Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 7 Oktober 2026
Dampak Kekeringan di Jembrana, 89 Hektare Sawah Gagal Panen
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Musim kemarau yang berkepanjangan semakin memukul sektor pertanian di Kabupaten Jembrana, Bali. Berdasarkan laporan resmi kerusakan tanaman akibat dampak perubahan iklim (DPI) kekeringan tahun 2026, total lahan pertanian terdampak mencapai 143,05 hektare.
Lahan terdampak tersebar di lima kecamatan dengan tingkat kerusakan mulai kategori ringan hingga berat. Dari total tersebut, 89,46 hektare dipastikan mengalami gagal panen atau puso.
Sementara itu, sebanyak 47,39 hektare lahan berhasil dipulihkan. Sedangkan sekitar 5,8 hektare lainnya masih dalam upaya penanganan darurat.
Kekeringan melanda kawasan persawahan dan tegalan di Kecamatan Negara, Jembrana, Melaya, Mendoyo, dan Pekutatan.
Di Kecamatan Negara, lahan terdampak tersebar di sejumlah subak, di antaranya Subak Peh, Kaliakah Munduk, Tegal Jati, Telepus Sari, Tegaltwani, Pangkung Buluh, serta Pangkung Jelebung I dan II.
Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Jembrana, meliputi Subak Tegallantang, Tegaltwani Dauhwaru, Jelinjing Budeng, Babakan Yeh Kuning, dan Babakan Bayu.
Sementara di Kecamatan Melaya, kekeringan melanda Subak Manistutu Timur, Susunsari, Tibuparas, dan Manistutu Barat.
Dampak paling parah tercatat di Kecamatan Mendoyo. Sebanyak 20 hektare sawah di Subak Yeh Mendoyo seluruhnya mengalami puso.
Kekeringan juga berdampak pada tanaman padi dan komoditas jagung di Kecamatan Pekutatan, khususnya di Subak Air Satang dan Subak Pangkung Serangsang.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Kabupaten Jembrana, I Putu Eka Arta, mengatakan pihaknya terus mengawal upaya penyelamatan tanaman pangan milik petani.
Mitigasi darurat dilakukan dengan mengatur pola distribusi pasokan air ke lahan pertanian yang terdampak.
"Kami terus memantau situasi di lapangan dan memaksimalkan langkah penyelamatan tanaman petani, salah satunya melalui sistem pergiliran distribusi air serta pemanfaatan sarana sumur bor yang ada di kawasan subak," ujar I Putu Eka Arta.
Namun, pasokan air baku di Jembrana semakin menyusut akibat kemarau yang berkepanjangan. Kondisi tersebut membuat infrastruktur pengairan yang tersedia kewalahan memenuhi kebutuhan air untuk lahan pertanian dalam cakupan luas.
"Kapasitas sumur bor yang tersedia di subak belum mencukupi untuk mengairi seluruh hamparan lahan terdampak. Akibatnya jadwal pengairan harus digilir ketat dan terbatas, sehingga pasokan air tidak optimal bagi tanaman dan sebagian di antaranya terpaksa berakhir puso," pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1464 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1233 Kali
Konsensus Politik Tanpa Musuh Era Prabowo Subianto
Dibaca: 679 Kali
Dermaga MB 2 Diperbaiki, Antrean Gilimanuk Mengular 400 Meter
Dibaca: 571 Kali
Giliran Anggota Satresnarkoba Polresta Denpasar Terseret Kasus Senpi
Dibaca: 544 Kali
ABOUT BALI
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung