Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 19 Oktober 2026
Puasa Bikin Otak Lebih Sehat dan Cerdas, Kok Bisa?
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Puasa tak hanya bermanfaat untuk kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan otak dan sistem saraf. Bagaimana prosesnya?
Dilansir dari Brain Facts, saat puasa, kita tidak mengonsumsi makanan apapun dalam jangka waktu yang cukup lama. Kondisi ini akan meningkatkan kadar senyawa yang disebut keton.
Dalam kondisi tidak berpuasa, tubuh dan termasuk otak, menggunakan glukosa sebagai sumber energinya. Namun saat berpuasa, tidak ada sumber glukosa dari makanan yang masuk ke dalam tubuh.
Pada kondisi ini, tubuh menghabiskan simpanan glukosa di hati (glikogen) sebagai sumber energi dan mendorong sel-sel lemak untuk melepaskan lemak.
Tubuh kemudian membakar lemak dan mengubahnya menjadi keton. Keton inilah yang kemudian digunakan oleh tubuh sebagai sumber energi.
Perubahan sumber energi ini terjadi setelah sekitar 10-14 jam berpuasa. Dan perubahan inilah yang diyakini memberi dampak positif pada kesehatan otak Anda.
Perubahan ini memicu proses yang disebut dengan autofagi. Ini merupakan proses di mana tubuh memperbaiki sel yang telah rusak, termasuk sel otak.
Tubuh menghilangkan bagian sel yang rusak dan mematikan pertumbuhan sel tersebut. Dan setelah puasa, sel-sel baru akan tumbuh, kemudian membuat banyak protein dan membentuk sinapsis. Inilah yang membuat otak tetap sehat dan dapat bekerja dengan baik.
Itu sebabnya, peneliti pun menyimpulkan bahwa orang yang berpuasa juga dapat mengalami peningkatan fungsi kognitif. Studi pada hewan menemukan fakta bahwa puasa merangsang produksi protein dalam sel saraf yang disebut brain-derived neurotrophic factor (BDNF).
Protein ini berperan penting dalam proses belajar dan memori serta membentuk sel saraf baru di hippocampus, yaitu bagian otak yang berperan dalam pembelajaran dan memori.
Beberapa penelitian juga telah dilakukan pada manusia. Salah satunya yang tengah berlangsung adalah penelitian di National Institute on Aging, di mana mereka memantau orang-orang yang berisiko mengalami gangguan kognitif karena usia dan berat badan.
Responden secara acak ditugaskan untuk diet puasa intermiten 5:2 atau kontrol diet dengan hanya mengonsumsi makan sehat. Sebelum memulai diet dan kemudian dua bulan kemudian, peneliti melakukan serangkaian tes kognitif dengan fokus pada berbagai aspek pembelajaran dan memori.
Bagaimana hasilnya? Para peneliti belum mempublikasikan hasil penelitian mereka. Tapi, sepertinya hasilnya memang mendukung teori sebelumnya, bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan otak dan fungsi kognitif.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4492 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2115 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2046 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1649 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1495 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan