Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 4 Mei 2026
BI Bali Waspadai Inflasi Saat Ramadhan dan Lonjakan Harga Emas
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Perkembangan inflasi Provinsi Bali pada rilis BPS Provinsi Bali, Senin (2/2/2026), menunjukkan kondisi harga yang masih terjaga.
Secara bulanan, Bali mengalami deflasi sebesar -0,34 persen (mtm) pada Januari 2026, sejalan dengan pola musiman setelah pada Desember 2025 mencatat inflasi 0,70 persen (mtm).
Baca juga:
Strategi TPID Bali Antisipasi Inflasi 2026
Secara tahunan, inflasi Bali juga melandai dari 2,91 persen (yoy) menjadi 2,58 persen (yoy). Capaian tersebut berada dalam sasaran inflasi 2,5±1 persen dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,55 persen (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menilai kondisi ini mencerminkan stabilitas harga yang tetap terjaga di tengah dinamika cuaca serta permintaan pada periode libur awal tahun. Namun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan seiring mendekatnya Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadhan dan Idulfitri.
Secara spasial, seluruh kabupaten/kota IHK di Bali mengalami deflasi bulanan. Kabupaten Badung mencatat deflasi terdalam sebesar -0,78 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 1,09 persen (yoy). Singaraja mengalami deflasi -0,44 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 2,59 persen (yoy), disusul Tabanan sebesar -0,21 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 2,00 persen (yoy).
Sementara itu, Kota Denpasar mengalami deflasi -0,13 persen (mtm), namun inflasi tahunannya tercatat 3,60 persen (yoy) dan perlu mendapat perhatian karena berada di atas rentang sasaran.
Deflasi Bali pada Januari 2026 terutama didorong oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Penurunan harga cabai rawit, bawang merah, dan cabai merah akibat peningkatan pasokan saat panen, serta turunnya harga bensin dan daging ayam ras menjadi faktor utama. Di sisi lain, penurunan yang lebih dalam tertahan oleh kenaikan tarif parkir, sewa rumah, emas perhiasan, ikan tongkol diawetkan, dan kangkung.
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali mengidentifikasi sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, antara lain peningkatan permintaan barang dan jasa pada periode long weekend serta HBKN Ramadhan, dan berlanjutnya kenaikan harga emas dunia. Selain itu, puncak musim hujan berpotensi mengganggu produksi pertanian, distribusi, perikanan, serta meningkatkan risiko penyakit pada hewan ternak.
Menghadapi triwulan I 2026, Erwin Soeriadimadja menegaskan pentingnya penguatan sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga stabilitas harga, khususnya menjelang Idulfitri dan Hari Raya Nyepi. Tekanan permintaan juga diperkirakan meningkat seiring perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebagai langkah antisipasi, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah melalui tiga pilar utama, yakni menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, serta memperkuat regulasi. Strategi tersebut dijalankan melalui intensifikasi operasi pasar dengan prinsip 3T, penguatan kerja sama antar daerah, serta pengembangan ekosistem ketahanan pangan hulu-hilir berbasis potensi lokal.
Dengan langkah-langkah tersebut, inflasi Bali tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 331 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 327 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang