Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Senin, 11 Mei 2026
Hanya Mitos, Larangan Keturunan I Dewa Babi Menyeberangi Nusa Penida
Minggu, 15 April 2018,
14:30 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Beritabali.com.Gianyar, Desa Batuan merupakan salah satu desa dengan budaya dan adat yang kental yang terletak di Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar. Desa Batuan memiliki salah satu kepercayaan yang sampai saat ini apabila dilanggar akan menimbulkan bencana bagi masyarakat Desa Pakraman Batuan yaitu mitos I Gede Mecaling di Desa Pakraman Batuan, dimana masyarakat keturunan I Dewa Babi dilarang untuk menyeberangi Nusa Penida karena mitos tersebut.
[pilihan-redaksi]
Menurut salah satu keturunan I Dewa Babi, Dewa Nyoman Ratna menceritakan pada abad ke 17 telah terjadi silat lidah antara I Gede Mecaling dan I Dewa Babi.”Hal tersebut terjadi karena I Gede Mecaling merasa kena tamparan berat dari I Dewa Babi yang menyebabkan mereka ingin menunjukan kesaktiannya dengan melakukan perjanjian, barang siapa yang kalah maka harus bersedia diusir dari Desa Pakraman Batuan,” ujarnya Minggu (15/4).
Menurut salah satu keturunan I Dewa Babi, Dewa Nyoman Ratna menceritakan pada abad ke 17 telah terjadi silat lidah antara I Gede Mecaling dan I Dewa Babi.”Hal tersebut terjadi karena I Gede Mecaling merasa kena tamparan berat dari I Dewa Babi yang menyebabkan mereka ingin menunjukan kesaktiannya dengan melakukan perjanjian, barang siapa yang kalah maka harus bersedia diusir dari Desa Pakraman Batuan,” ujarnya Minggu (15/4).
I Gede Mecaling dan I Dewa Babi memperlihatkan kesaktiannya dengan menggunakan sarana babi guling. Dimana kaki depan dan kaki belakang diikat dengan tali kulit pohon pisang. Jika babi gulingnya sudah matang maka salah satu dari tali pengikatnya terbakar atau putus maka dari sanalah kekalahan bagi yang memilih tali tersebut.
[pilihan-redaksi2]
Sesudah sama-sama sepakat I Dewa Babi memilih tali benang sedangkan I Gede Mecaling memilih tali dari kulit pohon pisang. Ketika babi guling tersebut dibakar, tali yang putus terdahulu ialah tali dari kulit pohon pisang pilihan I Gede Mecaling. Hal tersebut berarti I Gede Mecaling kalah.
Sesudah sama-sama sepakat I Dewa Babi memilih tali benang sedangkan I Gede Mecaling memilih tali dari kulit pohon pisang. Ketika babi guling tersebut dibakar, tali yang putus terdahulu ialah tali dari kulit pohon pisang pilihan I Gede Mecaling. Hal tersebut berarti I Gede Mecaling kalah.
Untuk menepati perjanjian yang telah disepakati, meskipun bagi I Gede Mecaling menderita perasaan malu dan dendam, I Gede Mecaling tidak mau meminta waktu lagi dan segera pergi dari rumahnya. Dengan berat hati lalu I Gede Mecaling pergi ke Pulau Nusa Penida. Akhirnya sampailah I Gede Mecaling di Pulau Nusa Penida dan tempat tinggalnya juga di beri nama Jungut Batu. Dari sanalah I Gede Mecaling sangat murka dan I Gede Mecaling bersumpah akan membencanai warga Desa Pakraman Batuan, jika ada yang menyeberangi Nusa Penida.
Seiring berjalannya waktu, di zaman yang modern ini, Dewa Nyoman Wedana mengatakan bahwa cerita tersebut hanya mitos. “Zaman sudah modern, saya dan beberapa saudara tidak begitu saja mempercayai hal tersubut, terbukti saat saya dan keluarga berpergian ke Nusa Penida beberapa kali, dan astungkara sampai saat ini masih di beri kesempatan oleh Tuhan,” paparnya. (bbn/FisipUnud/rob)
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1096 Kali
02
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 868 Kali
03
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 690 Kali
04
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 642 Kali
05
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026