Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID: —


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun

Sabtu, 3 Oktober 2026, 20:55 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, GIANYAR.

Tradisi sakral Nyenuk Ngingkup kembali digelar di Pura Agung Manukaya Let, Tampaksiring, Gianyar, Sabtu sore (3/10/2026), setelah terakhir kali dilaksanakan pada 1978 atau 48 tahun silam.

Ribuan krama dari enam desa adat, yakni Manukaya Let, Calo, Penempahan, Tegal Payang, Malet, dan Penyolasan Timbul, mengikuti prosesi yang menjadi bagian dari rangkaian Karya Agung di pura tersebut.

Kembalinya ritual Nyenuk Ngingkup menjadi momentum penting bagi masyarakat setempat dalam menjaga tradisi dan warisan leluhur yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Rangkaian upacara ini merupakan bagian dari Karya Agung Ngenteg Linggih, Labuh Gentuh, Pecaruan Agung, hingga Mendem Pedagingan, yang dilaksanakan menyusul puncak upacara pada Buda Kliwon Ugu, Rabu (30/9/2026).

Dalam prosesi tersebut, ribuan krama mengikuti iring-iringan peed dengan berjalan kaki dari pelataran Istana Tampaksiring menuju Pura Agung Manukaya Let.

Suasana sakral semakin terasa dengan iringan 10 kelompok sekaa gong, mulai dari Adi Mardangga, baleganjur, hingga gong suling yang mengiringi perjalanan prosesi.

Bendesa Adat Manukaya Let, I Made Mawi Arnata, mengatakan pelaksanaan upacara tersebut bukan sekadar kegiatan keagamaan, melainkan juga menjadi sarana menjaga hubungan masyarakat dengan sejarah dan tradisi leluhur.

”Ini merupakan bagian dari rangkaian Karya Agung di Pura Agung Manukaya Let yang dilaksanakan dengan penuh rasa bhakti dan kebersamaan. Terakhir kali karya agung serupa dilaksanakan pada 1978. Melalui pelaksanaan kali ini, kami berharap tradisi yang diwariskan leluhur tetap terjaga dan dapat diteruskan oleh generasi berikutnya,” ujar Mawi Arnata di sela-sela prosesi.

Selain menjadi momentum kebangkitan tradisi, pelaksanaan Karya Agung di Pura Agung Manukaya Let juga memperlihatkan keterkaitan sejarah pura dengan peradaban Bali Kuno.

Di tengah prosesi, sepenggal prasasti kuno dibacakan untuk mengungkap jejak historis pura yang berkaitan dengan trah kepemimpinan Raja Marwadewa pada era Kerajaan Bali Kuno.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/gnr



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami