Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 11 Mei 2026
Zaman Penjajahan Jepang, Warga Bali Pakai Baju dari Kulit Kayu
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Pada 8 Maret 1942, Belanda resmi menyerah kepada Jepang di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Sejak itu pemerintah kolonial Jepang berkuasa di Indonesia termasuk Bali. Jepang langsung mengumumkan kebijakan baru. Sebagian besar terkait mobilisasi logistik untuk mendukung operasi militer Jepang di Asia.
Kebijakan Jepang ini juga terasa di Pulau Bali. Pemilik sawah hanya boleh mengambil hasil panen untuk keperluan sendiri. Keperluan sendiri itu para petani ditetapkan sepihak oleh Jepang. Semua sisa hasil panen harus diserahkan kepada pihak Jepang.
Tak hanya itu, semua ternak sapi, babi, dan ayam milik penduduk juga harus diserahkan kepada pemerintah Jepang melalui badan Mitsui Busan Kaisha (MBK). Meski Jepang mengklaim membeli ternak itu, namun penduduk tidak memperoleh uang tunai. Pemerintah Jepang mengklaim uang pembayaran otomatis ditabung di Bank Rakyat (Syomin Ginko). Tak jelas kapan tabungan itu bisa diambil tunai.
Kebijakan itu membuat rakyat menderita. Lumbung-lumbung padi kosong. Untuk bertahan hidup, rakyat harus menggunakan beras seirit mungkin. Setiap keluarga memasak nasi campur ketela, jagung, atau daun singkong. Sudah hidup irit, pengawasan ketat tetap diberlakukan. Setiap hari petugas Jepang mengontrol bahan pangan yang dipakai warga. Yang ketahuan makan berlebihan bisa dihukum.
Dalam Biografi Drs. I Nyoman Sirna MPH, "Sang Guru, Sebuah Memoar Tentang Perjuangan dan Pengabdian", yang ditulis Indrawati Muninjaya, Nyoman Sirna menuturkan, penderitaan warga bertambah karena sebagian lahan pertanian dialihfungsikan untuk keperluan lain. Penduduk dipaksa menanam kapas dan jarak. Semua hasil panen harus dijual kepada pihak Jepang. Meski menjual kepada Jepang, penduduk tetap tidak mendapat uang tunai.
Begitulah kehidupan warga Bali dan daerah lain di Indonesia saat jaman penjajahan Jepang. Semua hidup serba susah. Karena kehabisan uang, penduduk lama-lama kehabisan pakaian karena lapuk dan rusak. Dimana-mana warga mulai menggunakan kulit kayu yang dibentuk agar bisa menutupi badan mereka.
Meski bisa menutup badan dan melindungi dari hawa panas dan dingin, pakaian dari kulit kayu ini disenangi kutu. Banyak warga mulai menderita sakit kulit.
Lama kelamaan, di desa-desa warga mulai berpakaian setengah telanjang, hanya memakai celana dalam. Di toko tidak ada obat-obatan, tidak ada sabun, baik sabun mandi atau cuci. Warga terkena berbagai penyakit mulai kadas, kurap, malaria dan sebagainya.
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1089 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 864 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 687 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 637 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik