Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Kerauhan Massal di Bali: Mendengar Niskala, Menjaga Keselamatan

Minggu, 16 Agustus 2026, 15:08 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok beritabali.com/Kerauhan Massal di Bali: Mendengar Niskala, Menjaga Keselamatan.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Fenomena kesurupan atau kerauhan massal di Bali terjadi dalam berbagai konteks dan sering dipahami melalui perspektif budaya, spiritual, sosial, serta psikologis. Secara kronologis, salah satu kasus terjadi di SMP 4 Banjarangkan, Klungkung, pada Oktober 2019. 

Kesurupan massal dialami para siswa secara bergantian selama hampir satu bulan sehingga mengganggu proses belajar-mengajar. Untuk menangani keadaan tersebut, pihak sekolah menyelenggarakan upacara persembahyangan khusus dalam skala besar, termasuk pemedalan dan guru piduka. Upacara tersebut dilakukan untuk memohon maaf secara adat, mengembalikan ketenangan, serta menetralisasi energi negatif yang diyakini terdapat di lingkungan sekolah.

Kasus berikutnya terjadi pada Desember 2022 dan melibatkan rombongan siswa SMP asal Sleman, Yogyakarta, yang sedang mengikuti study tour di Bali. Ketika berada di area parkir sebuah pusat oleh-oleh di Gianyar, sejumlah siswa tiba-tiba mengalami kesurupan secara massal dan menunjukkan perilaku histeris. 

Menurut penjelasan yang berkembang, kejadian tersebut dikaitkan dengan tindakan siswa yang tidak sengaja menendang sesajen di kawasan Tanah Lot dan mengambil kerang dari tempat yang dianggap suci tanpa izin. Pihak sekolah kemudian menyampaikan permohonan maaf secara adat kepada pengelola kawasan suci sebagai bagian dari upaya memulihkan keadaan para siswa.

Selanjutnya, pada Februari 2026, sebanyak 15 siswi SMPN 2 Marga, Tabanan, mendadak berteriak histeris dan menari ketika mengikuti kegiatan literasi serta doa bersama di lapangan sekolah. Berdasarkan penafsiran adat setempat, kejadian tersebut dikaitkan dengan seorang siswa baru yang menghaturkan canang menggunakan dupa di area bebaturan khusus, meskipun penggunaan dupa di tempat tersebut dilarang menurut tradisi setempat.

Peristiwa terakhir terjadi pada Juni 2026 dalam audiensi Forum Hati Bali di Wantilan DPRD Provinsi Bali. Ketika akademisi dan tokoh adat menyampaikan aspirasi mengenai tata ruang dan pembangunan kawasan suci, seorang peserta tiba-tiba mengalami kerauhan. Sejumlah tokoh adat memaknai peristiwa tersebut sebagai indikator niskala atau peringatan simbolis mengenai dugaan pelanggaran dalam pengelolaan tata ruang dan kawasan suci di Bali. 

Apakah fenomena kerauhan itu sebuah pilihan?

Empat peristiwa di atas sebagai gambaran, SMP Negeri 4 Banjarangkan pada 2019, rombongan pelajar Sleman pada 2022, SMP Negeri 2 Marga pada Februari 2026, serta audiensi Forum Hati Bali pada Juni 2026, memperlihatkan pola yang serupa adanya perubahan kesadaran atau perilaku bermula pada satu orang, lalu dialami beberapa orang lain dalam ruang sosial yang sarat makna. 

Ada yang pingsan, berteriak, menangis, menari, atau berbicara dengan cara yang dipahami komunitas sebagai kerauhan. Dalam kasus sekolah, kegiatan belajar terganggu dan keluarga serta pemangku dilibatkan. Sementara dalam audiensi publik, pengalaman itu dibaca sebagai pesan simbolis tentang tata ruang dan kawasan suci. 

Sebagai psikiater komunitas dan budaya, saya tidak memulai dengan pertanyaan, “Apakah ini benar-benar niskala atau hanya psikologis?” Pertanyaan demikian memaksa dua dunia pengetahuan saling meniadakan. Pertanyaan yang lebih berguna adalah, “Apa makna pengalaman itu bagi orang yang mengalaminya, apakah ia terjadi dalam konteks ritual yang diterima, apakah orang tersebut kehilangan kendali secara involunter, adakah penderitaan, gangguan fungsi, atau bahaya, dan adakah kondisi medis, neurologis, zat, atau gangguan mental yang perlu segera ditangani?” Pengalaman spiritual dapat bermakna dan menenteramkan, sementara tubuh dan pikiran tetap layak diperiksa.

Kesamaan bentuk tidak berarti kesamaan diagnosis. International Classification of Diseases 11th Revision (ICD-11) membedakan trance disorder (6B62) dan possession trance disorder (6B63), tetapi diagnosis tidak diberikan ketika fenomena merupakan bagian yang diterima dari praktik agama atau budaya dan tidak menimbulkan distres atau gangguan bermakna. Demikian juga dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR) memiliki diagnosis mandiri bernama dissociative possession disorder, namun bentuk possession tertentu dapat muncul dalam dissociative identity disorder, sedangkan trance disosiatif lain dapat ditempatkan dalam other specified dissociative disorder. 

Sementara Cultural Formulation Interview (CFI) dari American Psychiatric Association membantu klinisi memahami definisi masalah, sebab menurut pasien, dukungan, dan cara mencari pertolongan, dimana alat ini memperkaya, bukan menggantikan, diagnosis.

Karena itu, istilah kesurupan massal sebaiknya dipakai sebagai deskripsi peristiwa, bukan vonis penyakit. Konsep mass psychogenic illness atau mass sociogenic illness dapat menjadi salah satu hipotesis bila gejala nyata menyebar dalam kelompok, tidak ditemukan paparan biologis atau toksik yang memadai, dan proses sosial-stres berperan. Psikogenik bukan berarti dibuat-buat. Gejala dialami sungguh-sungguh. Namun hipotesis tersebut hanya sah setelah keselamatan dan kemungkinan penyebab organik diperiksa, bukan karena peserta mayoritas remaja putri atau karena hasil pemeriksaan awal tampak normal.

Antara tubuh budaya, fisiologi, psikologi massa, dan institusi

Dari antropologi ragawi, tubuh bukan sekadar mesin biologis, tetapi tempat kebudayaan dirasakan dan ditampilkan. Teori embodiment memandang tubuh sebagai subjek pengalaman dimana konsep techniques of the body menjelaskan bahwa cara berdiri, bernapas, menari, menahan emosi, dan memasuki ritual dipelajari secara sosial. 

Dalam masyarakat Bali, ruang suci, sesajen, tirta, suara doa, serta otoritas pemangku membentuk ekspektasi dan perhatian tubuh. Kerauhan dapat menjadi idiom of distress, sebuah bahasa tubuh untuk tekanan yang sulit diucapkan namun juga dapat menjadi pengalaman sakral yang diterima. Kedua kemungkinan bahkan dapat hadir bersamaan. Ritual guru piduka atau pemedalan dapat memulihkan rasa tertib, relasi, dan keamanan namun manfaat sosial itu tidak membuktikan ataupun membantah mekanisme medis.

Secara fisiologi medis, keadaan trance dapat dipahami sebagai perubahan integrasi perhatian, kesadaran diri, interosepsi, arousal otonom, dan kendali gerak. Dalam situasi padat, panas, kurang tidur, lapar, dehidrasi, takut, atau hiperventilasi, seseorang dapat pingsan atau mengalami gejala sensorik dan motoric, bahkan teriakan orang pertama kemudian meningkatkan kewaspadaan peserta lain. 

Model predictive processing menjelaskan bahwa otak terus menafsirkan sensasi berdasarkan konteks dan ekspektasi. Ketika ancaman dianggap sangat mungkin, napas cepat, kesemutan, pusing, gemetar, atau rasa asing pada diri dapat memperoleh makna yang sama dan memperkuat lingkaran arousal. Ini mekanisme manusiawi, bukan kelemahan moral.

Namun pintu diagnosis tidak boleh terlalu cepat ditutup. Diagnosis banding mencakup sinkop, epilepsi terutama focal impaired-awareness seizure, delirium, hipoglikemia, gangguan elektrolit, infeksi, cedera kepala, intoksikasi atau putus zat, efek obat, gangguan tidur, psikosis, serangan panik, PTSD dan gangguan terkait trauma, dissociative identity disorder, possession trance disorder, serta functional neurological disorder/functional seizures. 

Beberapa studi menemukan gejala disosiasi lebih tinggi pada Functional Neurological Disorder (FND).  FND adalah kondisi ketika seseorang mengalami gejala neurologis yang nyata karena gangguan pada cara kerja atau fungsi jaringan otak, bukan karena kerusakan struktur otak yang dapat terlihat jelas. Kajian klinis terbaru menekankan bahwa FND harus didiagnosis melalui tanda positif dan asesmen ahli, bukan hanya karena tes organik negatif.

Tanda bahaya memerlukan respons medis segera seperti cedera, demam, sesak, nyeri dada, saturasi rendah, penurunan kesadaran berkepanjangan, kelemahan menetap, episode pertama dengan pola kejang, kebingungan setelah episode, kehamilan, kemungkinan zat atau racun, perilaku agresif, self-harm, ide bunuh diri, atau gejala psikotik yang menetap di luar episode. Pada episode mirip kejang berulang, video-EEG dapat diperlukan. Pemeriksaan harus proporsional terhadap gambaran klinis, namun pemeriksaan massal yang tidak terarah juga dapat memperbesar kecemasan.

Dari sudut pandang psikologi massa, teori sugestibilitas, emotional contagion, social learning, dan attention amplification menjelaskan bagaimana ekspresi seseorang menjadi isyarat bagi orang lain. Peserta tidak kehilangan rasionalitas begitu saja tetapi respons mereka dibentuk oleh kedekatan, ketidakpastian, identitas bersama, dan narasi yang tersedia. Remaja lebih peka terhadap evaluasi teman sebaya dan emosi kelompok. Ketika figur otoritas atau media berulang kali menegaskan ancaman, perhatian kolektif dapat memelihara gejala. Sebaliknya, pemisahan yang tenang, napas perlahan, informasi tunggal yang konsisten, dan pemulihan rutinitas dapat memutus penguatan sosial tanpa mempermalukan siapa pun.

Sementara itu secara sosiologi institusional memperlihatkan bahwa sekolah, desa adat, media, layanan kesehatan, dan pemerintah bukan hanya latar, melainkan pembentuk respons. Adanya collective effervescence untuk energi emosional yang lahir dalam pertemuan ritual, dimana institusi agama, medis, pendidikan, dan politik memakai sumber legitimasi berbeda. Pada audiensi Forum Hati Bali, kerauhan memperoleh makna politik-moral karena muncul ketika kawasan suci dibicarakan. Makna itu sah sebagai data sosial dan aspirasi, tetapi tidak boleh dipakai sendirian sebagai bukti teknis pelanggaran tata ruang. Keputusan publik tetap memerlukan kajian hukum, lingkungan, partisipasi warga, dan data spasial yang transparan.

Refleksi dan jalan kolaborasi

Apa yang kita baca diatas menjadi ruang refleksi bersama dalam merawat manusia lebih baik. Kita perlu menempatkan keselamatan, penderitaan, martabat, dan kebutuhan orang yang mengalami kerauhan di atas perdebatan mengenai apakah peristiwa tersebut disebabkan oleh faktor niskala, psikologis, sosial, atau medis. Kita tidak harus terlebih dahulu memenangkan satu penjelasan untuk mulai menolong.

Dalam praktiknya, orang yang mengalami kerauhan harus diamankan dari cedera, ditenangkan tanpa kekerasan, diperiksa tanda-tanda kegawatdaruratannya, serta didengarkan tanpa dilabeli pura-pura, kurang iman, atau gangguan jiwa. Penjelasan spiritual yang diyakini individu dan keluarganya tetap dihormati, sementara kemungkinan epilepsi, sinkop, intoksikasi, gangguan disosiatif, FND, trauma, atau kondisi medis lainnya tetap diperiksa secara proporsional. Upacara adat, doa, tirta, pendampingan pemangku, pemeriksaan medis, dan dukungan psikologis dapat berjalan berdampingan selama semuanya aman dan tidak menunda pertolongan yang diperlukan.

Bagi masyarakat dan keluarga, langkah pertama ialah menciptakan ruang aman dan teduh. Jauhkan benda berbahaya, longgarkan pakaian, miringkan bila kesadaran menurun dan napas masih ada, jangan menahan tubuh dengan kekerasan, jangan memasukkan benda atau cairan ke mulut, dan jangan memukul. Kurangi kerumunan serta perekaman video dan satu orang yang dipercaya berbicara perlahan. Bila ada tanda bahaya, hubungi layanan kesehatan. Setelah pulih, tanyakan dengan hormat apa yang dialami, apa maknanya, dan apakah ada stres, trauma, konflik, kurang tidur, atau ketakutan. 

Bagi pemuka adat dan penyembuh tradisional, posisi mereka sangat strategis karena kepercayaan sering datang lebih dahulu kepada mereka. Upacara dapat berjalan berdampingan dengan pertolongan pertama dan rujukan. Kesepakatan sederhana dapat dibuat, dimana ritual dilakukan tanpa kekerasan, pembakaran, pencekikan, restriksi berkepanjangan, atau penghentian obat. Pemangku mengenali tanda bahaya dan tenaga kesehatan menghormati doa, tirta, dan keterlibatan keluarga selama aman. Dengan persetujuan individu, CFI dapat dilakukan bersama informan budaya. Kolaborasi semacam ini bukan subordinasi salah satu sistem, melainkan pembagian peran demi keselamatan.

Bagi sekolah, perlu protokol dua jalur yaitu keselamatan medis dan respons budaya. Tim terlatih menilai airway, breathing and circulation (ABC), glukosa bila tersedia, cedera, paparan lingkungan, serta red flags. Peserta yang terdampak dipindahkan secara tenang ke ruang berbeda. Informasi disampaikan oleh satu juru bicara, rumor tidak diperdebatkan di depan siswa, media dibatasi, orang tua diberi penjelasan yang tidak menyalahkan. Sesudah kejadian, lakukan debriefing sukarela, skrining stres/trauma secara privat, dukungan konselor, dan kembalikan rutinitas bertahap. Catat waktu, lokasi, gejala, konsumsi, paparan, dan hubungan antarkasus untuk investigasi tanpa menyebarkan identitas anak.

Bagi pemerintah, Bali memerlukan pedoman lintas sektor yang disusun bersama Dinas Kesehatan, Pendidikan, PHDI, Majelis Desa Adat, rumah sakit, puskesmas, BPBD, akademisi, serta organisasi profesi. Bentuklah rapid response team kabupaten dengan algoritme triase, jalur rujukan neurologi-psikiatri, komunikasi risiko, dan perlindungan anak. Bangun registri anonim agar pola dapat dipelajari: siapa terdampak, konteks, gejala, durasi, pemeriksaan, intervensi, dan hasil. Penelitian prospektif mixed-methods berupa wawancara etnografis, asesmen klinis, fisiologi sederhana, dan pemetaan jejaring sosial akan lebih bernilai daripada spekulasi sesudah kejadian.

Pelajaran terbesarnya sederhana bahwa kebudayaan bukan gangguan yang harus disembuhkan, dan kedokteran bukan ancaman bagi kesakralan. Kita dapat menghormati niskala sambil memeriksa gula darah, memberi ruang bagi pemangku sambil menjaga jalan napas, mendengar pesan simbolis sambil menuntut bukti untuk kebijakan. Dalam titik temu itulah komunitas dan budaya bekerja, bukan menentukan siapa paling benar, melainkan memastikan tidak ada manusia yang dipermalukan, dilukai, atau terlambat ditolong. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami