Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
Kasus Gigitan Anjing Naik, Buleleng Kekurangan Dokter Hewan
BERITABALI.COM, BULELENG.
Meningkatnya kasus gigitan hewan penular rabies di Kabupaten Buleleng mulai menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan jumlah dokter hewan yang dinilai belum ideal untuk menangani ancaman rabies di wilayah dengan populasi hewan penular rabies yang tinggi.
Sorotan tersebut disampaikan Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Dhukajaya saat melakukan kunjungan ke Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Buleleng, Selasa (19/5).
“Dengan keterbatasan tenaga dokter hewan yang ada saat ini, harus diupayakan lebih banyak lagi. Tidak hanya soal anjing, tetapi juga hewan lainnya karena populasinya terus meningkat,” ujarnya saat kunjungan ke Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Buleleng.
Menurut Dhukajaya, saat ini Kabupaten Buleleng hanya memiliki 21 dokter hewan. Sebanyak 18 orang bertugas di puskeswan dan tiga lainnya ditempatkan di dinas terkait. Jumlah itu dinilai belum mampu menjangkau luas wilayah Buleleng sekaligus menangani tingginya populasi hewan penular rabies.
“Kalau idealnya, minimal setiap kecamatan punya empat sampai lima dokter hewan lapangan. Jadi setidaknta Buleleng membutuhkan 36 dokter hewan,” tegasnya.
Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian setelah muncul kasus gigitan anjing di Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, yang menyebabkan 19 warga menjadi korban. Hingga kini, anjing yang menggigit warga masih belum ditemukan oleh petugas.
Dhukajaya pun berharap Pemerintah Kabupaten Buleleng segera mengusulkan penambahan formasi dokter hewan kepada pemerintah pusat agar penanganan rabies dan penyakit hewan menular lainnya bisa lebih maksimal.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Buleleng, Gede Melandrat mengatakan pencarian terhadap anjing yang menggigit warga masih terus dilakukan bersama aparat desa dan relawan.
“Kami bersama aparat desa dan relawan masih melakukan pencarian. Seluruh korban sudah mendapatkan vaksin anti rabies sebagai penanganan awal,” katanya.
Selain melakukan pencarian, pemerintah juga terus menggencarkan vaksinasi rabies terhadap hewan penular rabies, terutama anjing. Program vaksinasi dilakukan setiap bulan untuk menekan penyebaran rabies di Kabupaten Buleleng.
Namun, keterbatasan jumlah dokter hewan membuat proses vaksinasi belum bisa berjalan maksimal. Dengan populasi anjing yang diperkirakan mencapai 24 ribu ekor, vaksinasi rabies diprediksi baru dapat diselesaikan pada akhir tahun.
"Dokter hewan kami terbatas. Selain vaksinasi rabies, dokter hewan kami juga harus fokus vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Jadi tiap kelapangan, mereka harus bawa dua jenis vaksin," kata Melandrat.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5760 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4592 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2551 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2197 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2185 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan