Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
AS dan Iran Memanas Lagi, Ada Apa?
BERITABALI.COM, DUNIA.
Hubungan Iran dan Amerika Serikat (AS) memanas. Ini akibat kematian Mahsa Amini, yang mengundang protes keras warga di negeri Syiah itu.
Paman Sam telah berjanji "menghukum" Iran atas tindakan kerasnya melada demonstran. Itu bahkan ditegaskan langsung Presiden AS Joe Biden.
"Pekan ini, AS akan mengenakan biaya lebih lanjut pada pelaku kekerasan terhadap pengunjuk rasa damai," kata Biden dalam sebuah pernyataan dikutip dari AFP, Rabu (5/10/2022).
"Kami akan terus meminta pertanggungjawaban pejabat Iran dan mendukung hak-hak warga Iran untuk memprotes secara bebas," tambahnya.
Biden mengatakan dirinya sangat prihatin. Menurutnya ada laporan penindasan yang semakin intensif terhadap para pengunjuk rasa.
"Washington mendukung semua warga Iran yang menginspirasi dunia dengan keberanian mereka," tegasnya lagi.
Protes masal meletus setelah kematian Mahsa Amini, wanita berusia 22 tahun yang ditahan oleh oleh polisi moral Iran karena tidak menggunakan hijab secara tepat. Diketahui, Iran telah mengambil kebijakan ketat soal penggunaan hijab setelah memberlakukan Hukum Islam pasca revolusi 1979.
Pejabat Iran berdalih bahwa wanita asal Kurdistan itu meninggal pada 16 September lalu setelah menderita "serangan jantung" dan jatuh koma setelah penangkapannya.
Namun, keluarganya mengatakan dia tidak memiliki kondisi jantung yang sudah ada sebelumnya. Pihak berwenang sendiri sejauh ini telah mengatakan akan melakukan investigasi terhadap kematiannya.
Hal ini pun sontak memicu protes besar yang juga diisi wanita dalam jumlah besar. Beberapa pengunjuk rasa wanita telah melepas dan membakar jilbab mereka dalam aksi unjuk rasa dan memotong rambut mereka.
Selain itu, para demonstran wanita juga menari di dekat api unggun besar dengan tepuk tangan sambil meneriakan yel-yel. "Perempuan, hidup, kebebasan", ujar mereka.
Namun hal tersebut dibalas pemerintah dengan tindakan refresif. Sejumlah pengunjuk rasa tewas dan 1.000 ditangkap.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia juga menyuarakan keprihatinan. Dalam demo Minggu kemerin misalnya, polisi anti huru hara Iran menggunakan gas air mata dan senjata paintball terhadap ratusan mahasiswa Universitas Teknologi Sharif Teheran.
Sementara itu, Iran menuduh AS sebagai negara yang munafik. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran, Nasser Kanani, mengatakan ancaman sanksi itu sendiri merupakan pelanggaran besar terhadap bangsa Iran.
"Akan lebih baik bagi Tuan Joe Biden untuk berpikir sedikit tentang catatan hak asasi manusia di negaranya sendiri sebelum membuat gerakan kemanusiaan, meskipun kemunafikan tidak perlu dipikirkan," katanya dikutip laman yang sama.
Pernyataan ini sendiri menyambung ucapan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei. Ia sebelumnya menuduh AS dan Israel menjadi dalang dari aksi demonstrasi masal yang memprotes kematian Amani.
"Saya katakan dengan jelas bahwa kerusuhan dan ketidakamanan ini direkayasa oleh Amerika dan pendudukan, rezim Zionis palsu, serta agen bayaran mereka," katanya.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5836 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4600 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2564 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2208 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2192 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan