Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 14 Oktober 2026
Siswa SMK Meninggal Usai Divaksin
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Cahyono Putra (17), seorang siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meninggal dunia setelah disuntik vaksin Covid-19 pada Rabu (1/9/2021). Cahyono ditemukan meninggal dunia di kamarnya.
Ibu kandung Cahyono, Ani Anggraeni (40) mengatakan, anaknya sebenarnya dalam kondisi pemulihan pengobatan penyakit lambung. Bahkan, Cahyono masih mengonsumsi sisa obat penyakit lambung saat ikut belajar tatap muka di sekolah dan saat proses vaksinasi.
Sebelum disuntik vaksin, menurut Ani, Cahyono juga telah menyampaikan informasi mengenai riwayat penyakit dan pengobatan kepada petugas vaksinasi. Sementara ayah Cahyono, Nono mempertanyakan prosedur vaksinasi dan skrining yang dilakukan petugas medis.
Apalagi seperti yang menimpa Cahyono, di mana vaksinasi dilakukan terhadap orang yang sedang sakit dan sedang dalam masa pengobatan. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email "Saya kan tanya ke anak saya, waktu itu bilang enggak ke petugas medisnya kalau masih sakit. Kata anak saya, 'bilang Pak'. Nah, biasanya kan observasi kalau ada yang sakit enggak boleh divaksin, kenapa ini masih disuntik saja?" kata Nono, Rabu (8/9/2021).
Penjelasan Komda KIPI Ketua Komda Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Jabar Prof Kusnandi Rusmil mengatakan, Cahyono menderita sakit yang serius dua pekan sebelum divaksin.
Hingga saat akan divaksin, badan remaja ini belum dalam kondisi fit. Namun, karena ingin sekolah, ia memaksakan diri untuk divaksin. Di tempat vaksinasi, Cahyono terlihat sehat, sehingga bisa melalui proses vaksinasi.
Namun, seusai vaksinasi, remaja ini merasakan lemas. "Analisanya, (Cahyono) mengalami reaksi sedang (lemas). Kalau berat dia bisa pingsan," ucap Kusnandi.
Karena tidak menunjukkan gejala berat, Cahyono diperbolehkan pulang. Ia bisa berjalan kaki dan pulang ke rumah. Malam harinya, kondisi pasien memburuk. Orangtua Cahyono kemudian memanggil dokter. Begitu dokter sampai, pasien sudah meninggal.
"(Pasien) mengalami syok reaksi lambat," ucap dia. Kusnandi mengatakan, saat itu terjadi, seharusnya pasien dibawa ke rumah sakit atau puskesmas untuk diinfus. Sebab pihak medis sudah mengetahui yang harus dilakukan ketika terjadi syok reaksi lambat pasca-imunisasi.
"Seandainya dibawa ke rumah sakit, pasti diinfus dan tertolong," ucap dia. Untuk itu, dia mengingatkan kepada masyarakat yang akan divaksin untuk jujur pada diri sendiri. Pastikan tubuh dalam kondisi sehat saat divaksin.
Kemudian istirahat dan makan yang cukup sebelum divaksin. Petugas imunisasi pun harus mewanti-wanti para peserta vaksinasi. Jika terjadi sesuatu pasca-imunisasi, segera hubungi nomor kontak yang diberikan saat vaksin atau pergi ke rumah sakit atau puskesmas.
"Petugas imunisasi juga harus lebih teliti. Karena banyak yang kelihatannya sehat (tapi ternyata tidak). Jadinya petugas tertipu," tutur dia.
1 orang mengalami syok
Secara teoritis, sambung Kusnandi, dari 1 juta orang yang disuntik, satu orang akan mengalami syok hingga pingsan. Karena itu setelah divaksin, peserta harus diobservasi, yakni pemantauan gejala klinis yang muncul pasca-vaksinasi selama 15-30 menit.
Lantas bagaimana jika ada yang mengalami gejala berat? Petugas sudah mempersiapkan berbagai langkahnya. Sehingga pasien bisa tertolong.(sumber: kompas.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4319 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2015 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1874 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1552 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1368 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan