Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Minggu, 25 Oktober 2026
Jadi Sentra Budidaya Jeruk, Petani Kintamani Perlu Ubah Pola Tanam
Selasa, 25 Agustus 2015,
08:00 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, BANGLI.
Beritabali.com, Kintamani. Petani Kintamani diharapkan mulai melakukan perubahan terhadap pola tanam jeruk. Menyusul ditetapkannya kawasan Kintamani sebagai sentra budidaya jeruk, khususnya jeruk siem. Sebagai sentra budidaya jeruk tentunya pengembangan jeruk di wilayah kintamani harus memberikan hasil maksimal.
“Seperti wilayah Desa Katung dengan ketinggian rata-rata diatas 500 mdpl sangat cocok sebagai tempat pengembangan jeruk siem” kata Peneliti Pertanian Universitas Udayana Prof. Dr. Ir. Made Adnyana, MS saat melakukan penyuluhan budidaya jeruk di Desa Katung Kintamani Bangli (22/8/2015).
Adnyana mengingatkan petani juga perlu memperhatikan jarak tanam, karena selama ini jarang tanam adalah 3 x 3 meter. Padahal seharusnya jarak tanam yang baik untuk tanaman jeruk adalah 5 x 5 meter. Mengingat jika jarak antar tanaman sangat rapat tentu tidak baik karena tanaman tidak akan maksimal mendapatkan sinar matahari.
“Jika terlalu rapat tanaman kurang mendapatkan sinar matahari, ini akan mengganggu proses fotosintesis” jelas Adnyana.
Adnyana menyampaikan pada proses pemeliharaan tanaman petani juga perlu memperhatikan proses pemupukan. Setidaknya petani melakukan pemupukan setiap bulan, namun selama ini petani sangat jarang melakukan pemberian pupuk secara rutin. Demikian juga saat melakukan penyiraman harusnya saat menyiram jangan sampai air menggenangi batang akar.
Sementara petani jeruk asal Desa Katung Nyoman Tumpel mengakui jarak tanam yang rapat dilakukan dengan harapan hasil yang lebih maksimal. Namun kenyataanya buah buah yang dihasilkan sangat jarang. Begitu juga pemupukan tiap bulan sangat sulit dilakukan, biasanya pemupukan dilakukan hanya dilakukan 6 bulan sekali.
“Kalau pemupukan sebulan sekali sulit dilakukan, paling yang bias 6 bulan sekali” ujar Nyoman Tumpel.
Petani Berharap Ada Pabrik Pengolahan Jeruk
Petani jeruk di Desa Katung - Kintamani Bangli berharap adanya pabrik pengolahan jeruk di kawasan Kintamani. Para petani berharap dapat lebih mudah menjual jeruk saat hasil panen melimpah. Sebab selama ini para petani merasa dipermainkan oleh para tengkulan.
Petani Jeruk Desa Katung-Kintamani Bangli Ketut Redes pada Sabtu (22/8/2015) di Kintamani mengatakan selama ini harga jeruk ditingkat petani sering dipermainkan oleh para tengkulak. Para tengkulak cenderung memberikan informasi yang menyesatkan dengan mengatakan harga jeruk jatuh karena masa panen.
“Mereka memang membeli dengan sistem garuk, dengan harga jeruk di petani hanya Rp. 3000 perkilogram,” kata Redes.
Menurut Redes, jika ada pabrik pengolahan jeruk di Kintamani maka akan sangat efektif dan menguntungkan bagi petani. Terutama untuk menjual jeruk yang kualitas paling rendah. Dengan adanya pabrik pengolahan setidaknya jeruk kualitas rendah tersebut dapat diolah menjadi jus atau minuman kemasan. Selain itu petani menjadi tidak tergantung dengan tengkulak dan bias mendapatkan harga jual yang lebih layak.
“Selama ini para petani sering dipermaikan oleh para tengkulak,” tegas Redes.
Redes mengungkapkan selama ini beberapa petani jeruk mencoba menjual hasil panen ke pasar. Kenyataanya jeruk yang dibawa ke pasar tidak laku dan kembali dibawa pulang. Akhirnya para tengkulak bebas mempermainkan harga jeruk. [bbn/muliarta]
Berita Bangli Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5677 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4587 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2527 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2191 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2183 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026