Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
Sampah Daun Bambu Jadi Pupuk, Penglipuran Siapkan Wisata Berbasis Pengolahan Sampah
BERITABALI.COM, BANGLI.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap persoalan sampah, Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli terus memperkuat sistem pengelolaan lingkungan berbasis kearifan lokal.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengolah sampah daun bambu menjadi pupuk organik yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan sektor pariwisata.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen Desa Adat Penglipuran dalam menjaga kawasan desa wisata tetap bersih, asri, dan ramah lingkungan. Pengelolaan sampah yang baik dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas destinasi wisata yang telah dikenal hingga mancanegara.
Salah seorang warga Penglipuran, I Nengah Cana, menjelaskan bahwa proses pengolahan dimulai dengan memilah dan mengumpulkan daun bambu kering yang banyak ditemukan di kawasan desa. Selanjutnya, daun-daun tersebut dicacah menjadi ukuran lebih kecil agar proses pembusukan dapat berlangsung lebih cepat.
Setelah dicacah, daun bambu dicampur dengan pupuk kandang untuk mempercepat proses penguraian bahan organik. Campuran tersebut kemudian difermentasi selama sekitar 10 hari hingga siap digunakan sebagai pupuk organik.
Menurutnya, pupuk hasil pengolahan sampah daun bambu tidak hanya dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman milik warga, tetapi juga memiliki nilai jual yang dapat menambah manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Sementara itu, Manager Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengatakan keberhasilan pengelolaan limbah organik tersebut menjadi modal penting untuk pengembangan wisata edukasi lingkungan di masa mendatang.
Ia menjelaskan, proses pengolahan sampah yang selama ini dilakukan akan diperkenalkan kepada wisatawan sebagai salah satu bentuk edukasi tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan benar.
"Dengan konsep tersebut, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan dan keasrian Desa Wisata Penglipuran, tetapi juga memperoleh pengetahuan mengenai praktik nyata pelestarian lingkungan yang dilakukan masyarakat setempat," katanya, Senin (01/06/2026).
Pengembangan wisata edukasi pengelolaan sampah ini diharapkan mampu memperkuat citra Penglipuran sebagai desa wisata berkelanjutan yang mengedepankan keseimbangan antara pelestarian lingkungan, budaya, dan ekonomi masyarakat.
Melalui kolaborasi dan komitmen bersama, sampah yang selama ini dianggap sebagai sumber permasalahan dapat diubah menjadi sumber manfaat yang bernilai ekonomi sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan wisatawan mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/bgl
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5653 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4583 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2517 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2184 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2178 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan