Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 13 Oktober 2026
Efek Samping Vaksin Booster: Pfizer, Moderna, Sinovac dan Astra
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Pemerintah masih terus menggalakkan program vaksinasi booster atau dosis ketiga di tengah masyarakat. Sama seperti vaksinasi primer (1 dan 2), seluruh masyarakat bisa mengakses vaksin booster ini secara gratis.
Setidaknya ada 5 jenis vaksin yang telah menerima izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) sebagai vaksin booster, yakni Sinovac atau Coronavac PT Bio Farma, Comirnaty oleh Pfizer, AstraZeneca atau Vaxzevria dan Kconecavac, Moderna, dan Zifivax.
Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) resmi memberikan persetujuan kepada lima vaksin Covid-19 tersebut sebagai vaksin booster atau dosis lanjutan homolog (vaksin booster sama dengan vaksin primer) dan heterolog (vaksin booster beda dengan vaksin primer).
Berikut ini adalah penjelasan mengenai lima vaksin yang sudah menerima persetujuan BPOM sebagai vaksin booster beserta efek sampingnya.
Vaksin Sinovac dari Bio Farma
Vaksin Coronavac atau Sinovac dari Bio Farma adalah vaksin pertama yang diizinkan sebagai vaksin booster atau vaksin dosis lanjutan homolog yang diberikan sebanyak 1 dosis minimal setelah 6 bulan dari vaksin primer dosis lengkap Coronavac atau Sinovac untuk usia 18 tahun ke atas.
BPOM mengatakan, Sinovac sebagai vaksin booster dapat meningkatkan titer antibodi netralisasi hingga 21 - 35 kali setelah 28 hari pemberian booster atau dosis lanjutan.
Adapun efek samping vaksin booster dari Bio Farma adalah:
- Menimbulkan reaksi lokal atau nyeri pada lokasi suntikan
- Tingkat keparahan efek sampingnya adalah grade satu dan dua
Vaksin Pfizer
Vaksin Comirnaty dari Pfizer sebagai vaksin booster atau dosis lanjutan homolog dapat diberikan sebanyak 1 dosis minimal setelah 6 bulan dari vaksin primer dosis lengkap Pfizer untuk usia 18 tahun ke atas.
Vaksin ini memiliki tingkatan nilai titer antibodi netralisir setelah satu bulan pemberian booster sebesar 3,29 kali. Adapun efek samping yang mungkin timbul setelah suntikan dosis booster vaksin ini adalah:
- Nyeri pada lokasi suntikan
- Nyeri otot
- Nyeri sendi
- Demam
Vaksin AstraZeneca
Vaksin AstraZeneca (Vaxzevria dan Kconecavac) merupakan vaksin yang sudah diizinkan menjadi vaksin booster homolog dan diberikan sebanyak 1 dosis setelah 6 bulan dari vaksinasi primer dosis lengkap AstraZeneca untuk usia 18 tahun ke atas.
Vaksin AstraZeneca sebagai vaksin booster memiliki peningkatan nilai rata-rata titer antibodi IgG dari 1792 (sebelum suntik dosis vaksin booster) menjadi 3746. Adapun efek samping yang mungkin ditimbulkan dari vaksin booster AstraZeneca adalah:
- Nyeri di lokasi suntikan.
- Kemerahan.
- Gatal.
- Terdapat pembengkakan.
- Sakit kepala.
- Meriang atau demam.
- Mual.
- Rasa lelah.
Vaksin Moderna
Vaksin Moderna sebagai vaksin booster homolog dan heterolog dengan vaksin primer AstraZeneca, Pfizer atau Jenssen dapat diberikan dengan dosis setengah (half dose) untuk usia 18 tahun ke atas yang diberikan setelah 6 bulan dari vaksinasi primer.
Vaksin Moderna sebagai vaksin booster memberikan kenaikan respon imun antibodi netralisasi sebesar 12,99 kali sesudah pemberian vaksin booster homolog. Adapun efek samping vaksin booster Moderna yang bisa terjadi adalah:
- Rasa lemas.
- Sakit kepala.
- Meriang atau demam.
- Mual.
Vaksin Zifivax
Vaksin Zifivax diizinkan sebagai vaksin booster heterolog dengan dosis penuh untuk yang berusia 18 tahun ke atas dan diberikan sekurang-kurangnya 6 bulan setelah mendapatkan vaksin primer dosis lengkap dari Sinovac atau Sinopharm.
Vaksin Zifivax memiliki tingkatan titer antibodi netralisir lebih dari 30 kali bagi yang telah mendapatkan dosis primer Sinovac atau Sinopharm. Efek samping yang bisa timbul setelah pemberian vaksin booster Zifivax adalah:
- Nyeri pada lokasi suntikan
- Nyeri otot atau myalgia
- Sakit kepala
- Merasa kelelahan
- Demam
- Mual
- Diare (tingkat keparahan grade satu dan dua)
- Rasa mual
Hasil evaluasi BPOM terhadap aspek keamanan lima vaksin booster atau dosis ketiga di atas menunjukkan bahwa frekuensi, jenis dan keparahan dari Kejadian Tidak Diinginkan atau KTD yang dilaporkan setelah pemberian dosis booster pada umumnya bersifat ringan dan sedang.(sumber: cnbcindonesia.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4290 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 1993 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1835 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1528 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1313 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan