Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Minggu, 11 Oktober 2026
I Wayan Nugra Menyelamatkan Bali Lewat Sekaa Pesantian
Minggu, 18 November 2018,
06:55 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
I Wayan Nugra dilahirkan di Banjar Dangin Tangkluk, Desa Kesiman, tahun 1939. Anak petani miskin pasangan I Ketut Lembit dengan Ni Puglik ini mengaku begitu senang dengan tradisi gending sejak masih anak-anak. Sang ayah sendiri adalah juru kidung yang secara otomatis menempa Nugra banyak menguasai metrum kidung.
Di masa kanak-kanak. Nugra adalah segelintir orang dewasa yang cukup beruntung. Mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) 1 Kesiman (1952-1953), ia menamatkan Sekolah Guru Bawah (SGB) di Denpasar tahun 1958. Tahun 1968 ia tamat Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) Denpasar. Ia lantas tamat PGSLP (Pendidikan Guru Lanjutan Pertama) angkatan pertama tahun 1969 di Denpasar.
Sejak ia Sekolah Rakyat kelas III, Nugra sudah bisa menghafal sebagian Geguritan Sampik Ingtai, karya Ida Ketut Sari dari Geria Sanur. Di SR pula Nugra mendapatkan guru-guru yang memiliki pengetahuan sastra Bali lumayan. Sampai kini ia ingat betapa besar jasa para gurunya itu. Tahun 1947-1948 ia bertemu guru-guru yang memiliki idealism tinggi, di antaranya yang tetap ia ingat adalah Bapak Ketut Guweng dari Kaliungu, Bapak Suamba dari Karangasem, dan Bapak Ida Bagus Raka dari Geria Tegal.
Di SGB Nugra bertemu dengan guru bahasa Bali I Gusti Ketut Ertia. Sedangkan di PGSLP sendiri Nugra dengan kesadaran penuh memilih jurusan bahasa Bali. Alasannya karena adalah di zaman itu seseorang yang menguasai sastra termasuk adat dan budaya Bali mendapat tempat yang terhormat di masyarakat.
Dengan latar belakang pendidikan Sekolah Guru, Nugra mengabdikan hidupnya sebagai seorang pendidik. Hampir 40 tahun ia mengabdi sebagai pahlawan tanpa jasa. Sementara itu, kegilaannya pada dunia nyastra tak pernah pudar. Tahun 1966, atas prakarsa Kepala Desa setempat, Nugra mengumpulkan sejawatnya untuk membentuk sekaa pesantian. Tujuannya tak lain adalah untuk mengalihkan perhatian masyarakat supaya tidak tergelincir pada politik PKI (Partai Komunis Indonesia), yang sebelumnya di tahun 1965 melahirkan gerakan menyedihkan. Belakangan, secara bersama-sama, ia juga mendirikan sekaa pesanitian Dharma Puspita.
Sebagai seorang mantan pegawai negri, Nugra mendapat kepercayaan lebih luas diantaranya Ketua II Widya Sabha Denpasar Timur. Pembina Seka Santi Kabupaten Badung, Kodya Denpasar, Tim Pembina Sekaa Pesantian Provinsi Bali, Tim Pembina Utsawa Dharma Gita Provinsi Bali, Tim Penerjemah Nakah-naskah Klasik Provinsi Bali.
Selain itu, dia juga duduk dalam Tim Penerjemah Naskah-naskah Bali dari Dinas Pendidikan dasar Provinsi Bali, Tim Penyusun satua-saua Bali Dinas Pendidikan Dasar Provinsi Bali, di antaranya merupakan adaprasi sendiri, seperti Gatut Kaca Sraya, Silandri, Bagus Diarsa, Ratu Anom, Loka Pala, daln lain-lain.
Atas pengabdiannya dalam pengembangan sastra daerah, pada tahun 1087 Nugra menerima Piagam Penghargaan Upakarti Budaya dari Kotamadya Denpasar. Suami Ni Nyoman Seneng ini kini menghabiskan masa tuanya sambil memomong cucu, harapan masa depannya.
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 3824 Kali
02
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 1912 Kali
03
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1740 Kali
04
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1460 Kali
05
Anggota Polsek Manggis Dianiaya, Pinggul Patah
Dibaca: 1033 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026