Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 5 Mei 2026
Krisis Perselingkuhan pada Pernikahan Dini sebagai Pemicu Penderitaan Psikologis
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang perempuan berusia 31, tahun, berinisial LMS, datang dengan keluhan sedih yang berlangsung selama delapan bulan dan semakin berat terutama saat sendiri pada malam hari. Kondisi ini bermula setelah mengetahui suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain.
Sejak saat itu, ia mengalami kehilangan minat bekerja, mudah lelah, lebih banyak berdiam diri, serta kesulitan berkonsentrasi hingga harus dipindahkan dari bagian meracik obat ke administrasi pada tempatnya bekerja di sebuah klinik kecantikan.
Ia merasa kehilangan kepercayaan diri dalam menjalani hidup karena terbiasa ada suami yang diajak berdiskusi. Ia mengatakan bahwa dirinya menggantungkan kebahagiaannya kepada suami, sehingga merasa tidak berguna dan selalu menyalahkan diri sendiri tehadap kejadian yang terjadi. Ia juga merasa masa depannya suram terkait dengan pernikahannya dan sempat melakukan percobaan bunuh diri dengan mencoba meminum cairan pembersih muka namun dihalangi oleh suaminya dan sempat beberapa kali membenturkan kepala karena ingin mati setelah kejadian tersebut.
Tidurnya dirasakan terganggu sudah selama 8 bulan. Ia sulit untuk memulai tidur dan sering terbangun. Ia mengatakan bahwa ia baru bisa tidur pukul 04.00 pagi dan bangun sesuka hati. Selama sulit tidur ia akan menangis karena memikirkan suaminya. Nafsu makannya menurun signifikan dengan penurunan berat badan sekitar 10 kg dalam delapan bulan.
Ia tidak merasa lapar terutama jika mengingat suaminya. Ia sering teringat jika suami pulang berlayar, ia akan memasakkan makanan di kosnya. Namun setelah kejadian ini ia tidak mau lagi memasak di kosannya. Tidak ditemukan riwayat episode manik, perilaku impulsif, maupun gejala psikotik sebelumnya.
Ia telah menikah selama satu tahun setelah berpacaran selama enam tahun. Suaminya bekerja di kapal pesiar. Konflik memuncak saat ia mengetahui suami telah pulang tanpa memberi kabar dan kemudian mengajukan perceraian. Ia berupaya mempertahankan perkawinannya, termasuk menerima anak hasil perselingkuhan sebagai anak angkat, namun hal itu ditolak oleh suaminya.
Saat ini ia tinggal sendirian, dengan dukungan terbatas dari keluarga sendiri, sementara keluarga suami tidak mendukung. Sebelumnya ia dikenal sebagai orang yang ceria dan mandiri, kini ia menjadi lebih tertutup, sering menangis, dan menarik diri.
Pernikahan dan perselingkuhan
Pernikahan yang baru berjalan satu tahun kerap diasosiasikan dengan fase honeymoon, yaitu periode yang ditandai oleh idealisasi pasangan, intensitas kelekatan emosional yang tinggi, serta komitmen yang masih dalam proses penguatan. Namun, secara klinis dan sosiologis, fase ini justru merupakan periode yang rentan terhadap disrupsi relasional.
Ketidaksiapan psikologis terhadap transisi peran menjadi determinan utama. Meskipun LMS dan pasangannya telah menjalani hubungan pra-nikah selama enam tahun, pernikahan menghadirkan tuntutan yang secara kualitatif berbeda, termasuk kebutuhan untuk membangun komitmen jangka panjang, mengelola tanggung jawab ekonomi, serta menegosiasikan identitas individu dalam sistem relasi dyadik.
Relasi yang sebelumnya berbasis afeksi dan fleksibilitas berubah menjadi struktur yang lebih kompleks dan menuntut stabilitas emosional yang lebih matang. Ketika kapasitas adaptif individu tidak memadai, maka ketegangan yang muncul dapat dimanifestasikan dalam bentuk ketidakpuasan relasional dan strategi koping maladaptif, termasuk keterlibatan dalam hubungan di luar pernikahan.
Selain itu, faktor pekerjaan yang mengharuskan adanya jarak fisik yang berkepanjangan juga berkontribusi signifikan terhadap kerentanan relasi. Dalam kasus ini, pekerjaan suami sebagai pekerja kapal pesiar menciptakan kondisi long-distance marriage yang tidak hanya memisahkan secara geografis, tetapi juga berpotensi menciptakan jarak emosional. Ketidakhadiran pasangan dalam kehidupan sehari-hari dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan afeksi, kedekatan, dan validasi emosional. Dalam kondisi seperti ini, individu dengan kebutuhan kelekatan yang tinggi menjadi lebih rentan mengalami distress, sementara individu dengan kecenderungan avoidant dapat semakin menjauh secara emosional.
Kombinasi ini menciptakan ruang bagi terjadinya disengagement, yang dalam beberapa kasus dimediasi oleh pencarian kedekatan alternatif di luar relasi pernikahan. Disparitas dalam gaya kelekatan turut memperburuk dinamika tersebut. LMS menunjukkan karakteristik anxious-preoccupied attachment, yaitu kecenderungan untuk menggantungkan harga diri dan stabilitas emosional pada keberadaan pasangan.
Pola ini ditandai dengan kebutuhan tinggi akan kedekatan, sensitivitas terhadap penolakan, serta ketakutan akan kehilangan. Jika berhadapan dengan pasangan yang memiliki kecenderungan avoidant yang cenderung menghindari kedekatan emosional dan lebih menekankan otonomi maka akan terbentuk pola interaksi pursuer-distancer.
Dalam pola ini, satu pihak semakin mendekat untuk mencari kepastian, sementara pihak lain semakin menjauh untuk mempertahankan jarak, sehingga meningkatkan ketegangan relasional. Kondisi ini dapat memunculkan perselingkuhan sebagai bentuk pelarian atau kompensasi terhadap kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Lebih lanjut, dimensi budaya dan konstruksi peran gender dalam masyarakat turut memainkan peran penting. Dalam konteks budaya Bali yang masih kental dengan nilai kolektivistik dan patriarkal, perempuan sering diposisikan sebagai penjaga keutuhan keluarga dan dituntut untuk mempertahankan relasi meskipun dalam kondisi disfungsional.
Sebaliknya, laki-laki dalam beberapa konteks sosial masih memperoleh toleransi yang lebih besar terhadap perilaku menyimpang seperti perselingkuhan. Asimetri ini menciptakan ketimpangan kekuasaan dalam relasi, di mana pelanggaran komitmen tidak selalu diikuti dengan konsekuensi sosial yang setara. Hal ini tidak hanya memfasilitasi terjadinya perselingkuhan, tetapi juga memperumit proses pemulihan bagi pihak yang dirugikan.
Untuk itu perselingkuhan dalam pernikahan yang masih relatif baru tidak dapat direduksi sebagai kegagalan moral semata, melainkan perlu dipahami sebagai fenomena multidimensional yang melibatkan interaksi antara faktor intrapsikis, relasional, dan sosiokultural. Pendekatan yang komprehensif menjadi penting untuk memahami akar permasalahan sekaligus merancang intervensi yang tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga pada sistem relasi dan konteks sosial yang lebih luas.
Memahami penderitaan dalam perselingkuhan
Kasus LMS menunjukkan gambaran klinis yang konsisten dengan episode depresi dengan derajat berat, disertai risiko bunuh diri yang bermakna. Penderitaan yang dialami tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga mencerminkan disorganisasi pada berbagai lapisan fungsi psikologis, sosial, dan biologis. Dari perspektif psikodinamik, LMS memperlihatkan pola ketergantungan emosional yang tinggi terhadap figur pasangan, yang kemungkinan berakar dari konfigurasi relasi objek sebelumnya.
Dalam struktur ini, suami berfungsi sebagai primary attachment figure yang menjadi sumber rasa aman, validasi diri, serta fondasi identitas personal. Ketika figur ini melakukan pengkhianatan, terjadi suatu narcissistic injury yang signifikan yakni luka pada inti harga diri yang bersifat eksistensial.
Baca juga:
Dari Trauma ke Chemsex: Integrasi Diri dalam Pergulatan Kecanduan, Seksualitas, dan Makna Hidup
Reaksi LMS tidak sekadar kesedihan biasa, melainkan mencerminkan keruntuhan sistem representasi diri dan objek. Mekanisme pertahanan yang muncul pun relatif primitif namun dapat dipahami dalam konteks tekanan psikologis yang berat. Introjeksi negatif tampak melalui kecenderungan menyalahkan diri sendiri atas peristiwa yang terjadi, sementara regresi terlihat dari perilaku menarik diri, menangis, dan ketergantungan emosional yang meningkat.
Ambivalensi afektif juga jelas terlihat, di mana LMS tetap berupaya mempertahankan relasi meskipun mengalami luka yang mendalam. Bahkan, kesediaannya untuk menerima anak hasil perselingkuhan dapat dipahami sebagai bentuk overcompensation, sebuah upaya ekstrem untuk mempertahankan objek cinta sekaligus menghindari kehilangan total terhadap figur yang menjadi pusat kehidupannya.
Pada dimensi psikososial, penderitaan LMS dipicu oleh akumulasi kehilangan yang bersifat multidimensional. Ia tidak hanya kehilangan pasangan secara emosional, tetapi juga kehilangan harapan terhadap pernikahan, peran sebagai istri, serta struktur kehidupan yang sebelumnya memberikan makna. Kondisi ini diperburuk oleh isolasi sosial, di mana ia tinggal sendiri dengan dukungan yang terbatas, serta mengalami disrupsi peran dalam pekerjaan akibat gangguan konsentrasi dan fungsi kognitif.
Dalam kerangka model stress-diathesis, LMS kemungkinan memiliki kerentanan psikologis berupa dependency dan harga diri yang rendah, yang dalam kondisi stresor berat seperti perselingkuhan berkembang menjadi dekompensasi klinis. Trauma pengkhianatan memiliki dampak yang sebanding dengan trauma interpersonal lainnya, termasuk peningkatan risiko depresi berat, gangguan stres pascatrauma, serta ide bunuh diri.
Dalam konteks ini, pengalaman LMS dapat dipahami sebagai bentuk trauma relasional yang tidak hanya melukai kepercayaan, tetapi juga merusak struktur makna dan keamanan psikologis yang sebelumnya ia miliki.
Secara neurobiologis, kondisi LMS mencerminkan adanya disregulasi sistem stres dan neurotransmiter yang berperan dalam regulasi mood dan fungsi kognitif. Disfungsi pada sistem monoamine terutama serotonin, norepinefrin, dan dopamine berkontribusi terhadap munculnya gejala depresi seperti suasana hati yang menurun, kehilangan minat (anhedonia), serta kelelahan yang persisten.
Aktivasi kronis dari aksis HPA akibat stres psikologis berkepanjangan menyebabkan peningkatan kadar kortisol, yang pada gilirannya berdampak negatif terhadap struktur dan fungsi otak. Pada sistem limbik, amigdala menjadi hiperresponsif terhadap stimulus emosional, khususnya yang berkaitan dengan memori tentang pasangan, sehingga memperkuat respons afektif negatif dan ruminasi.
Sementara itu, hipokampus berperan dalam pengolahan memori intrusif yang memperpanjang pengalaman penderitaan. Disfungsi pada korteks prefrontal turut menjelaskan gangguan konsentrasi, penurunan kemampuan pengambilan keputusan, serta kontrol impuls yang melemah, termasuk dalam konteks ide dan perilaku bunuh diri. Pengalaman penolakan romantik dan pengkhianatan mengaktivasi area otak yang sama dengan nyeri fisik, khususnya pada anterior cingulate cortex, sehingga secara subjektif penderitaan tersebut dirasakan sebagai sesuatu yang sangat nyata dan menyakitkan.
Gangguan tidur yang kronis, kesulitan memulai tidur, serta pola tidur yang terbalik, bersama dengan penurunan nafsu makan yang signifikan hingga menyebabkan penurunan berat badan, semakin memperkuat gambaran depresi berat dengan implikasi biologis yang nyata. Terdapat disfungsi kompleks yang melibatkan interaksi erat antara dinamika intrapsikis, tekanan sosial, dan perubahan neurobiologis dalam diri LMS.
Menjaga keutuhan dan menavigasi krisis perselingkuhan
Kasus LMS tidak hanya merepresentasikan penderitaan individual, tetapi juga mencerminkan kompleksitas dinamika relasi dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas. Krisis akibat perselingkuhan tidak terjadi dalam ruang hampa namun ia berinteraksi dengan nilai, peran, dan struktur dukungan yang ada di sekitar individu.
Bagi perempuan seperti LMS, krisis ini menjadi titik balik untuk membangun kembali sense of self yang lebih otonom. Ketergantungan emosional yang sebelumnya terpusat pada pasangan perlu direstrukturisasi menuju identitas diri yang lebih mandiri dan terintegrasi.
Dalam kerangka psikologi humanistik, proses ini berkaitan erat dengan penguatan self-actualization dan internal locus of control, di mana individu mulai memaknai dirinya bukan semata melalui relasi eksternal, tetapi melalui nilai, tujuan, dan kapasitas intrinsiknya. Proses ini tidak mudah, terutama ketika individu berada dalam kondisi depresi, namun menjadi krusial untuk pemulihan jangka panjang.
Secara praktis, perempuan perlu mengembangkan identitas di luar peran sebagai istri, memperluas jejaring sosial sebagai sumber dukungan emosional, serta mengakses bantuan profesional untuk mengelola distress psikologis yang mendalam. Lebih jauh, kemampuan untuk melakukan meaning-making terhadap pengalaman traumatik menjadi kunci dalam membangun resiliensi. Individu yang mampu merekonstruksi makna dari pengalaman kehilangan atau pengkhianatan memiliki peluang pemulihan yang lebih baik, baik secara emosional maupun fungsional.
Dari perspektif suami, perselingkuhan perlu dipahami bukan sekadar sebagai pelanggaran norma atau kesalahan moral, tetapi sebagai tindakan yang menimbulkan trauma relasional yang signifikan bagi pasangan. Oleh karena itu, proses pemulihan relasi jika diupayakan maka perlu mensyaratkan adanya accountability yang utuh, yaitu pengakuan tanpa defensif terhadap dampak yang ditimbulkan.
Selain itu, diperlukan kapasitas empatik untuk memahami kedalaman luka psikologis yang dialami pasangan, bukan hanya pada level kognitif, tetapi juga afektif. Kesediaan untuk menjalani terapi pasangan menjadi indikator penting dari komitmen untuk memperbaiki relasi secara struktural, bukan sekadar simbolik.
Dalam praktik klinis, rekonsiliasi yang berkelanjutan hanya mungkin terjadi apabila terdapat reparasi emosional yang autentik, yang mencakup konsistensi perilaku, transparansi, serta proses rekonstruksi kepercayaan secara bertahap. Tanpa elemen ini, upaya mempertahankan hubungan justru berpotensi memperpanjang penderitaan.
Pada kasus ini, terdapat indikator klinis yang berat, yaitu depresi mayor dengan gejala signifikan, riwayat percobaan bunuh diri, penurunan fungsi pekerjaan, serta ketergantungan emosional yang tinggi terhadap pasangan. Dalam kondisi demikian, prioritas utama bukanlah mempertahankan pernikahan, melainkan melakukan stabilisasi kondisi mental LMS terlebih dahulu. Keputusan besar seperti rujuk atau bercerai sebaiknya tidak diambil dalam fase akut depresi, karena adanya distorsi kognitif seperti hopelessness dan self-blame yang dapat mengganggu penilaian secara objektif.
Dari perspektif relasional, terdapat tiga pertanyaan kunci yang relevan untuk mengevaluasi kelayakan mempertahankan hubungan, yaitu apakah masih terdapat komitmen timbal balik, apakah terdapat akuntabilitas nyata dari pihak suami, serta apakah relasi tersebut masih aman secara psikologis bagi LMS.
Dalam kasus ini, suami justru mengajukan perceraian dan menolak upaya LMS untuk mempertahankan hubungan, yang menunjukkan rendahnya kemungkinan rekonsiliasi yang sehat. Tanpa adanya komitmen bersama dan proses reparasi emosional dari kedua belah pihak, mempertahankan pernikahan justru berisiko memperpanjang penderitaan psikologis LMS.
Dalam konteks ini, mempertahankan relasi tidak lagi mencerminkan kekuatan, tetapi dapat menjadi manifestasi dari ketergantungan emosional yang belum terselesaikan. Secara hipotetik, jika relasi ingin dipertahankan, maka diperlukan prasyarat klinis yang ketat, seperti keterlibatan dalam terapi pasangan, transparansi penuh dari pihak suami, penghentian total hubungan dengan pihak ketiga, serta komitmen untuk membangun kembali kepercayaan secara bertahap dan terstruktur. Tanpa elemen-elemen tersebut, prognosis relasi cenderung tidak menguntungkan.
Oleh karena itu, sangat penting bagi LMS untuk menjalani proses ini dengan pendampingan profesional, baik dari psikiater maupun psikolog, serta didukung oleh sistem sosial yang memadai. Secara klinis, posisi yang paling aman saat ini adalah memfokuskan intervensi pada stabilisasi depresi dan pencegahan bunuh diri, menunda pengambilan keputusan besar hingga kondisi mental lebih stabil, serta melakukan evaluasi ulang terhadap relasi secara lebih rasional ketika kapasitas emosional telah pulih. Pendekatan ini tidak hanya melindungi LMS dari risiko yang lebih besar, tetapi juga memberikan ruang bagi pengambilan keputusan yang lebih matang dan berorientasi jangka panjang.
Sementara itu, keluarga dan komunitas memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menentukan arah perjalanan krisis ini. Dalam perspektif psikiatri komunitas, dukungan sosial merupakan salah satu faktor protektif paling kuat terhadap depresi berat dan perilaku bunuh diri. Kehadiran keluarga yang suportif dapat menjadi penyangga emosional yang signifikan, sementara komunitas dapat menyediakan ruang aman untuk berbagi dan memulihkan diri.
Intervensi yang berbasis komunitas, seperti edukasi mengenai kesehatan mental, pengurangan stigma terhadap perceraian dan gangguan psikologis, serta pengembangan sistem dukungan seperti Posyandu Jiwa, menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Pendekatan berbasis budaya juga perlu diintegrasikan secara sensitif, dengan memanfaatkan nilai-nilai lokal seperti gotong royong, kebersamaan, dan spiritualitas sebagai sumber kekuatan kolektif. Dalam banyak kasus, nilai-nilai ini dapat menjadi fondasi penting dalam membangun kembali makna dan harapan.
Pada akhirnya, kasus LMS memperlihatkan bahwa perselingkuhan dapat memicu krisis eksistensial yang mendalam, terutama ketika individu menggantungkan identitas dan kebahagiaannya pada relasi tersebut. Pemahaman terhadap kondisi ini tidak boleh berhenti pada diagnosis klinis semata. Diperlukan pendekatan yang lebih luas dan integratif, yang mencakup dinamika relasional, konteks sosial, serta mekanisme biologis yang mendasari penderitaan.
Meskipun pengalaman yang dialami LMS sangat menyakitkan, baik secara psikologis, sosial, maupun neurobiologis namun krisis ini juga membuka kemungkinan bagi transformasi. Dengan intervensi yang tepat, dukungan yang memadai, serta proses refleksi yang mendalam, individu tidak hanya memiliki peluang untuk pulih, tetapi juga untuk membangun kembali kehidupan yang lebih bermakna, autentik, dan berdaya. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 419 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 362 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 354 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang