Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




BI Bali Waspadai Inflasi Saat Ramadhan dan Lonjakan Harga Emas

Selasa, 3 Februari 2026, 12:20 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/BI Bali Waspadai Inflasi Saat Ramadhan dan Lonjakan Harga Emas.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Perkembangan inflasi Provinsi Bali pada rilis BPS Provinsi Bali, Senin (2/2/2026), menunjukkan kondisi harga yang masih terjaga. 

Secara bulanan, Bali mengalami deflasi sebesar -0,34 persen (mtm) pada Januari 2026, sejalan dengan pola musiman setelah pada Desember 2025 mencatat inflasi 0,70 persen (mtm).

Secara tahunan, inflasi Bali juga melandai dari 2,91 persen (yoy) menjadi 2,58 persen (yoy). Capaian tersebut berada dalam sasaran inflasi 2,5±1 persen dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,55 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menilai kondisi ini mencerminkan stabilitas harga yang tetap terjaga di tengah dinamika cuaca serta permintaan pada periode libur awal tahun. Namun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan seiring mendekatnya Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadhan dan Idulfitri.

Secara spasial, seluruh kabupaten/kota IHK di Bali mengalami deflasi bulanan. Kabupaten Badung mencatat deflasi terdalam sebesar -0,78 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 1,09 persen (yoy). Singaraja mengalami deflasi -0,44 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 2,59 persen (yoy), disusul Tabanan sebesar -0,21 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 2,00 persen (yoy). 
Sementara itu, Kota Denpasar mengalami deflasi -0,13 persen (mtm), namun inflasi tahunannya tercatat 3,60 persen (yoy) dan perlu mendapat perhatian karena berada di atas rentang sasaran.

Deflasi Bali pada Januari 2026 terutama didorong oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Penurunan harga cabai rawit, bawang merah, dan cabai merah akibat peningkatan pasokan saat panen, serta turunnya harga bensin dan daging ayam ras menjadi faktor utama. Di sisi lain, penurunan yang lebih dalam tertahan oleh kenaikan tarif parkir, sewa rumah, emas perhiasan, ikan tongkol diawetkan, dan kangkung.

Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali mengidentifikasi sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, antara lain peningkatan permintaan barang dan jasa pada periode long weekend serta HBKN Ramadhan, dan berlanjutnya kenaikan harga emas dunia. Selain itu, puncak musim hujan berpotensi mengganggu produksi pertanian, distribusi, perikanan, serta meningkatkan risiko penyakit pada hewan ternak.

Menghadapi triwulan I 2026, Erwin Soeriadimadja menegaskan pentingnya penguatan sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga stabilitas harga, khususnya menjelang Idulfitri dan Hari Raya Nyepi. Tekanan permintaan juga diperkirakan meningkat seiring perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sebagai langkah antisipasi, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah melalui tiga pilar utama, yakni menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, serta memperkuat regulasi. Strategi tersebut dijalankan melalui intensifikasi operasi pasar dengan prinsip 3T, penguatan kerja sama antar daerah, serta pengembangan ekosistem ketahanan pangan hulu-hilir berbasis potensi lokal.

Dengan langkah-langkah tersebut, inflasi Bali tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami