Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
Galungan Tanpa Penjor, Penglipuran Utamakan Empati dan Kebersamaan
BERITABALI.COM, BANGLI.
Perayaan Hari Raya Galungan 2026 di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, menghadirkan pemandangan yang tidak biasa. Jika pada tahun-tahun sebelumnya deretan penjor menghiasi setiap sudut desa adat yang terkenal sebagai destinasi wisata budaya tersebut, kali ini suasana terlihat lebih sederhana karena warga memilih tidak memasang penjor.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Masyarakat Desa Adat Penglipuran sepakat meniadakan pemasangan penjor sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu warga yang baru saja meninggal dunia. Langkah itu juga menjadi wujud solidaritas terhadap keluarga yang masih berada dalam suasana duka.
Manager Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, menjelaskan bahwa keputusan tersebut lahir dari nilai kebersamaan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
“Dalam kehidupan bermasyarakat, suka dan duka merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Ketika ada warga yang mengalami kedukaan, seluruh masyarakat ikut menghormati dan menunjukkan rasa empati,” ujar Sumiarsa, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, tradisi yang dijalankan masyarakat Penglipuran tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan upacara dan simbol-simbol budaya semata. Lebih dari itu, masyarakat juga menempatkan nilai kemanusiaan sebagai bagian penting dalam kehidupan adat sehari-hari.
Karena itu, meski tidak dihiasi penjor seperti biasanya, pelaksanaan Hari Raya Galungan tetap berlangsung khidmat dan penuh makna. Warga tetap menjalankan seluruh rangkaian persembahyangan sesuai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Sumiarsa menegaskan bahwa kesakralan Hari Raya Galungan tidak berkurang hanya karena tidak adanya penjor. Justru keputusan tersebut menjadi cerminan bagaimana masyarakat adat mampu menjaga keseimbangan antara pelaksanaan tradisi dan kepedulian sosial.
“Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai kebersamaan, rasa peduli, dan solidaritas antarwarga. Tradisi tetap berjalan, namun masyarakat juga tetap menghargai kondisi sosial yang ada,” katanya.
Sebagai salah satu desa wisata terbaik di Bali, Penglipuran selama ini dikenal luas karena keberhasilannya menjaga tata ruang, budaya, dan tradisi masyarakat adat secara konsisten. Desa ini tidak hanya menawarkan keindahan lingkungan yang tertata rapi, tetapi juga memperlihatkan kuatnya nilai sosial yang masih hidup di tengah masyarakat.
Menurut Sumiarsa, pelestarian budaya sejatinya tidak hanya diwujudkan melalui simbol atau bentuk fisik tradisi. Nilai-nilai seperti gotong royong, saling menghormati, dan kepedulian terhadap sesama juga menjadi bagian penting yang harus terus dijaga.
“Desa Penglipuran terus berkomitmen menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi, kehidupan sosial masyarakat, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan,” jelasnya.
Perayaan Galungan tahun ini pun menjadi pengingat bahwa kekuatan budaya Bali tidak hanya tercermin dari kemeriahan upacara dan ornamen tradisional, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya menjaga harmoni, solidaritas, serta rasa kemanusiaan dalam setiap situasi kehidupan.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/bgl
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5707 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4587 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2542 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2193 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2183 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan