unsur penting, yakni laut, gunung dan sumber air.

Posisinya yang menghadap laut dengan latar perbukitan, ditambah keberadaan kolam dan sumber mata air, membuat kawasan ini memiliki karakter lanskap yang khas. Konsep tersebut juga ditemukan pada sejumlah taman peninggalan Kerajaan Karangasem lainnya.

“Kalau dilihat, Taman Tirta Gangga maupun Taman Mayura di Lombok hampir mirip-mirip,” kata Dewandea.

Perpaduan antara lanskap alam dan bangunan menjadi kekuatan utama Taman Soekasada Ujung. Pengunjung bukan hanya berjalan menikmati taman, tetapi juga dapat melihat bagaimana sebuah kerajaan pada masa lalu menuangkan gagasan tentang ruang, keindahan, fungsi dan hubungan dengan dunia luar melalui arsitektur.

Jejak Gempa dan Restorasi

Perjalanan Taman Soekasada Ujung tidak sepenuhnya mulus. Gempa bumi yang terjadi di Bali sempat membuat sejumlah bagian taman mengalami kerusakan.

Taman Soekasada Ujung kemudian menjalani proses restorasi pada 2001 dan terus mengalami penataan hingga sekarang.

Bagi pengelola, tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan fisik bangunan, tetapi juga menghidupkan kembali cerita di balik setiap bangunan.

“Harapannya, pengunjung tidak hanya sekadar liburan ke sini. Tetapi ada edukasi sejarah yang didapat setelah mereka berkunjung,” ujar Dewandra.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/krs



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami