Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 18 Oktober 2026
Makna Peringatan Hari Tumpek Uye di Bali
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Hari Tumpek Uye adalah salah satu hari yang diperingati oleh umat Hindu di Bali. Di Bali tumpek yang datang setiap enam bulan hitungan kalender Bali itu sering disebut Tumpek Kandang.
Baca juga:
Karangasem Diguncang Gempa Magnitudo 4,1
Menurut Akademisi dari Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, Kadek Satria, Tumpek Uye pada hakekatnya merupakan hari untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Siwa Pasupati yang disebut Rare Angon, penggembala makhluk dan pemuliaan ini dilakukan untuk semua jenis hewan bukan hanya hewan peliharaan saja.
Tumpek Uye salah satu hari raya dipercaya umat Hindu Bali berdasarkan perhitungan pawukon (wuku) untuk memuliakan Tuhan yang dipuja adalah Ida Sang Hyang Widhi, bukan memuja binatang, demikian pula terhadap tumbuh-tumbuhan, senjata-senjata, gamelan dan sebagainya.
Kadek Satria mengungkapkan, Tumpek Uye adalah momentum memuliakan seluruh hewan di bumi. Memuliakan hewan diwujudkan melalui doa, memelihara dan meningkatkan kualitasnya yakni dipersembahkan sebagai sarana yadnya.
Pria asal Bumi Panji, Buleleng ini mengutip dari sebuah lontar
Sundarigama dikatakan seperti ini : Saniscara Kliwon Uye pinaka prakertining sarwa sato, Artinya : pada hari Saniscara Kliwon Uye hendaknya dijadikan tonggak untuk melestarikan semua jenis hewan. Kata pelestarian inilah menurut hindu dilakukan dengan cara memuliakan.
Ia juga menjelaskan peringatan Tumpek Uye bertujuan menjaga keselarasan antara manusia dengan lingkungan, khususnya hewan. Bukan hanya hewan peliharaan, tetapi juga semua hewan yang ada bumi ini didoakan. Namun karena hewan peliharaan yang terdekat, maka hewan peliharaan yang diupacarai sebagai perwakilan hewan lainnya.
Satria menambahkan, sebuah refrensi menguatkan tentang hari Tumpek Uye ini, ia mengutip salah satu sloka dalam Lontar Sundarigama yang esensinya mewajibkan umat manusia untuk menyayangi hewan. Pasalnya, hewan adalah salah satu mahluk yang menjadi kekuatan alam.
Baca juga:
Karangasem Diguncang Gempa Magnitudo 4,1
Kutipan sloka tersebut berbunyi : Ayuwa tan masih ring sarwa prani, apan prani ngaran prana. Artinya: jangan tidak sayang kepada binatang, karena binatang atau makhluk adalah kekuatan alam. Karena hewan adalah kekuatan maka perlu dipelihara demi keharmonisan.
Adapun sarana upakara yang penting untuk diketahui dalam peringatan Tumpek Uye ini untuk sarana bebantenan bagi pemilik hewan kuda, sapi atau kerbau bantennya terdiri dari tumpeng tetebasan, panyeneng, sesayut dan canang raka.
Sedangkan bagi umat Hindu yang memelihara babi, bisa menghaturkan tumpeng-canang raka, penyeneng, ketipat dan belayag. Untuk bebanten sebangsa unggas, dibuatkan bebanten berupa bermacam-macam ketupat sesuai dengan nama atau unggas itu seperti tipat kedis, tipat kukur, tipat gelatik dan lain sebagainya dilengkapi dengan penyeneng, tetebus dan kembang payas.
Ia berharap dan mengajak umat Hindu untuk tetap memelihara dan melestarikan kembali hewan-hewan tersebut agar upacara yang dilakukan sesuai substansi. (Sumber : Balipuspanews.com)
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4453 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2094 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1999 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1632 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1470 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan