Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 2 Oktober 2026
Latih Sensivitas, Puluhan Siswa SD Ikuti Lomba Mewarnai di PKB
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Puluhan anak-anak asyik mengikuti wimbakara (lomba) mewarnai serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022 di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), Kamis (23/6/2022).
Lomba mewarnai bisa menjadi salah satu cara untuk melatih sensivitas anak dalam memberi sentuhan rasa ke dalam karya seni.
Dengan berpakaian adat Bali, anak-anak yang berlomba ditaksir berusia 10-13 tahun, lantaran kriteria peserta yang dipersyaratkan oleh panitia PKB adalah siswa SD kelas IV, V, dan VI. Total ada 43 siswa-siswi yang ikut lomba tersebut. Mereka membawa peralatan masing-masing.
Seluruh siswa sudah disediakan gambar yang sama oleh panitia, tinggal mereka bebas mengaplikasikan teknik mewarnai. Para siswa terlihat sibuk memainkan warna crayon.
Ada yang mewarnai dengan gaya duduk santai, ada juga yang selonjoran. Anak-anak terlihat sangat menikmati jalannya lomba yang berlangsung selama tiga jam itu. Tentunya, masing-masing siswa wajib didampingi oleh pendamping yang duduk di area tribun kalangan.
Ada tiga juri yang menilai lomba mewarnai tersebut antara lain I Made Jodog M.FA, Drs. I Dewa Putu Gede Budiarta S.Sn M.Si, dan Nyoman Dewi Febriyani S.T M.A Ph.D. salah satu juri, I Made Jodog mengungkapkan, ada tiga kriteria yang dinilai antara lain gagasan dan kreativitas, teknik mewarnai, serta kerapian dan kebersihan.
Mengenai kreativitas dan teknik, kata Jodog, merupakan satu kesatuan. Maksudnya, kreativitas anak dalam mengombinasikan warna dan teknik pengaplikasianya ke dalam gambar agar sebuah karya menjadi indah dipandang dan juga terjadi keharmonisan warna di dalamnya.
“Para peserta boleh menambahkan bentuk-bentuk yang sesuai dan mendukung gambar tersebut. Pada intinya, pengolahan warna menjadi hal yang sangat mendasar. Bagaimana pewarnaan itu bisa menghasilkan suatu karya yang harmonis. Akan tetapi, kadang-kadang warna-warna yang komplementer itu juga bisa menghasilkan karya yang harmonis dalam penciptaan,” paparnya.
Dosen seni rupa murni ISI Denpasar ini melanjutkan, mewarnai memiliki manfaat untuk melatih sensivitas anak dalam menuangkan warna ke dalam karya seni lukis. Namun untuk bisa menghasilkan karya yang harmonis, menurutnya penting mengasah sensitivitas dari kecil.
“Kalau bisa dari kecil dilatih sensitivitasnya. Bagaimana dia menyalurkan emosi dan gagasan ke dalam lukisan. Untuk bisa menghasilkan karya yang harmonis, proses latihan itu adalah sesuatu yang melekat, harus dilatih terus,” tutupnya.
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1041 Kali
Dermaga MB 2 Diperbaiki, Antrean Gilimanuk Mengular 400 Meter
Dibaca: 399 Kali
Giliran Anggota Satresnarkoba Polresta Denpasar Terseret Kasus Senpi
Dibaca: 350 Kali
Rumah Warga di Tembuku Bangli Terbakar, Kerugian Rp200 Juta
Dibaca: 320 Kali
Bandara Ngurah Rai Layani 15,5 Juta Penumpang hingga Agustus 2026
Dibaca: 258 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar