Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




60 Babi di Canggu Mati Mendadak, Peternak Rugi Puluhan Juta

Jumat, 22 Mei 2026, 13:58 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok Beritabali.com/60 Babi di Canggu Mati Mendadak, Peternak Rugi Puluhan Juta.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BADUNG.

Sebanyak 60 ekor babi siap panen milik warga di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Bali, mati mendadak akibat diduga terserang virus African Swine Fever (ASF).

Peristiwa ini terjadi sejak awal April 2026 dan membuat peternak setempat mengalami kerugian total hingga puluhan juta rupiah.

"Semua babi peliharaan saya mati. Nggak ada yang sisa sama sekali di kandang. Totalnya ada itu 60 ekor," jelas peternak asal Banjar Kayu Tulang, Canggu, Ketut Widanta, Kamis (21/5/2026).

Ternak miliknya diserang virus secara bertahap dengan gejala seragam. Ia mengaku kejadian yang sama sempat terjadi dalam tahun terakhir juga.

"Babi saya sudah pernah kejadian mati mendadak lima kali sejak tahun 2018 lalu. Gejalanya selalu sama, muncul bintik merah, nggak mau makan," ujarnya.

Dirinya mengatakan tanda paling kentara dari serangan virus ini adalah perubahan warna kulit ternak menjadi kemerahan. Pola penyebaran virus ini juga tergolong sangat cepat hingga mampu menjangkiti seluruh populasi kandang hanya dalam hitungan hari.

"Penyakit yang Saya duga ASF ini biasanya sudah tertular sekitar satu minggu. Penularannya cepat beberapa hari, kalau satu ekor kena, semua pasti kena," ucapnya.

Ia hanya bisa pasrah karena hingga saat ini belum ada obat ataupun vaksin yang bisa menyembuhkan serangan virus mematikan hewan ternak khususnya babi tersebut.

"Padahal babi saya ini beratnya sudah sekitar 150 kilogram, per ekor. Posisinya sudah siap panen, malah mati," terangnya.

Dalam merawat ternaknya, dirinya mengaku selalu menerapkan kombinasi pakan harian serta rutin menjaga higienitas area peternakan. Upaya sterilisasi dengan penyemprotan cairan pembasmi kuman pun sudah dilakukan secara berkala, baik sebelum maupun sesudah munculnya kasus kematian massal tersebut.

"Setiap harinya saya berikan pakan ternak babi, ditambah juga saya mengambil sisa-sisa makanan di restoran-restoran dekat sini. Saya juga sudah bersihkan kandang, disinfektan untuk sterilisasi juga sudah," paparnya.

Mengenai asal-usul penularan, peternak menduga virus masuk melalui jalur mobilitas hewan maupun aktivitas manusia yang membawa agen penyakit dari luar.

Puluhan babi yang mati tersebut kini telah dikubur pemiliknya demi mencegah penularan yang lebih luas.

Penggunaan wadah transportasi atau kandang angkut yang tidak higienis disinyalir menjadi sarana utama penyebaran virus antar-peternakan.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/aga



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami