Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 2 Oktober 2026
Sistem Pilah, Cacah, dan Olah Dinilai Pecahkan Masalah Sampah di Bali
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Akademisi Universitas Udayana membuat inovasi untuk menekan jumlah volume sampah sekaligus memberi nilai tambah bagi masyarakat di saat pandemi Covid-19, yakni dengan sistem pengelolaan Pilah, Cacah dan Olah.
Sistem tersebut diperkenalkan oleh Dr Ir I GN Nitya Santhiarsa, MT, Ketua Pelaksana Udayana Mengabdi, dengan beranggotakan 3 orang lainnya, Dr I GA Alit Suryawati, SSos, MSi, Ir NM Dwidiani MASc, dan Prof Dr TG Tirta Nindhia,ST, MT.
"Sistem ini saya yakin baru, meskipun sebagian masyarakat sering mendengar kata-kata tersebut," Dr Ir I GN Nitya Santhiarsa,MT, Selasa,(1/9) di Denpasar.
Dijelaskan dalam hal ini masyarakat sebagai pemilik sampah memiliki tangung jawab memilah sendiri yang selanjutnya dengan proses cacah. Sehingga proses berikutnya akan lebih mudah diolah dan dijadikan pupuk, fertilizer, dan bahan bakar padat yaitu, briket, bahan bakar cair dan biogas.
"Jadi bisa dikatakan sampah kedepan bukan masalah lagi, tapi bisa menjadi berkah. Tentu itu tergantung dari paradigma kita," ujarnya.
Ia menekankan sistem yang diperkenalkan ini tidak menonjolkan pada teknologi alat, melainkan sistem yang disebut ekonomi sirkuler atau ekonomi yang bersiklus.
"Jadi, tidak ada suatu barang pun dalam ekonomi sirkuler terbuang atau tidak terpakai. Jadi, semua berguna atau bermanfaat dari siklus yang dilakukan," jelasnya.
Ia menambahkan semua proses mengikuti siklus alami seperti siklus alam sehingga tidak ada bahan yang berbahaya dari sistem yang dikembangkan tersebut. Sementara, untuk pengembangan di Bali secara masif, menurutnya sangat memungkinkan bisa dilakukan. Mengingat tujuan utamanya adalah untuk mampu menekan jumlah volume sampah.
Namun, kata dia, hal paling penting adalah mampu memberdayakan masyarakat di TPS di hulu dan meringankan beban pemerintah juga, karena pembuangan sampah ke TPA mampu berkurang dari sebelumnya.
"Harapan kami setidaknya setiap Banjar di desa adat yang memiliki Bumda setidaknya dapat mengikuti sistem seperti ini. Yang mana, sistem ini sangat layak dan sangat mudah diterapkan di tengah masyarakat," harapnya.
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Dermaga MB 2 Diperbaiki, Antrean Gilimanuk Mengular 400 Meter
Dibaca: 266 Kali
Bandara Ngurah Rai Layani 15,5 Juta Penumpang hingga Agustus 2026
Dibaca: 208 Kali
Rumah Warga di Tembuku Bangli Terbakar, Kerugian Rp200 Juta
Dibaca: 200 Kali
Desak Rita Raih Emas dan Pecahkan Rekor Asian Games 2026
Dibaca: 185 Kali
Karyawan Toko di Sukawati Curi Rp73 Juta, Kabur ke Banyuwangi
Dibaca: 172 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar