Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 16 Oktober 2026
SE MDA Soal Ogoh-Ogoh, Prosesi Pengarakannya Diwanti-wanti
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Bendesa Madya MDA Kabupaten Gianyar Anak Agung Gde Alit Asmara saat dikonfirmasi mengatakan siap menjalankan kebijakan sesuai yang tercantum dalam Surat Edaran (SE) MDA Provinsi Bali Nomor 009 Tahun 2021 tentang pembuatan dan pawai ogoh-ogoh Saat Nyepi Tahun Baru Saka 1944.
"Kami sudah teruskan ke seluruh Bendesa Adat di Gianyar," jelasnya, Kamis (30/12).
Namun diwanti-wanti saat prosesi berlangsung harus tetap disiplin protokol kesehatan. "Desa Adat harus tetap memperhatikan situasi dan kondisi penyebaran Covid-19 di wilayahnya masing-masing. Hal teknis didalam pelaksanaannya kami serahkan sepenuhnya kepada Bendesa Adat setempat," tegasnya.
Termasuk saat pembuatan, diimbau agar taat penerapan prokes. Maka dari itu, ia menambahkan jika diperbolehkan atau tidaknya pembuatan ogoh-ogoh ini kini merupakan kewenangan Bendesa Adat. Karena Bendesa Adat yang mengetahui secara pasti kondisi dan situasi didaerahnya.
“Kita hanya mengarahkan karena ini konteksnya merupakan tradisi dan wujud kreatifitas, jadi di Majelis sudah mempertimbangkan dan tetap diberi ruang namun dengan catatan-catatan yang harus tetap ditaati karena kita masih dalam masa pandemi Covid-19,” jelasnya.
Adapun catatan yang dimaksud dan tercantum dalam SE MDA Provinsi Bali tersebut diantaranya pembuatan atau pawai ogoh-ogoh harus dilaksanakan secara kelembagaan seperti Banjar Adat, Desa Adat, Paiketan Yowana serta seizin Satuan Tugas Penanggulangan Covid-19 dan Bendesa Adat.
Kemudian Sekaa dan panitia yang melaksanakan dan bertanggungjawab dalam kegiatan tersebut membuat atau mengajukan usulan kepada Bendesa Adat untuk mendapatkan izin tertulis. Pembuatan otoh-ogoh menggunakan bahan ramah lingkungan dan tidak menggunakan bahan styrofoam atau plastik.
Pembautan dibatasi hanya satu ogoh-ogoh di tingkat Banjar Adat atau Desa Adat. Pengarakan ogoh-ogoh dibatasi hanya keliling wewidangan Banjar Adat. Peserta pawai ogoh-ogoh dibatasi hanya 50 orang dengan waktu maksimal sampai pukul 20.00 WITA.
Peserta pawai ogoh-ogoh disemprot dengan cairan pengganti desinfektan seperti Eco-enzyme. Kemudian peserta harus menerapkan prokes dengan ketat, sudah divaksin tahap I dan II, tidak menunjukkan gejala terinfeksi Covid-19.
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4399 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2057 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1932 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1586 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1428 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan