Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 26 Juli 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
BERITABALI.COM, BANGLI.
Tradisi unik melepasliarkan anak sapi suci atau wadak masih terus dijaga oleh krama Desa Adat Mengani, Kabupaten Bangli. Tradisi sakral ini berkaitan dengan siklus penyucian godel yang kemudian dilepas bebas tanpa kandang dan berkeliaran di kebun milik warga.
Dalam tradisi masyarakat Mengani, sapi suci tersebut disebut “Jro Gede”. Keberadaannya dihormati sebagai bagian dari warisan adat dan spiritual desa setempat.
Meski sudah diwariskan turun-temurun, pelestarian wadak ternyata juga memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Sebagian warga mengaku tidak keberatan apabila tanaman di kebunnya dimakan sapi suci tersebut. Namun, ada pula warga yang berharap tradisi itu tidak lagi dijalankan karena menyebabkan kerusakan tanaman bernilai ekonomi.
“Agar tradisi bisa jalan dan keluhan krama juga terakomodasi, kami batasi pembuatan wasak hanya satu ekor setiap tahunnya,” tutur Jro Bayan Kantun, di sela-sela upacara ngerasakin atau prosesi penyucian godel menjadi wadak di Pura Dalem Desa Adat Mengani, Minggu (16/5) kemarin.
Upacara ngerasakin dilaksanakan oleh krama Banjar Adat Mengani dengan semangat ngayah sejak pagi hari. Berbagai sesajen disiapkan sebagai sarana ritual untuk mengubah status anak sapi menjadi “Jro Gede”.
Setelah melalui prosesi penyucian, warga diwajibkan menghormati keberadaan wadak dengan membiarkannya hidup bebas, termasuk ketika memakan hasil pertanian milik warga.
Komoditas pertanian seperti pisang dan kacang-kacangan menjadi tanaman yang paling sering dimakan wadak. Bahkan pada masa birahi, sapi suci tersebut kadang mengamuk dan merusak tanaman warga.
“Walau demikian kami (warga Mengani) harus ikhlas dan menahan diri untuk mengumpat atau berkata kasar menghadapi kenyataan kebun rusak,” jelas Wakil Kelian Banjar Adat I Wayan Puja.
Pria yang akrab disapa Kelih Nopi itu menyebutkan, warga percaya siapa pun yang mengeluarkan kata-kata kasar terhadap wadak bisa mendapat “sanksi” secara niskala. Menurut kepercayaan warga, wadak akan kembali mengamuk di lahan milik orang yang mengumpat.
Karena itu, keputusan desa adat membatasi hanya satu wadak setiap tahun dianggap sebagai jalan tengah agar tradisi tetap lestari tanpa terlalu membebani warga.
Sementara itu, Jro Singgukan Mangku Wayan Suwarna menjelaskan tradisi pembuatan wadak dilakukan setiap Tilem Sasih Jiestha.
“Sekitar 15 hari setelah wali panguang yakni penyembelihan wadak maka prosesi wali di Desa Mengani kembali ke siklus awal yakni ngrasakin atau membuat wadak,” ujar Mangku Pura Puseh Mengani itu.
Kelihan Adat Mengani I Gede Subrata menambahkan, pada tahun 2026 pihak desa tidak mengeluarkan anggaran khusus untuk membeli godel yang akan dijadikan wadak.
“Godel yang diupacarai biasanya dibeli menggunakan kas Banjar Adat Mengani atau bisa saja dihaturkan krama yang punya haul atau sesangi,” tutur Gede Subrata.
Tradisi menghaturkan pengeleb atau anak sapi untuk dilepasliarkan juga menjadi bagian dari pembayaran sesangi masyarakat. Sejumlah warga mengaku bernazar menghaturkan godel apabila persoalan hidup mereka terselesaikan, mulai dari anggota keluarga yang sembuh dari sakit hingga sengketa tanah yang berhasil diselesaikan.
“Saya masih berhutang, walau sesangi itu saya ucapkan tiga belas tahun lalu. Selain dananya belum terkumpul, juga masih masuk daftar tunggu yakni kapan mendapat giliran menghaturkan pengeleb dari prajuru desa,” ujar krama yang enggan namanya ditulis di media.
Pantauan di lokasi, prosesi ngerasakin berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Krama banjar adat hingga sekaa truna tampak bersemangat mengikuti pelepasliaran wadak usai upacara. Karena ukuran godel yang cukup besar, warga sempat mengalami kesulitan saat mengarak sapi sebelum akhirnya dilepas bebas.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/bgl
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3856 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 1901 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1616 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1516 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 1502 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun