Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 21 Oktober 2026
Ini Dampak Jangka Panjang Konsumsi Parasetamol
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Para peneliti dari farmakologi klinis di University of Edinburgh menyarankan, pasien dengan resep obat penghilang rasa sakit jangka panjang harus diberikan dalam dosis terendah untuk waktu sesingkat mungkin.
Sebab, konsumsi parasetamol dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Risiko itu rentan terjadi pada orang dengan tekanan darah tinggi.
Selama ini, parasetamol dianggap sebagai obat yang benar-benar aman sebagai penghilang rasa sakit bagi pasien dengan pengobatan nyeri kronis. Tetapi temuan para ilmuwan di Universitas Edinburgh itu menunjukkan efek pada tekanan darah akibat konsumsi parasetamol mirip dengan antiinflamasi nonsteroid (NSAID). Seperti ibuprofen, yang diketahui meningkatkan tekanan darah dan risiko penyakit jantung.
Obat itu juga digunakan untuk mengatasi nyeri kronis. Peningkatan tekanan darah diperkirakan meningkatkan risiko penyakit jantung atau stroke sekitar 20 persen, kata para ahli.
"Studi ini dengan jelas menunjukkan bahwa parasetamol, obat yang paling banyak digunakan di dunia, meningkatkan tekanan darah, salah satu faktor risiko terpenting untuk serangan jantung dan stroke," kata Ketua pribadi farmakologi klinis di University of Edinburgh Profesor James Dear, dikutip dari Mirror.
Ia menyarankan, dokter dan pasien harus mempertimbangkan antara risiko dengan manfaat dari resep parasetamol jangka panjang.
"Terutama pada pasien yang berisiko penyakit kardiovaskular. Singkatnya, kami telah menunjukkan bahwa dua minggu pengobatan dengan parasetamol meningkatkan tekanan darah pada pasien yang memiliki hipertensi," imbuhnya.
Peneliti utama Dr. Iain MacIntyre menegaskan bahwa penelitian itu bukan tentang penggunaan parasetamol jangka pendek untuk sakit kepala atau demam. Menurutnya, konsumsi parasetamol dalam jangka waktu pendek masih baik.
Tetapi, risiko buruk bisa terjadi pada orang yang mengonsumsi parasetamol secara teratur dalam jangka panjang, biasanya untuk pengobatan nyeri kronis. Studi itu menemukan bahwa setelah orang berhenti minum obat, tekanan darah akan kembali seperti semula. Kesimpulan para ahli, parasetamol menyebabkan peningkatan tekanan darah tersebut.
Para peneliti mengakui, mereka tidak memiliki jumlah akurat orang-orang di Inggris yang menggunakan parasetamol dalam jangka panjang juga memiliki tekanan darah tinggi. Namun, diperkirakan satu dari tiga orang dewasa di Inggris memiliki tekanan darah tinggi yang meningkat seiring bertambahnya usia. Sementara satu dari 10 orang di Skotlandia, tempat penelitian dilakukan, mengonsumsi parasetamol secara teratur.
Dalam penelitian tersebut, 110 pasien dengan riwayat tekanan darah tinggi diberi resep 1g parasetamol empat kali sehari, dosis yang secara rutin diresepkan untuk pasien dengan nyeri kronis, atau plasebo masing-masing selama dua minggu. Para peneliti menemukan ada peningkatan yang signifikan dalam tekanan darah pasien yang menggunakan obat penghilang rasa sakit, dibandingkan dengan mereka yang menggunakan plasebo.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4506 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2127 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2086 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1659 Kali
NCC 4 Jadi Ruang Kolaborasi dan Apresiasi Karya Generasi Muda
Dibaca: 1651 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan