Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 4 Oktober 2026
ADSH Kampanye di Tabanan, Dorong Jaringan Kedai Kopi Gunakan Telur Cage-Free
BERITABALI.COM, TABANAN.
Belasan pegiat kesejahteraan hewan dari Animals Don’t Speak Human (ADSH) menggelar kampanye publik di kawasan Lapangan Alit, Tabanan, Bali. Kampanye tersebut mendorong jaringan kedai kopi dengan merek Fore Coffee menerbitkan komitmen publik dan peta jalan (roadmap) transisi menuju penggunaan telur cage-free secara bertahap.
Kampanye dilakukan melalui kegiatan leafleting serta aksi dengan mengenakan kode QR berjalan yang berisi tautan petisi untuk Fore Coffee. ADSH mengajak masyarakat memahami asal-usul bahan pangan yang dikonsumsi sehari-hari.
Selain itu, kampanye tersebut mendorong perusahaan memasukkan aspek kesejahteraan hewan dalam praktik bisnis dan rantai pasok yang dinilai bertanggung jawab.
Kegiatan dilanjutkan dengan photo opportunity di depan gerai Fore Coffee Tabanan. Aksi ini menjadi bentuk kehadiran langsung ADSH sekaligus dorongan kepada perusahaan agar memperhatikan aspirasi konsumennya.
Campaigner Animals Don’t Speak Human, Novia Kirana, mempertanyakan penerapan kesejahteraan hewan dalam kebijakan bisnis Fore Coffee.
“Fore Coffee dengan bangga mengusung nilai kepedulian sosial, inovasi, dan kualitas terbaik bagi pelanggan. Jika kepedulian memang menjadi nilai utama, mengapa penerapan kesejahteraan hewan masih belum terlihat dalam kebijakan bisnisnya?” Ujar Novia Kirana, Campaigner, Animals Don’t Speak Human.
Kirana juga menyoroti aspek keberlanjutan dalam proses produksi bahan pangan, termasuk transparansi sumber telur yang digunakan dalam rantai pasok perusahaan.
“Sustainability bukan hanya tentang apa yang kita konsumsi, tetapi juga bagaimana produk itu dihasilkan dan kita perlu mulai peduli pada kehidupan yang ada di baliknya. Dan sejauh ini, Fore Coffee belum bersikap transparan terhadap sumber telur yang mereka pakai dalam rantai pasoknya,” tambah Kirana.
ADSH mendorong Fore Coffee mengambil langkah melalui komitmen bebas sangkar (cage-free) yang jelas dan transparan serta memiliki target waktu terukur.
Menurut ADSH, penggunaan telur cage-free bukan sekadar pilihan dalam sistem produksi, tetapi juga berkaitan dengan kesempatan ayam petelur mengekspresikan perilaku alaminya.
“Kami ingin Fore tidak berhenti pada wacana sustainability, tetapi menunjukkan komitmen tersebut menjadi perubahan nyata dalam rantai pasoknya dengan segera menerbitkan komitmen publik dan peta jalan transisi menuju penggunaan telur cage-free secara bertahap,” jelas Kirana.
Dorongan tersebut juga diperkuat petisi daring di Change.org yang digagas koalisi Animal Friends Jogja (AFJ) dan Act for Farmed Animals (AFFA). Petisi itu disebut telah ditandatangani lebih dari 19.000 orang.
ADSH menyebut jumlah dukungan tersebut sebagai indikasi adanya perhatian publik terhadap proses produksi bahan pangan yang dikonsumsi sehari-hari.
“Kita tidak harus menjadi konsumen yang sempurna untuk membuat perubahan. Kita bisa mulai dengan peduli, berani bertanya dan mempertimbangkan produk yang memperhatikan kesejahteraan hewan. Menjadi konsumen yang sadar bukan berarti harus menjadi konsumen yang sempurna, ini soal menyadari bahwa setiap pilihan kita punya konsekuensi,” tutup Kirana.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1104 Kali
Dermaga MB 2 Diperbaiki, Antrean Gilimanuk Mengular 400 Meter
Dibaca: 439 Kali
Giliran Anggota Satresnarkoba Polresta Denpasar Terseret Kasus Senpi
Dibaca: 400 Kali
Rumah Warga di Tembuku Bangli Terbakar, Kerugian Rp200 Juta
Dibaca: 356 Kali
Bandara Ngurah Rai Layani 15,5 Juta Penumpang hingga Agustus 2026
Dibaca: 295 Kali
ABOUT BALI
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung