Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 8 Oktober 2026
Suryani Institute dan Psikiatri Udayana Edukasi Kesehatan Mental 170 Siswa SMP Albanna
Bahas Gadget dan Bullying
beritabali/ist/Suryani Institute dan Psikiatri Udayana Edukasi Kesehatan Mental 170 Siswa SMP Albanna.
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Suryani Institute for Mental Health berkolaborasi dengan Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan mental bagi 170 siswa SMP Albanna Denpasar di Ruang Pertemuan A. A. Made Djelantik, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Rabu (7/10/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi kesehatan mental sejak usia remaja, khususnya dalam membantu siswa memahami perubahan psikologis pada masa perkembangan, membangun pola penggunaan gadget yang sehat, serta mengenali dan mencegah berbagai bentuk perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp.KJ(K), MARS, selaku Direkur Suryani Institute for Mental Health sekaligus Koordinator Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, serta Kepala SMP Albanna Denpasar, Sariwati, S.Pt., M.Pd.
Prof. Cokorda menekankan pentingnya memberikan pemahaman mengenai kesehatan mental sejak usia sekolah. Menurutnya, masa remaja merupakan periode perkembangan yang penting, ketika individu menghadapi berbagai perubahan dalam aspek biologis, psikologis, maupun sosial.
“Literasi kesehatan mental perlu dibangun sejak remaja agar anak-anak mampu mengenali kondisi dirinya, memahami perubahan emosi yang dialami, serta mengetahui kapan dan kepada siapa mereka dapat mencari bantuan. Sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial memiliki peran yang sama pentingnya dalam menciptakan ruang yang aman bagi remaja untuk tumbuh dan berkembang,” ujar Prof. Cokorda.
Materi pertama mengenai “Mental Health pada Remaja” disampaikan oleh dr. Ayu Indra Rumpa. Para siswa diperkenalkan pada konsep kesehatan mental sebagai kondisi yang tidak hanya berarti terbebas dari gangguan jiwa, tetapi juga mencakup kemampuan seseorang untuk berfungsi secara emosional, sosial, dan psikologis, menghadapi stres sehari-hari, membangun hubungan yang sehat, serta mengembangkan potensi dirinya.

Masa remaja juga dijelaskan sebagai periode perkembangan yang khas, ditandai dengan perubahan fisik dan hormonal, perkembangan cara berpikir, pembentukan identitas diri, perubahan emosi, serta semakin besarnya peran teman sebaya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kesehatan mental bersifat dinamis. Ada saatnya kita merasa baik dan produktif, tetapi ada pula saatnya kita merasa lelah, sedih, cemas, atau menghadapi tekanan. Yang penting adalah remaja mampu mengenali apa yang sedang dirasakan, memiliki cara yang sehat untuk mengelola stres, dan tidak ragu mencari bantuan ketika masalah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari,” jelas dr. Ayu Indra Rumpa.
Baca juga:
Suryani Institute dan FK Unud Edukasi Kesehatan Mental Mahasiswa UIN Walisongo Lewat Meditasi
Ia menambahkan bahwa kemampuan mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat merupakan keterampilan penting yang perlu dibangun sejak remaja. Dengan pemahaman yang baik, siswa diharapkan tidak hanya lebih peka terhadap kondisi dirinya sendiri, tetapi juga mampu memberikan dukungan yang tepat ketika melihat teman sedang mengalami kesulitan.
Materi berikutnya mengenai “Adiksi Gadget” disampaikan oleh dr. Komang Pande Pradana. Topik ini diberikan mengingat gadget telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja, baik untuk belajar, berkomunikasi, memperoleh informasi, maupun sebagai sarana hiburan.
Dalam materi dijelaskan bahwa adiksi berkaitan dengan ketidakmampuan seseorang untuk menghentikan penggunaan suatu zat atau perilaku hingga menimbulkan gangguan psikologis maupun fisik. Penggunaan gadget perlu mendapat perhatian ketika mulai sulit dikendalikan, dilakukan secara berlebihan meskipun mengetahui risikonya, serta mulai berdampak terhadap kesehatan, hubungan sosial, maupun prestasi sekolah.
“Gadget memberikan banyak manfaat dan tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Hal yang perlu dibangun adalah kemampuan mengendalikan penggunaannya. Remaja perlu memiliki batas yang sehat agar penggunaan gadget tidak mengganggu waktu belajar, tidur, aktivitas fisik, hubungan dengan keluarga, maupun interaksi dengan teman,” terang dr. Komang Pande Pradana.
Para siswa juga diberikan langkah-langkah praktis untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, seperti membuat aturan waktu penggunaan, menghindari penggunaan gadget ketika belajar kecuali untuk kepentingan tugas, mengurangi penggunaan sebelum tidur, serta memanfaatkan fitur pembatas waktu layar.
Penyuluhan kemudian dilanjutkan oleh Dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, dr., Sp.K.J.(K) dengan materi “Bullying dan Dampak Bullying terhadap Mental Health”.
Dalam paparannya, siswa diajak memahami bahwa bullying berbeda dengan konflik biasa antarteman. Perundungan ditandai oleh perilaku menyakiti yang dilakukan secara sengaja dan berulang, disertai adanya ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban.
Bentuknya pun tidak terbatas pada kekerasan fisik. Bullying dapat berupa ejekan, hinaan atau julukan yang merendahkan, pengucilan sosial dan penyebaran rumor, maupun cyberbullying melalui media sosial dan aplikasi pesan.

“Bullying bukan persoalan sepele dan tidak seharusnya dinormalisasi sebagai bagian dari pergaulan. Dampaknya dapat memengaruhi rasa aman, kepercayaan diri, prestasi akademik, bahkan kesehatan mental seorang anak. Karena itu, pencegahan bullying membutuhkan keterlibatan bersama antara siswa, sekolah, guru, dan keluarga,” jelas Dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, dr., Sp.K.J.(K)
Menurutnya, lingkungan sekolah yang aman perlu dibangun melalui budaya saling menghargai, keberanian melaporkan perundungan, serta kepedulian terhadap teman yang menjadi korban. Materi juga menekankan agar siswa tidak diam ketika menyaksikan perundungan, tidak ikut melakukan atau memperkuat tindakan tersebut, dan berani meminta bantuan kepada guru maupun orang tua.
Salah satu pertanyaan yang muncul adalah apakah komentar mengenai bentuk tubuh atau warna kulit seseorang dapat termasuk bullying. Siswa juga menanyakan batas antara relasi senior dan junior yang wajar dengan perilaku yang sudah dapat dikategorikan sebagai perundungan.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, dr., Sp.K.J.(K) menjelaskan bahwa suatu perilaku perlu dilihat berdasarkan konteksnya, termasuk adanya unsur menyakiti, pengulangan, serta ketimpangan kekuatan. Hubungan senior dan junior sendiri tidak serta-merta merupakan bullying, namun senioritas tidak boleh digunakan sebagai pembenaran untuk merendahkan, mengintimidasi, mempermalukan, atau menyakiti orang lain.
“Dalam berinteraksi, kita perlu belajar menghargai batasan orang lain. Sesuatu yang dianggap bercanda oleh satu orang dapat dirasakan menyakitkan oleh orang lain. Karena itu, empati menjadi sangat penting. Ketika seseorang sudah menunjukkan atau mengatakan bahwa dirinya tidak nyaman, kita harus mampu menghormati dan menghentikannya,” jelasnya.
Salah seorang siswa mengatakan kegiatan tersebut membuatnya lebih memahami bahwa menjaga kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan diri sendiri, tetapi juga dengan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.
“Saya jadi lebih memahami bahwa ucapan yang menurut kita biasa saja bisa membuat teman merasa tidak nyaman. Dari materi hari ini saya belajar untuk lebih berhati-hati dalam bercanda, lebih menghargai teman, dan kalau ada masalah sebaiknya berani bercerita kepada orang yang dipercaya,” ungkap salah seorang peserta.
Melalui kegiatan ini, Suryani Institute for Mental Health bersama Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana berharap para siswa memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kesehatan mental sekaligus keterampilan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Edukasi sejak usia sekolah diharapkan dapat menjadi salah satu langkah promotif dan preventif dalam membangun generasi muda yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga mampu mengenali emosinya, menggunakan teknologi secara bijak, membangun hubungan sosial yang sehat, serta menciptakan lingkungan pertemanan yang bebas dari perundungan.
Kesehatan mental remaja bukan hanya tanggung jawab individu. Dukungan keluarga, sekolah, teman sebaya, tenaga kesehatan, dan lingkungan yang aman menjadi fondasi penting agar setiap remaja dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1494 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1252 Kali
Konsensus Politik Tanpa Musuh Era Prabowo Subianto
Dibaca: 702 Kali
Dermaga MB 2 Diperbaiki, Antrean Gilimanuk Mengular 400 Meter
Dibaca: 586 Kali
Desa Batuan Gianyar Raih Juara I Learning Village Dunia
Dibaca: 583 Kali
ABOUT BALI
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung