Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID: —


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Viral Kebakaran Hutan Cekik, TNBB Sebut Ada Tanaman Invasif

Sabtu, 24 Oktober 2026, 18:34 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Viral Kebakaran Hutan Cekik, TNBB Sebut Ada Tanaman Invasif.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Video yang memperlihatkan lahan seluas 1,2 hektare di kawasan hutan Cekik, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, terbakar viral di media sosial. Peristiwa ini menjadi perhatian publik setelah muncul informasi mengenai rencana penggantian tanaman di kawasan tersebut dengan rumput.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Adang Bayu Pamungkas, saat dikonfirmasi Sabtu (24/10/2026), membenarkan adanya kegiatan pembersihan lahan di kawasan tersebut.

Adang menjelaskan, pada Senin (12/10/2026), ditemukan beberapa titik api di sekitar kawasan Cekik yang diduga berasal dari aktivitas pencari madu.

Tim Manggala Agni TNBB kemudian melakukan pemadaman. Untuk mencegah api meluas, petugas Resor Gilimanuk selanjutnya membersihkan sejumlah tanaman yang dinilai berpotensi menjadi bahan penyebaran api.

"Melihat ada beberapa titik lahan yang terbakar, kemudian dilakukan pemadaman oleh tim Manggala Agni TNBB. Selanjutnya oleh petugas Resor Gilimanuk untuk antisipasi jangan terjadi kebakaran meluas dilakukan pembersihan lahan yang jadi potensi penyebaran api, jenis krinyu dan tanaman kerasi tersebut," jelas Adang.

Sementara itu, Kepala Seksi Wilayah I TNBB, Isai Yusidarta, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan habitat untuk mengembalikan ekosistem asli hutan Cekik.

Menurut Isai, tanaman kerasi dan krinyu yang tumbuh di kawasan tersebut bukan tanaman asli, melainkan spesies asing invasif yang perlu dikendalikan.

Ia menjelaskan, ekosistem asli kawasan hutan Cekik berupa padang savana atau padang rumput. Karena itu, TNBB melakukan pembinaan habitat dengan membabat tanaman kerasi dan krinyu, kemudian menumpuknya dalam ukuran kecil sebelum dilakukan pembakaran terkendali.

"Biji rumput padang savana akan ditebar ketika musim hujan dimulai dengan harapan biji rumput padang savana bisa tumbuh bagus. Dan ekosistem asli hutan Cekik berupa padang savana dapat kembali lagi sesuai dengan definisi Taman Nasional," pungkasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/jbr



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami