Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 18 Mei 2026
Sedih karena Cinta, Menghadapi Relasi dan Kehilangan dalam Pacaran
BERITABALI.COM, DENPASAR.
SEORANG mahasiswi, berusia 21 tahun, berinisial DPD, datang ke ruang pemeriksaan dalam keadaan menangis dan tampak sangat sedih. Ia merupakan mahasiswi semester 6. Keluhan sedih dirasakan sejak satu bulan terakhir dan mulai mengganggu aktivitas kuliahnya.
Ia menjadi sulit berkonsentrasi, sulit memulai tidur hingga baru dapat tidur sekitar pukul 02.00 dini hari, merasa mual, serta mengalami penurunan nafsu makan. Dalam beberapa hari terakhir, ia hanya makan sedikit jajanan dan tidak ingin makan nasi.
Keluhan ini muncul setelah laki-laki yang selama satu tahun terakhir dekat dengannya tiba-tiba menjalin hubungan pacaran dengan perempuan lain. Ia merasa kecewa dan dibohongi karena sebelumnya laki-laki tersebut mengatakan tidak sedang dekat dengan perempuan lain.
Walaupun hubungan mereka tidak pernah memiliki status pacaran resmi, ia merasa kedekatan yang terjalin sudah menyerupai hubungan pacaran. Ia juga memahami bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk marah atau menuntut, karena status hubungan mereka hanya sebatas teman. Di sisi lain, ia sendiri belum pernah berpacaran dan masih merasa belum yakin untuk memulai hubungan resmi.
Gejala depresi yang tampak meliputi perasaan sedih menetap, anhedonia, gangguan konsentrasi, gangguan tidur, dan penurunan nafsu makan. Namun, tidak ditemukan perasaan masa depan suram, rasa putus asa, pesimisme berat, maupun keinginan untuk bunuh diri. Tidak ada keluhan halusinasi, baik mendengar suara maupun melihat sesuatu tanpa sumber yang jelas.
Ia dikenal sebagai pribadi yang rajin, teliti dalam mengerjakan tugas, aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, serta menyukai aktivitas menggambar dan menari. Saat merasa sedih, ia masih mampu mengalihkan perasaan dengan mengikuti kegiatan dan berkumpul bersama sepupunya. Riwayat masa kanak-kanak dan tumbuh kembang tidak menunjukkan masalah bermakna.
Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara dan tinggal bersama kedua orang tua. Ia menggambarkan ibunya sebagai sosok yang cukup dominan, tetapi tidak otoriter. Saat ini, ia enggan menceritakan kondisinya kepada orang tua karena khawatir dimarahi, terutama karena ibunya cenderung menyepelekan keluhan dan kurang mendukung upayanya berobat.
Mengapa pacaran begitu berarti?
Pada usia 21 tahun, seseorang berada dalam fase emerging adulthood, yaitu masa transisi dari remaja akhir menuju dewasa muda. Pada fase ini, identitas diri, kemandirian emosional, pilihan pendidikan, arah karier, relasi sosial, dan relasi romantik sedang dinegosiasikan secara intens. Karena itu, kedekatan dengan lawan jenis tidak hanya bermakna sebagai hubungan interpersonal biasa, tetapi dapat menjadi cermin harga diri, harapan masa depan, rasa dipilih, rasa aman, dan validasi bahwa dirinya berharga.
Bagi DPD, persoalan utama bukan hanya bahwa laki-laki tersebut berpacaran dengan orang lain. Yang lebih mengguncang adalah runtuhnya makna yang selama satu tahun ia bangun dalam pikirannya. Walaupun secara formal hubungan mereka hanya teman, secara psikologis kedekatan itu telah menempati ruang yang menyerupai relasi romantik. Ada komunikasi, harapan, rasa diperhatikan, rasa istimewa, dan barangkali fantasi tentang kemungkinan masa depan.
Ketika laki-laki tersebut tiba-tiba memilih orang lain, DPD tidak hanya kehilangan seseorang, tetapi juga kehilangan narasi batin bahwa “Saya berarti baginya”, “Hubungan ini sedang menuju sesuatu”, dan “Saya cukup layak untuk dipilih”.
Dalam teori attachment, pengalaman kedekatan emosional membentuk sistem rasa aman. Ketika figur yang memberi rasa aman tiba-tiba menjauh atau memilih orang lain, sistem keterikatan dapat teraktivasi kuat. Respons yang muncul dapat berupa kecemasan, ruminasi, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, dan penurunan konsentrasi.
Pada individu yang belum pernah berpacaran, pengalaman pertama tentang kedekatan romantik sering kali terasa lebih intens karena belum tersedia pengalaman pembanding. Relasi itu menjadi satu-satunya bintang di langit. Ketika bintang itu tampak padam, seluruh langit terasa gelap. Terdapat benturan antara rasio dan emosi. Secara rasional ia berkata, “Saya tidak berhak marah karena kami tidak pacaran.”
Namun secara emosional ia merasa dikhianati karena ada janji implisit yang ia tangkap dari kedekatan tersebut. Di sinilah muncul konflik batin dimana ia merasa sakit, tetapi sekaligus menyalahkan dirinya karena merasa tidak pantas untuk sakit. Konflik semacam ini dapat memperberat penderitaan, karena individu tidak hanya menghadapi kehilangan, tetapi juga menghakimi reaksinya sendiri.
Dalam konsep ambiguous loss, seseorang dapat mengalami kehilangan yang tidak jelas batasnya. DPD tidak putus karena tidak pernah resmi pacaran, tetapi ia tetap merasa kehilangan. Tidak ada ritual sosial yang mengakui kehilangan tersebut. Orang lain mungkin berkata, “Kan cuma teman,” padahal secara emosional ia telah berinvestasi. Kehilangan yang tidak diakui ini sering lebih sulit diproses karena individu merasa tidak memiliki legitimasi untuk berduka.
Jika kita bicara tentang relasi romantik pada mahasiswa terdapat pembentukan, pemeliharaan, dan kehilangan hubungan romantik yang berkaitan erat dengan kesehatan mental. Kehilangan figur romantik dapat menjadi stresor bermakna, terutama bila individu menginternalisasi peristiwa itu sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup menarik, tidak cukup layak, atau mudah digantikan. Pada DPD, gejala tidur larut, mual, tidak nafsu makan, dan gangguan konsentrasi menunjukkan bahwa penderitaan emosional telah masuk ke tubuh. Pikiran, emosi, tubuh, relasi, dan fungsi akademik sedang saling memengaruhi.
Makna pacaran dalam siklus kehidupan
Pacaran pada usia dewasa muda bukan sekadar aktivitas romantik. Ia adalah laboratorium perkembangan. Di dalamnya seseorang belajar mengenal diri, mengenal orang lain, membangun batas, menegosiasikan harapan, memahami penolakan, mengelola kecemburuan, membedakan cinta dari ketergantungan, serta belajar bahwa kedekatan yang sehat membutuhkan kejelasan, resiprositas, dan komunikasi.
Pada perkembangan dewasa muda berkaitan dengan krisis intimacy versus isolation. Seseorang belajar membangun kedekatan tanpa kehilangan diri. Ia belajar membuka diri, tetapi tetap memiliki batas. Ia belajar mencintai, tetapi tidak melebur sepenuhnya. Dalam kasus DPD, pengalaman ini dapat menjadi pintu masuk menuju pendewasaan apabila diproses dengan tepat.
Rasa sakitnya nyata, tetapi rasa sakit ini juga dapat menjadi bahan refleksi tentang apa yang ia harapkan dari relasi, batas apa yang perlu ia bangun, tanda-tanda apa yang perlu ia perhatikan, dan bagaimana ia dapat menjaga harga diri meskipun tidak dipilih.
Relasi romantik terdiri atas unsur keintiman, gairah, dan komitmen. Pada DPD, tampaknya terdapat unsur keintiman emosional, mungkin juga ketertarikan, tetapi belum ada komitmen eksplisit. Ketidakseimbangan inilah yang menimbulkan luka. Ia merasa relasi itu bermakna, tetapi tidak ada kontrak emosional yang jelas. Dalam relasi sehat, kejelasan bukan berarti harus segera pacaran, tetapi perlu ada komunikasi jujur tentang posisi masing-masing. Ketika satu pihak memberi sinyal kedekatan, tetapi tetap membuka kemungkinan lain tanpa transparansi, pihak lain dapat mengalami kebingungan emosional.
Selain itu relasi romantik sering berfungsi sebagai arena eksplorasi identitas. Hubungan romantik pada masa remaja akhir dan dewasa muda dipandang berkaitan dengan kesejahteraan, kepuasan hidup, harga diri, kesepian, dan gejala depresi. Kualitas hubungan lebih penting daripada sekadar status memiliki pasangan. Relasi yang suportif dapat memperkuat kesejahteraan, sedangkan relasi yang tidak jelas, tidak aman, atau penuh ketidakpastian dapat menjadi sumber tekanan psikologis.
Pacaran juga menjadi ruang belajar tentang diferensiasi diri. Individu yang matang secara emosional mampu berkata, “Saya menyukaimu, tetapi nilai diri saya tidak ditentukan oleh apakah kamu memilih saya.” Disini boleh dikatakan diferensiasi diri adalah kemampuan mempertahankan identitas dan regulasi emosi di tengah kedekatan dengan orang lain.
Bila diferensiasi diri masih rapuh, penolakan romantik dapat terasa seperti kehancuran diri. Proses individualisasi yang tidak sehat berkaitan dengan kepuasan relasi romantik yang lebih rendah. Dengan kata lain, kemampuan menjadi diri sendiri adalah prasyarat penting untuk mencintai seseorang secara sehat.
Dalam konteks budaya Indonesia, khususnya budaya kolektif, pacaran sering berada di antara dua kutub yaitu di satu sisi dianggap wajar sebagai proses mengenal pasangan namun di sisi lain sering dianggap tabu, mengganggu studi, atau berisiko perusakan moral. Anak muda kemudian belajar tentang relasi secara diam-diam, tanpa pendampingan emosional yang cukup.
Akibatnya, ketika mengalami kebingungan, patah hati, atau konflik relasi, mereka tidak mudah bercerita kepada keluarga. Pada DPD, kekhawatiran dimarahi ibu dan pengalaman keluhannya disepelekan membuat ia kehilangan salah satu sumber dukungan terdekat.
Di sinilah menjadi penting untuk bertanya, “Apa makna penderitaan ini dalam keluarga, budaya, kampus, dan perjalanan hidupnya?” DPD masih memiliki faktor protektif dimana ia rajin, aktif, memiliki minat menggambar dan menari, masih mampu berkumpul dengan sepupu, dan tidak menunjukkan ide bunuh diri. Faktor-faktor ini penting untuk diperkuat. Namun, penderitaannya tetap perlu divalidasi agar tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.
Membentuk ruang aman untuk pendewasaan diri
Bagi DPD, hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa rasa sedih yang ia alami merupakan pengalaman emosional yang valid. Ia memang kehilangan harapan, kehilangan kedekatan, dan kehilangan bayangan tentang kemungkinan hubungan yang selama ini ia bangun dalam pikirannya.
Namun, rasa sedih tersebut tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai bukti bahwa dirinya tidak berharga. Tidak dipilih oleh satu orang bukan berarti ia tidak layak dicintai. Dikhianati oleh satu harapan bukan berarti masa depan relasinya telah tertutup. Dalam bahasa yang lebih manusiawi, langit tidak kehilangan seluruh cahayanya hanya karena satu bintang menjauh.
Proses pemulihan DPD dapat dimulai dengan memberi nama pada emosinya secara jujur, misalnya dengan menyadari bahwa ia sedang sedih karena kehilangan harapan. Setelah itu, ia perlu belajar memisahkan fakta dari interpretasi. Faktanya adalah laki-laki tersebut memilih menjalin hubungan dengan orang lain.
Namun, interpretasi seperti “Saya tidak cukup baik” atau “Saya tidak layak dipilih” belum tentu benar. DPD juga perlu merawat tubuhnya sebagai bagian dari pemulihan jiwa, karena gangguan tidur, mual, dan penurunan nafsu makan menunjukkan bahwa tekanan emosional sudah berdampak pada kondisi fisik.
Tidur yang lebih teratur, makan dalam porsi kecil tetapi konsisten, mengurangi ruminasi pada malam hari, serta kembali melakukan aktivitas yang memberi rasa hidup seperti menggambar, menari, dan berkumpul bersama sepupu dapat menjadi langkah awal pemulihan. Selain itu, ia perlu membangun batas komunikasi dengan figur yang melukai, setidaknya untuk sementara waktu, agar luka emosional tidak terus-menerus terbuka.
Dalam proses pendewasaan, DPD juga perlu memahami bahwa relasi yang sehat memerlukan kejelasan, kesetaraan, batas pribadi, penghargaan terhadap pilihan, komunikasi yang jujur, dan kemampuan menerima kenyataan ketika harapan tidak berjalan sesuai keinginan. Seseorang boleh berharap, tetapi perlu tetap mengecek realitas. Seseorang boleh mencintai, tetapi tidak boleh menggantungkan seluruh harga dirinya pada respons satu orang.
Keluarga juga memiliki peran penting dalam membantu anak muda memahami pengalaman emosionalnya, termasuk ketika ia mulai mengenal ketertarikan terhadap lawan jenis. Sering kali keluarga ingin melindungi anak dari kekecewaan, luka hati, atau risiko dalam relasi, sehingga sering muncul saran “Jangan dulu pacaran, kamu masih kecil, belajar dulu, kalau sudah selesai kuliah baru pacaran.”
Tetapi perlindungan yang terlalu menekan justru dapat membuat anak tidak memiliki ruang belajar yang sehat. Mengenal lawan jenis merupakan bagian dari perkembangan psikososial yang wajar, terutama pada masa dewasa muda. Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukanlah pembiaran tanpa batas, melainkan pendampingan yang hangat, realistis, terbuka, dan tidak menghakimi.
Pada kasus DPD, respons keluarga menjadi sangat menentukan. Apabila keluarga, terutama ibu, merespons keluhan DPD dengan kalimat yang meremehkan seperti “Begitu saja sedih” atau “Kamu terlalu baper”, maka DPD dapat merasa bahwa penderitaannya tidak dianggap sah. Akibatnya, ia mungkin menjadi semakin tertutup, enggan mencari pertolongan, mencari dukungan dari tempat yang belum tentu aman, atau bahkan memandang kesedihan sebagai kelemahan diri.
Sebaliknya, bila keluarga mampu hadir dengan sikap menerima, misalnya dengan mengatakan, “Ibu mungkin belum sepenuhnya mengerti apa yang kamu rasakan, tetapi Ibu mau mendengarkan,” maka rumah dapat kembali menjadi tempat yang aman secara emosional.
Dalam perspektif budaya, membicarakan pacaran di dalam keluarga bukan berarti mendorong anak untuk bebas tanpa nilai. Justru dialog yang sehat dapat menjadi ruang untuk menanamkan nilai tentang menghargai diri, menjaga batas, mengenali relasi yang tidak sehat, membangun komunikasi yang jujur, serta memahami bahwa cinta tidak boleh menghilangkan martabat diri.
Pacaran menjadi bermakna karena ia menyentuh kebutuhan terdalam manusia untuk dilihat, dipilih, dihargai, dan dianggap istimewa. Namun, pendewasaan terjadi ketika seseorang mulai menyadari bahwa nilai dirinya tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada keputusan orang lain. Pengalaman ini, apabila dipahami dan didampingi dengan baik, dapat menjadi jalan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang, lebih sadar akan batas dirinya, dan lebih siap membangun relasi yang sehat di masa depan. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1499 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1130 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 978 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 866 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik