Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 23 Oktober 2026
Ini Tanda Anak Stres Hingga Alami Gangguan Kesehatan Mental
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Gangguan kesehatan mental berisiko terjadi pada segala usia, termasuk anak-anak. Terlebih dalam kondisi pandemi Covid-19, anak juga sama rentannya alamj stres yang bisa berujung jadi masalah mental.
Dokter spesialis anak di RSAB Harapan Kita Jakarta dr. Eva Devita, Sp.A(K)., mengatakan bahwa selama pandemi Covid-19 makin banyak orangtua yang keluhkan anaknya mengalami berbagai gejala stres.
"Keluhan orangtua yang disampaikan selama pandemi, anak sering menangis, tidur terganggu, suka mimpi buruk, menolak untuk sekolah, tidak mau mengerjakan tugas, menjadi rewel sering marah-marah tanpa sebab," papar dokter Eva dalam webinar RSAB Haraoan Kita Jakarta, Minggu (28/11/2021).
Ia menjelaskan bahwa gangguan kesehatan mental merupakan perubahan bermakna pada cara anak belajar, berperilaku, maupun mengendalikan emosi yang bisa menyebabkan stres atau tekanan batin. Kondisi tersebut sampai menimbulkan masalah pada aktivitas sehari-hari anak.
Ada beberapa jenis gangguan perilaku dan emosional yang bisa terjadi, seperti gangguan cemas, depresi, perilaku yang merusak, dan gangguan perkembangan.
"Masalah perilaku merusak itu bisa berupa tantrum, ADHD atau gangguan hiperaktivitas. Juga anak jadi suka membangkang dan merusak," ucap dokter Eva.
Temuan dari penelitian yang dilakukan di Amerika, lanjutnya, semakin besar usia anak, risiko gangguan kesehatan mental makin besar. Anak bisa mengalami gangguan kesehatan mental berupa depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku.
"Puncaknya pada anak usia 12-17 tahun, angka kejadian gangguan perilaku makin meningkat dan anak perempuan ternyata lebih banyak mengalaminya daripada anak laki-laki," ujarnya.
Dampak psikologis lainnya akibat kondisi pandemi terjadi pada anak yang menjalani karantina. Data dari China di masa awal pandemi saat lockdown ketat diberlakukan, ternyata anak-anak menjadi sangat tergantung pada orangtua, susah untuk berkonsentrasi, mudah rewel, selalu ingin info terbaru, hingga gangguan tidur, nafsu makan buruk, dan merasa tidak nyaman.
"Ini adalah keluhan yang dialami oleh anak yang disampaikan oleh orangtua pada anak usia 3 sampai 18 tahun (di China)," ujarnya.
Semenrara itu, data terbaru pada 2021 di Amerika menunjukkan bahwa dampak pandemi terhadap kesehatan mental remaja memang signifikan. Sekitar 70 persen remaja perempuan mengalami kecemasa, 31 persen lainnya mengalami depresi, 24 persen mengalami gangguan tidur, dan 14 persen mengurung diri juga menghindari berinteraksi dengan anggota keluarga.
Dokter Eva menyampaikan, angka kejadian gangguan mental pada anak laki-laki memang lebih sedikit. Tetapi sebenarnya mereka juga mengalami hal yang sama.
"Jadi dampak pandemi terhadap kesehatan mental anak dan remaja nyata dan faktor yang berkontribusi pada kerentanan anak selama pandemi adalah mulai dari kehilangan anggota keluarga, isolasi karantina di rumah, tidak bisa bertemu atau berbincang dengan teman-temannya," jelasnya.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4531 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2223 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2147 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2128 Kali
NCC 4 Jadi Ruang Kolaborasi dan Apresiasi Karya Generasi Muda
Dibaca: 1713 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan