Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 16 Oktober 2026
Jejak Kesenian Berko di Jembrana, Penarinya Kini Berusia 1 Abad
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Kekayaan kesenian yang dimiliki Kabupaten Jembrana ternyata sangat banyak. Salaha satunya kesenian khas yang dimiliki Kabupaten Jembrana di era 1920an, Kesenian itu bernama kesenian Berko.
Berko merupakan kesenian hiburan yang Kesenian hiburan yang memadukan tatabuhan, tarian serta kakidungan (tembang tradisional Bali) dengan pragina (seniman) ini berada di Tempek Munduk Jati, Lingkungan Pancardawa, Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana.
Kesenian yang awalnya untuk hiburan masyarakat setelah berkebun atau bertani pada jamannya itu kini menjadi kesenian asli Jembrana. Berko yang merupakan Kesenian hiburan masyarakat Kabupaten Jembrana pada tahun 1920-an ini, kini sudah jarang di pentaskan lantaran susahnya regenerasi penabuh dan penarinya.
Salah satu penari Berko yang masih tersisa Ni Ketut Nepa, 120 kini dengan keadaan yang kurang mampu berharap adanya perhatian Pemerintah, khususnya Kabupaten Jembrana.
Salah satu maestro penari Berko yang masih tersisa hingga saat ini Ni Ketut Nepa, 120 asal Lingkungan Pancar Dawa, Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana. Saat ditemui di kediamannya, Selasa (11/01/2022) sangat antusias saat membahas kesenian yang membesarkan namanya itu.
"Dulu pertama kali saya menari Berko saat usia 15 tahun, pada tahun 1916 kalau tidak salah," ungkapnya.
Nenek yang akrab di sapa Dadong Barak di daerahnya ini juga menjelaskan, awal mula adanya kesenian Berko ini Ia tidak ingat pada tahun berapa tepatnya. Namun, ia menceritakan tarian Berko ini dibuat untuk hiburan warga usai bekerja.
"Awalnya hanya hiburan, tampilnya juga pada jaman dulu tahun 1930-an pada sore hari karena dulu belum ada listrik, jadi penerangan hanya menggunakan obor dan sentir (lampu tradisional)," jelasnya.
Nenek yang kini sudah berumur 1 abad, Ni Ketut Nepa (120) mengatakan, hanya bisa menikmati hidupnya yang serba berkecukupan, namun ketika merasa bosan Ia biasanya mengunjungi cucu atau buyutnya yang ada di utara tempat tinggalnya itu.
"Kalau bosan di rumah saya juga mencari kayu bakar, tapi secukupnya saja saya bawa, tenaga saya tidak seperti dulu lagi, tapi saya kalau sudah disuruh menari Berko pasti bersemangat," paparnya.
Nenek yang tinggal bersama anak ketiganya I Nyoman Sila, 65 ini juga menyampaikan, dulu penduduk Jepang antara tahun 1942 sampai tahun 1945, sangat menggemari kesenian Berko ini.
"Saya dengan almarhum suami memang senang Berko, suami menjadi penabuh, saya menjadi penari. Sayangnya memasuki era 1970-an, kesenian itu mulai meredup dan makin tenggelam pada 1980. Sebabnya lantaran tidak ada perhatian dari pemerintah," tegasnya.
Namun demikian, lanjut Dadong Barak, Ia bersama almarhum sang suami dulunya tetap mengajarkan tetabuhan dan tarian Berko kepada generasi muda, meski tidak mendapatkan upah sepeserpun.
"Kami hanya ingin kesenian Berko ini tetap ada, dan tidak punah, mudah-mudahan kesenian asli Jembrana (Berko) ini cepat mendapatkan perhatian dari pemerintah, khususnya pemerintah Jembrana ini," harapnya.
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4397 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2056 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1931 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1585 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1427 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan