Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
Pemilu 2014 Dibayangi Demokrasi Wani Piro
jakarta
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Beritabali.com, Jakarta. Pemilu 2014 dibayangi politik uang yang populer disebut 'demokrasi wani piro'. Demokrasi di Indonesia baru sebatas dari rakyat oleh rakyat untuk politisi, pejabat dan pengusaha. Rakyat tak mendapatkan apa-apa. Mengapa?
Tokoh Malari Hariman Siregar menandaskan hal itu karena para elite politik dan bisnis telah membajak demokrasi konstitusional menjadi sekadar demokrasi prosedural berbau sangit finansial. “Maka muncul istilah berani bayar berapa, wani piro,” katanya.
Untuk itu, bangsa kita harus berusaha menghindari fenomena meluasnya ‘Demokrasi Wani Piro’ yang kini menjadi gunjingan di masyarakat. Sebab, demokrasi prosedural dengan biaya tinggi (berani berapa bayarnya, wani piro) itu sangat merusak etika politik dan mendistorsi semangat publik untuk berdemokrasi dan berkonstitusi dengan baik.
Seolah uang kini segalanya, maka praktik demokrasi seperti pemilu legislatif, pilkada dan pilpres dibayangi politik uang berani bayar berapa (wani piro), yang merusak demokrasi substansial secara menyesatkan dan mengkhawatirkan.
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Sidarto Danusubroto menilai proses politik di Indonesia untuk mencapai demokrasi yang substansial masih jauh. Saat ini yang kondisi politik yang berkembang di Indonesia justru adalah 'demokrasi wani piro'. "Demokrasi wani piro itu betul-betul terlalu. Tidak usah kita takuti, tapi memang itu yang ada kok," ujar Sidarto kemarin.
Saat ini, katanya, banyak rakyat Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Karena itu menurut Sidarto, politik jual beli suara dalam pemilu ataupun pilkada tidak dapat terhindarkan.
Pemilu legislatif butuh modal, Pilkada butuh modal. Di level kabupaten, kira-kira butuh Rp5-10 miliar. Pilkada Gubernur Rp30 miliar atau di atas itu. “Terus terang saya malu menyebutkannya. Menang atau kalah pun belum selesai. Menang bisa dikorek-korek, kalah masih bisa ke MK," imbuh Sidarto.
Demokrasi memerlukan pers yang kuat, hukum yang kuat, kelas menengah yang independen dan partai yang menjalankan politik dengan benar. Namun sistem demokrasi di Indonesia belum mencapai substansi, melainkan hanya menjalankan prosedur.
"Demokrasi kita hanya prosedural saja, bukan melaksanakan aspirasi rakyat. Ujung-ujungnya ya soal duit, wani piro tadi, nggak ada gunanya," tambah Hariman Siregar.
Sampai kapan berlangsungnya 'demokrasi wani piro'? Jawabannya terpulang pada rakyat sendiri, sampai kapan mampu menahan diri di tengah kesulitan hidup yang mencekam kini. [berbagai sumber]
Reporter: -
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5729 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4587 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2545 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2194 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2185 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan