Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 28 September 2026
Mitsuhito dan Araki, Tentara Jepang Membantu Pejuang di Bali
BERITABALI.COM, BADUNG.
Sejarah perjuangan bangsa Republik Indonesia banyak yang masih terpendam. Salah satunya cerita perjuangan di Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.
Salah satu cerita perjuangan kemerdekaan Indonesia di Bali, disampaikan warga Penarungan, Nyoman Susanta.
Ayah Susanta, seorang pejuang bernama Ketut Receh, dulu menjabat sebagai Ketua "Markas W"
Pada masa pertempuran itu, ayahnya menyebut ada dua tentara Jepang terlihat kebingungan di salah satu tempat di wilayah Badung.
Kedua tentara Jepang masing-masing bernama Mitsuhito dan Araki telah menyerah tanpa perlawanan dan mengibarkan bendera putih. Akhirnya kedua tentara Jepang tersebut diajak ke "Markas W" Penarungan dan mereka berjanji akan membantu perjuangan.
"Mereka menyerah tanpa perlawanan dan mengibarkan bendera putih sehingga, para intel kemerdekaan berani mendekati mereka. Saat itu, tidak ada kecurigaan dari masyarakat, mereka melihat kedua orang Jepang ini sangat polos," tutur Susanta beberapa waktu lalu.
Akhirnya, keduanya diajak bergabung serta diberi tugas melatih para pejuang di Blumbungan, Sibang, Badung. Selain itu, keduanya ditugaskan mencari senjata di Tangsi Militer Jepang.
Kedua tentara Jepang ini dijadikan anak angkat oleh ayahnya, dan langsung diberi nama orang Bali, Sukra dan Sukri.
"Mereka sudah diadopsi oleh Ketua "Markas W", Bapak saya (Ketut Receh) dan menjadi (memeluk agama) Hindu. Mereka juga ingin diaben kalau gugur dalam perang, demikian cerita ayah saya," ujarnya.
Menurut cerita ayahnya, pahlawan I Gusti Ngurah Rai sempat meminta bantuan ke "Markas W". Kemudian kedua orang Jepang tersebut dikirim ke Batalion I Gusti Ngurah Rai yang berkedudukan di Marga, Tabanan.
Namun sayang, dalam perjalanan Wayan Sukra (Mitsuhito) tewas tertembak tentara Belanda. Sementara Made Sukri (Araki) berhasil membantu Gusti Ngurah Rai dan gugur dalam pertempuran di Marga Tabanan.
Mitsuhito dan Araki tidak pernah mengunjungi rumah orang tua angkatnya karena bersembunyi di markas.
"Pesan terakhirnya dari cerita ayah saya saat masih ada, kalau mereka gugur nantinya ingin diupacarai seperti Agama Hindu," ujarnya, sembari menambahkan bahwa ayahny Ketut Receh telah meninggal dunia tahun 1955 karena sakit.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8505 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5849 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3667 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2496 Kali
ABOUT BALI
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar