Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 9 Oktober 2026
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Sebuah cakep lontar asal Lombok hingga kini masih menyimpan misteri. Naskah kuno tersebut menjadi koleksi Museum Pustaka Lontar Desa Adat Dukuh Penaban, Kecamatan Karangasem, tetapi isi maupun makna tulisan di dalamnya belum berhasil diungkap.
Lontar tersebut sebelumnya berada di tangan seorang tamu asal Belgia yang memperoleh naskah itu dari Lombok. Sebelum meninggalkan Bali dan kembali ke negaranya, tamu tersebut memilih menghibahkan lontar kepada Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban.
Sejak diterima museum, naskah tersebut justru menimbulkan tanda tanya. Sejumlah pihak telah mencoba membaca dan mengidentifikasi tulisan di dalamnya. Namun, hingga kini belum ada yang berhasil memastikan isi naskah tersebut.
Pengelola Museum Pustaka Lontar, I Nengah Suarya, mengatakan karakter tulisan dalam lontar tersebut cukup rumit. Kondisi fisik naskah juga menjadi salah satu kendala dalam proses pembacaan.
“Isi naskah masih menjadi misteri karena sulit dibaca. Sejumlah pihak sempat mencoba membaca naskah tersebut, namun menghadapi kendala karena karakter tulisannya dan kondisi lontar yang cukup rumit. Makanya untuk sementara kita namai lontar misterius,” kata Jro Nengah Suarya, Kamis (8/10/2026).
Pihak museum tidak ingin mengambil risiko dengan memaksakan pembacaan terhadap naskah. Upaya penyelamatan justru diawali dengan konservasi untuk memastikan kondisi lontar tetap terjaga.
Baca juga:
DAK Disbudpar Buleleng Dipangkas Jadi Rp600 Juta, Pelestarian Lontar Tetap Jadi Prioritas
Setelah konservasi, museum berencana melibatkan tim digitalisasi dan Klinik Lontar untuk membantu mengungkap tulisan yang hingga kini belum terpecahkan tersebut.
Penelusuran asal-usul lontar juga telah dilakukan dengan menghubungi sejumlah kenalan di Lombok. Namun, upaya tersebut belum membuahkan jawaban mengenai siapa penulis, kapan dibuat, maupun apa sebenarnya isi naskah tersebut.
“Sampai sekarang belum tahu isi lontar,” tegasnya.
Keberadaan lontar misterius tersebut menambah panjang daftar naskah kuno yang masih membutuhkan penelitian di Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban.
Dari koleksi yang ada, sebanyak 343 cakep lontar telah berhasil diidentifikasi, sedangkan 78 naskah lainnya masih belum teridentifikasi dan membutuhkan penelusuran lebih lanjut.
Sebagian besar lontar yang telah teridentifikasi memuat berbagai pengetahuan tradisional, mulai dari usada, sastra, kepemangkuan, babad, hingga berbagai pengetahuan lainnya.
Baca juga:
Badung Digitalisasi Ratusan Lontar Kuno
“Dari 343 cakep lontar yang ada di museum kebanyakan tentang usada, sastra, kepemangkuan, babad dan lainnya,” tambahnya.
Upaya pelestarian tidak hanya dilakukan dengan menyimpan naskah secara fisik. Museum terus melakukan pencatatan, perawatan, serta pengembangan katalog koleksi.
Namun, digitalisasi seluruh koleksi belum dapat dilakukan secara cepat. Keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan khusus dalam membaca, mengidentifikasi, merawat, dan mengolah naskah lontar menjadi salah satu kendala.
Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban juga memiliki sekitar 4.000 koleksi salinan naskah dari Leiden. Sebagian di antaranya bahkan telah dialihaksarakan menggunakan huruf latin.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/krs
Berita Terpopuler
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1517 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1270 Kali
Konsensus Politik Tanpa Musuh Era Prabowo Subianto
Dibaca: 731 Kali
Desa Batuan Gianyar Raih Juara I Learning Village Dunia
Dibaca: 656 Kali
Anggota Polsek Manggis Dianiaya, Pinggul Patah
Dibaca: 645 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan