Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 4 Mei 2026
Dulu Turis Asing Merangkap Jadi Gigolo
kuta
BERITABALI.COM, BADUNG.
Sejak jaman turis 'hippies' tahun 1970-an, gigolo atau pria 'penghibur' sudah ada di kawasan wisata Kuta. Namun gigolo di Kuta waktu itu hampir semuanya warga negara asing. Para gigolo asing ini berkencan dengan sesama turis asing lainnya. Berikut penuturan pendiri Balawista atau penyelamat Pantai Kuta, I Gde Berata, salah seorang saksi sejarah perjalanan wisata kuta sejak era tahun 1960 an.
Tahun 1960 an hingga 1970 an jumlah wisatawan asing di Kuta masih sedikit sekali. Wisatawan yang dikenal dengan 'hippies' (turis bergaya gembel dan menerapkan gaya hidup bebas) menetap di penginapan-penginapan di sekitar pantai Kuta dalam kurun waktu lama mulai 1 hingga 3 bulan.
"Tahun 1970-an kawasan wisata Kuta berkembang sebagai koloni 'hippies'. Turis bergaya 'gembel' datang dari seantero dunia dengan membawa gaya hidup bebas, Mereka tinggal di rumah penduduk yang bernama pension," tutur Berata.
Di jaman itu, yang namanya gigolo sudah ada di kawasan Kuta. Tapi gigolo di Kuta waktu itu hampir semuanya warga negara asing, terutama turis pria asing yang sudah kehabisan bekal atau uang.
"Para gigolo asing ini berkencan dengan sesama turis asing wanita lainnya. Waktu itu hampir semua gigolo-gigolo yang ada di Kuta merupakan turis asing, jarang sekali ada warga lokal atau orang Indonesia. Dulu gigolo di Kuta tidak kelihatan mencolok. Tapi orang-orang yang ada di sekitar pantai Kuta waktu itu sudah tahu siapa saja yang berprofesi sebagai gigolo," ujar Beratha.
Profesi gigolo waktu itu juga didukung oleh kondisi pantai Kuta waktu itu yang masih terbilang bebas. Akhir tahun 1960 an hingga Tahun 1970 an, turis 'hippies' boleh telanjang bebas, bercampur baur tanpa ada yang membatasi atau melarang.
"Pada perkembangan selanjutnya, para gigolo asing di Kuta terus eksis hingga tahun 1980 an menjual jasa layanan seks bagi yang membutuhkan. Sementara warga lokal di Kuta juga sudah mulai ada yang menjadi gigolo namun jumlahnya sedikit dan hanya menjadikannya sebagai sampingan atau untuk senang-senang semata," kata Beratha.
Fasilitas mewah, uang banyak, dan kenikmatan seks, menjadi daya tarik utama bagi para pria yang terjun ke profesi gigolo. Wanita-wanita bule atau warga asing sering memberi fasilitas yang berlebih kepada para gigolo-gigolo di Kuta, sehingga banyak yang tertarik untuk menjalani perkerjaan ini.
Ada gula ada semut. Pada perkembangan selanjutnya, orang-orang dari luar Bali mulai berdatangan ke Kuta, untuk mengadu peruntungan menjadi gigolo di kawasan wisata pantai Kuta.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 329 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 325 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang