Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Kemarau Panjang, Warga Yehembang Krisis Air Bersih

jembrana

Senin, 28 Oktober 2013, 18:15 WITA Follow
Beritabali.com

google.com/ilustrasi

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Beritabali.com. Mendoyo. Musim kemarau berkepanjangan yang terjadi tiga bulan belakangan  di Jembrana, mengakibatkan air PDAM macet total alias kering kerontang. Akibatnya ratusan warga di Desa Yehembang, Mendoyo mengalami krisis air. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa mengambil air di saluran irigasi subak setempat yang terletak di Banjar Wali, Desa Yehembang dengan jarak tempuh antara satu hingga lima kilo meter dari rumah warga.
 
Ratusan warga Yehembang yang dilanda krisis air tersebut adalah di Banjar Kaleran dan Banjar Wali. Dua banjar ini dihuni sedikitnya 500 KK lebih, seluruhnya mengalami krisis air sejak tiga bulan yang lalu lantaran kemarau berkepanjangan, serta air PDAM macet total. Disamping itu ratusan warga di dua banjar ini sebagian besar tidak memiliki sumur. Kalaupun ada yang memiliki sumur, kondisinya juga mengering.

Sejumlah warga yang ditemui Minggu (27/10) mengatakan, sejak tiga bulan yang lalu mereka sangat kesulitan untuk mendapatkan air untuk keperluan minum, mandi dan mencuci lantaran air PDAM yang sangat diharapkan warga, sejak tiga bulan yang lalu tidak mengalir lagi.

“ Saya terpaksa mengambil air di saluran irigasi subak dengan menggunakan Jeriken. Jaraknya jauh lagi, sekitar tiga kilo meter dari rumah. Habis mau bagaimana lagi karena air PDAM macet. Untung juga saat ini di sumak lagi musim tanam,
kalau tidak jelas kami tidak bisa mendapatkan air,” terang Agung Bagus Dwijana (43) warga Banjar Kelaran, Desa Yehembang.
Setiap harinya dia selalu bolak-balik mengambil air hingga lima kali hanya untuk keperluan minum, mandi dan mencuci.

“ Tapi untuk keperluan minum dan memasak, biasanya masyarakat mengambil air pagi-pagi atau malam hari. Karena jika agak siang, biasanya air sudah keruh karena saluran irigasi digunakan untuk mandi dan mencuci oleh warga,” tambahnya.
 
Ungkapan senada juga disampaikan oleh Nyoman Arsana (42) warga asal Banjar Kaleran, Desa Yehembang. Menurutnya sejak dua bulan belakangan ini, dirinya dan sejumlah warga lainnya terpaksa mengambil air di saluran irigasi subak. Menurut
Arsana dalam sehari dia biasa 10 kali bolak-balik ke saluran irigasi tersebut untuk mengambil air untuk keperluan, minum, memasak, mandi dan mencuci, padahal jarak tempuh dari tempat tinggalnya mencapai lima kilo meter.

“ Untung jalan menuju saluran irigasi subak masih bisa distempuh dengan sepeda motor, meskipun jalannya terjal. Tapi kalau dengan berjalan kaki, warga pasti tidak kuat,” terangnya.
 
Pantauan Minggu (27/10) pagi, saluran irigasi subak yang lebarnya kurang dari satu meter, nampak diserbu oleh ratusan warga yang hendak mengambil air dan hendak mencuci dan mandi. Antrian warga menuju lokasi untuk mengambil air tidak
putus-putus mulai pukul 05.00 pagi hingga sore hari. Bahkan menurut sejumlah warga antrean untuk mengambil air hingga menjelang tengah malam. Masing-masing warga rata-rata membawa dua buah jerigen ukuran 20 liter untuk menampung air
yang kemudian diangkut dengan menggunakan sepeda motor.

Namun beberapa warga ada yang mengambil air dengan menggunakan ember dengan berjalan kaki menempuh jarak yang jauh dengan kondisi medan yang agak terjal dan lincin. Yang sangat memprihatinkan, air di saluran irigasi tersebut selain diambil untuk keperluan memasak dan minum, nampak pula sejumlah warga memanfaatnya untuk mandi, mencuci dan memandikan binatang pemeliharaannya. Terkait dengan hal tersebut warga berharap pihak pemerintah segera bertindak untuk mengatasi krisis air tersebut, termasuk mengharapkan pihak PDAM untuk meningkatkan pelayanannya.

Perbekel Desa Yehembang I Made Semadi saat dikonfirmasi, membenarkan sejak tiga bulan belakangan ini mengalami krisis air. Menurutnya krisis air tersebut disebabkan oleh kemarau berkempanjangan sehingga air PDAM mati sejak beberapa bulan yang
lalu.

“ Karena itulah warga mengambil air di saluran irigasi. Sebenarnya kami sangat kasihan melihat warga. Apalagi jarak tempuh untuk mengambil air sangat jauh. Kami sudah berulang kali turun melihat warga kami,” terangnya.
 
Untuk mengatasi krisis air tersebut, pihaknya telah mengajukan proposal kepada Bupati Jembrana, termasuk kepada pihak PDAM agar dibuatkan bak penampungan air yang besar di Banjar Bumbungan. Bak air yang besar tersebut menurut Semadi akan digunakan untuk menampung air dari hutan dan selanjutkan dialirkan ke warga yang mengalami krisis air.

“ Proposal tersebut sedah disetujui dan awal tahun 2014 akan dibangun. Tapi untuk langkah cepat menghadapi krisis air kami sudah berkordinasi dengan pihak PDAM untuk menempatkan tangki air di masing-masing bale banjar. Paling lambat dalam dua hari ini tangki air itu sudah bisa di drop,” pungkasnya. (Jsp)

 

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: -



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami