Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 29 September 2026
Bukan Politik Uang, Ini Makna Tradisi Mapedanan Saat Karya Ngusaba Dini Jagat Nusa
BERITABALI.COM, KLUNGKUNG.
Beredar video calon gubernur Bali Made Muliawan Arya alias De Gadjah membagi-bagikan uang di sebuah pura yang dinarasikan negatif sebagai politik uang menjelang Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada 2024 mendatang.
Setelah ditelusuri, faktanya video tersebut merupakan salah satu tradisi upacara yang bernama Mapedanan yang dilakukan di Pura Batu Medawu, Nusa Penida saat Karya Ngusaba Dini Jagat Nusa pada Purnama Kapat, Kamis (17/10/2024) lalu. De Gadjah selaku tokoh kebetulan diundang dan mendapatkan kepercayaan untuk mengikuti prosesi tersebut.
Mangku Mudana Budhana selaku pemangku di Nusa Penida mengklarifikasi hal itu dan menjelaskan apa sebenarnya makna tradisi Mapedanan. Menurutnya, saat Karya Ngusaba Dini Jagat Nusa dilakukan upacara persembahyangan terhadap Ida Bhatara Bhatari Sajebag Jagat Nusa Penida, dan Kahyangan Tiga.
Di dalam proses upacara bakti Ida Bhatara-Bhatari Jagat Nusa Penida, dalam puncak acaranya ada upacara karya Mapedanan. Karya Mepadanan merupakan rangkaian dari Pedudusan Agung, yang dilanjutkan pula dengan upacara Mapedanan.
"Mapedanan sendiri memiliki artinya memberikan sedekah kepada umat yang sudah lama ngayah, atau berbagi rezeki. Istilahnya uangnya itu dilempar-lempar," jelasnya.
"Namun tujuannya adalah untuk orang yang sudah lama mengayah. Kalau punia kepada Ida Bhatara. Hal ini untuk memberikan pahala, baik yang menerima atau memberikan," imbuhnya.
"Tradisi ini sudah ada sejak dahulu, kalau ada karya-karya besar. Yang tadi itu, kebetulan pas karya padudusan yang upasaksinya catur. Berbagi uang dilempar-lempar, kalau zaman dahulu dilakukan Raja atau orang yang memiliki harta, termasuk pemuka adat," ujarnya.
Dikarenakan telah berjalan sejak turun temurun, karya Mapedanan ini kerap dihadiri tokoh-tokoh umat dan pejabat di Bali. Mapedanan sendiri dimaknai sebagai wujud dan simbol kegembiraan. Hal ini karena karya untuk Ida Bhatara-Bhatari dapat berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan.
"Momentum ini juga dihadiri pemuka adat dan tokoh-tokoh umat di Bali. Sehingga dalam karya Mapedanan, menekankan kegembiraan baik skala dan niskala. Sebab, Ida Bhatara-Bhatari telah menyaksikan karya sebelumnya berjalan lancar. Ida Bhatara-Bhatari menyatu di sana," tegasnya mantan anggota DPRD Bali ini.
Editor: Redaksi
Reporter: Gerindra Bali
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8525 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5882 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3685 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2518 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar