Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 17 Oktober 2026
Harga Minyak Dunia Kian Merosot, Ini Pemicunya
BERITABALI.COM, DUNIA.
Harga minyak mentah dunia melanjutkan pelemahan dipicu kenaikan kasus Covid-19 yang semakin memburuk di China. Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran turunnya permintaan minyak mentah dari negara tersebut. Pada pukul 8.30 WIB harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak Juni 2022 turun 1,76 persen menjadi di level 100,97 dollar AS per barrel.
Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Mei 2022 turun 1,83 persen ke level 96,46 dollar AS per barrel. Penyebaran Covid-19 terus meningkat di China, sehingga pihak otoritas negara tersebut melakukan lockdown di sejumlah kota, termasuk Shanghai.
Peningkatan kasus di Shanghai mencapai 26.000 kasus baru pada Minggu kemarin, membuat belum adanya kejelasan kapan pembatasan akan dicabut. Shanghai merupakan kota pusat bisnis dengan sekitar 26 juta penduduk dan menyumbang sekitar 4 persen dari konsumsi minyak China. Adapun China merupakan negara importir minyak mentah terbesar di dunia.
“Sepertinya tidak ada akhir yang terlihat untuk penguncian saat ini, dan jelas semakin lama ini berlangsung, semakin memukul permintaan minyak (dari China),” ujar Warren Patterson, Kepala Strategi Komoditas ING Groep NV di Singapura.
Pasar minyak mentah dunia mengalami volatilitas selama berminggu-minggu. Harga sempat meambung setelah invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina pada Februari lalu, membuat kekhawatiran akan pasokan minyak dunia yang semakin mengetat.
Sejumlah sanksi yang diberikan negara-negara Barat terhadap Rusia pun telah membuat perdagangan minyak negara yang dipimpin Vladimir Putin itu terganggu.
Rusia merupakan pengekspor minyak mentah terbesar ke-2 di dunia dengan kontribusi 7 persen dari total minyak global. Sanksi energi menggangu perdagangan minyak Rusia sekitar 4-5 juta barrel per hari di pasar global.
Namun kini, kondisi penyebaran Omicron di China, dan rencana negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) yang akan melepaskan minyak dari cadangan strategis, membuat harga komoditas ini kian tergerus. Negara-negara anggota IEA akan melepaskan 120 juta barrel minyak dari cadangan strategis, termasuk 60 juta barrel dari Amerika Serikat.
Komitmen AS itu merupakan bagian dari rencana untuk melepaskan satu juta barel per hari selama 6 bulan ke depan dengan total kasar 180 juta barel. Jika ini terealisasi, maka menjadi kedua kalinya IEA melepas cadangan di tahun ini, sekaligus secara efektif meningkatkan pasokan di seluruh dunia sekitar 2 juta barel per hari setidaknya selama dua bulan ke depan.(sumber: kompas.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4443 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2087 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1987 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1623 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1463 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan