Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
Saya Sudah Biasa Mandiri dan Miskin
Besang
BERITABALI.COM, KLUNGKUNG.
Bali identik dengan daerah tujuan wisata internasional berikut 'berkah' dollarnya. Namun di balik semua itu, ternyata masih ada warga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Salah satu warga yang hidup sebatang kara dan juga miskin, adalah Pekak atau kakek Wayan Darma (90).
Ditemui Selasa (22/7), pekak Darma tampak sedang sendirian di gubuknya, di Desa Besang Tengah, Kecamatan Klungkung. Gubuk ini tidak tepat disebut rumah karena hanya berukuran 1,5 x 2 meter dengan ketinggian atap kurang dari 2 meter.
Gubuk tempat tinggalnya sungguh sangat memprihatinkan, dimana terdapat lubang di sana-sini. Kondisi dapur pekak Darma juga sama memprihatinkan, berukuran sama dengan gubuk tempat tidurnya.
Di dalam dapur hanya ada peralatan memasak berupa panci dan ketel untuk memasak air.
Meski sudah berusia uzur, pekak ini masih ingat masa lalunya dengan baik. Menurut Darma, orang tuanya bernama Pan Seririt dan Ni Ketut Sada.
Sebagai anak tunggal yang ditinggal mati orang tuanya semenjak kecil, Pekak Darma sudah hidup mandiri. Salah satu pekerjaan yang masih dilakukannya sampai saat ini adalah mencari semak 'ata', bahan untuk tali dari tumbuhan menjalar.
"Hasil dari menjual 'ata' tersebut untuk hidup sehari-hari. Dulu waktu saya muda, saya bisa memanjat pohon kelapa hingga 25 pohon sehari," katanya.
Semasa mudanya, Pekak Darma juga masih ingat betul ikut kerja Rodi pada jaman penjajahan Belanda dulu. "Sewaktu saya kerja Rodi saya sudah berumur 25 tahun," ujarnya.
Begitu pula pada saat penjajahan Jepang, Pekak Darma pernah diangkat menjadi senandan (Hansip sekarang).
Ketika ditanya soal kehidupan pribadinya, Pekak Darma mengaku tidak menyesal untuk tidak menikah sampai sekarang. "Kalau saya cari cewek pasti dapat, tapi saya tidak ada keinginan untuk menikah," ungkapnya.
Untuk bersembahyang di pura keluarga yang diwarisinya, pekak melaksanakan ritual itu sendiri termasuk menyiapkan sesaji.
"Semuanya masih saya ingat dengan baik, tetapi penyakit rematik yang sering kumat membuat saya tidak bisa bekerja maksimal," pungkasnya. (igs)
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5698 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4587 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2536 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2192 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2183 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan