Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 13 Oktober 2026
Soal Prediksi Badai Dahsyat, Peneliti BRIN Minta Maaf
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Peneliti BRIN Erma Yulihastin, pada Jumat (30/12/2022) meminta maaf atas kehebohan yang terjadi akhir pekan ini setelah ia mengeluarkan peringatan akan adanya potensi badai dahsyat di Jabodetabek pada akhir 2022.
Erma, alih klimatologi pada Badan Riset dan Inovasi Nasional itu, mengakui bahwa kehebohan akibat penggunaan istilah badai dahsyat telah menjadi pelajaran berharganya bagi dirinya sebagai peneliti.
"Bahwa telah terjadi misinterpretasi publik mengenai istilah badai dahsyat, maka ini menjadi pelajaran berharga untuk saya sebagai periset agar memilih bahasa yang lebih tepat dan tidak menimbulkan makna ganda," tulis Erma di Facebook.
"Oleh karena itu saya memohon maaf atas dampak terhadap publik yang berada di luar kendali saya," imbuh dia.
Sebelumnya Erma menjelaskan bahwa penggunaan istilah badai dahsyat dalam postingannya di media sosial bertujuan untuk memberi penjelasan kepada masyarakat awam akan adanya potensi cuaca ekstrem di Jabodetabek di akhir Desember 2022.
Erma membeberkan penggunaan istilah badai dahsyat untuk menggantikan istilah ilmiah dua jenis badai di Laut Jawa dan Samudera Hindia, yakni Badai Derecho/Squall Line dan Badai MCC. Keduanya sedang intensif tejadi dan bergerak ke arah Jabodetabek.
"Bukan badai dalam pemahaman awam seperti halnya badai tornado, karena tidak mungkin terbentuk tornado di wilayah Indonesia," jelas Erma.
Lebih lanjut Erma membeberkan bahwa kedua badai tersebut memang benar terjadi sesuai dengan hasil prediksi Sadewa atau Satellite Disaster Early Warning System, sebuah sebuah sistem informasi peringatan dini bencana terkait kondisi atmosfer ekstrem yang didukung satelit dan model dinamika atmosfer.
Tetapi Erma pun mengakui bahwa prediksinya tentang badai dahsyat itu meleset karena dua alasan. Pertama adalah faktor teknis, yakni adanya masalah pada server Sadewa.
Kedua, jelas dia, adalah suhu laut di utara Jakarta mendingin sehingga pasokan uap air dan kelembapan udara tidak maksimal untuk "membuat proses konveksi mendalam" dan hasilnynya intensitas hujan tidak sampai pada kategori esktrem.
Erma Yulihastin juga menegaskan prediksi yang dibuatnya itu adalah bentuk upaya memberikan peringatan agar publik waspada dan terhindar dari bencana.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4291 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 1993 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1839 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1528 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1322 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan