Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 27 September 2026
7 Perupa Akan Pamer Torehan Kanvas di Ubud
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Kagama (Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada) Bali bekerjasama dengan Arma Museum Ubud akan mengelar pameran lukisan Kelompok Sapta Prasasta bertema "Kerthamasa" pada 14 Agustus - 14 September 2020.
[pilihan-redaksi]
Sekretaris Kagama Bali, Arya Suharja menyampaikan secara etimologi Kerthamasa bermakna masa (jeda) demi kesejahteraan berkelanjutan. Konsep Kerthamasa dalam keutuhan paradigma Subak (berasal dari kata Subhakarma yang berarti parilaksana becik), lahir dari suatu sistem pengetahuan yang terbangun dari praxis atau pengalaman panjang tradisi pertanian.
Suatu siasat kebudayaan untuk meraih produktivitas optimal dan berkelanjutan dalam mengusahakan pertanian basah di Bali Dwipa, sebuah pulau kecil vulkanis dengan dataran rendah yang sempit.
"Kerthamasa adalah langkah konstruktif dan proaktif dalam ide pertanian lestari," kata Arya Suharja di Denpasar, Selasa (11/8).
Tema ini diambil dari khazanah tatanan tradisi kebudayaan pertanian Bali yang menunjuk suatu masa ketika seluruh petani anggota subak di seluruh Pasedahan dan semua Pasedahan Agung di seantero Bali wajib melakukan jeda menanam padi untuk satu musim tanam dan menanam palawija.
Tujuan jeda tersebut adalah memutus siklus hidup hama padi, merawat daerah tangkapan hujan dan "mengistirahatkan" sumber air demi kesinambungan pasokannya, serta memulihkan kesuburan tanah dengan menanam kacang-kacangan.
Masa jeda ini tidak akan berhasil jika ada satu saja petani anggota Subak di suatu Pasedahan melanggarnya. Tradisi ini menegaskan kearifan para Panglingsir kebudayaan Bali terhadap keniscayaan melembagakan satu sistem yang utuh, disiplin sosial, dan pemahaman tentang perlunya pengurbanan (Yasakerthi, Yajna) dalam mencapai suatu tujuan.
Dijelaskan, semangat di balik konsep Kerthamasa sangat relevan dihidupkan di masa kini untuk acuan memahami situasi kekinian yang sedang dialami Bali, Indonesia dan seluruh umat manusia di bumi. Bahwa alam memiliki hukum dan batas-batasnya, dan manusia mesti melakukan tindakan konstruktif dan proaktif, mitigasi dan adaptasi di setiap persimpangan yang dilalui perkembangan peradabannya.
"Pandemi ini memaksa umat manusia melakukan jeda, menoleh ke belakang dan menilai langkahnya," imbuhnya.
Presentasi Kelompok Sapta Prasasta dalam pameran ini adalah respon mereka atas situasi batas dan tawaran yang lahir dari "Tiwikrama" di studio masing-masing di tengah pandemi Covid-19 ini.
Pameran yang rencananya dibuka oleh Wakil Gubernur Bali, Cok Ace ini menampilkan hasil karya dari Moelyoto, I Ketut Jaya (Kaprus), I Made Somadita, Ngurah Darma, Ni Putu Eni Astiarini, Suryani dan Untoro.
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8478 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5828 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3652 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2480 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar