Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 14 Juni 2026
Jeritan Hati PKL dan Tukang Ojek
Gilimanuk
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Ratusan pedagang kali lima (PKL) dan tukang ojek mendemo Kantor Lurah Gilimanuk yang kemudian beralih ke ASDP Gilimanuk merasa dirinya sudah sangat terjepit. Kondisi mereka yang sudah hidup pas-pasan akibat terjangan krisis ekonomi berkepanjangan semakin tidak menentu lantaran
mereka terancam kehilangan lahan penghidupan.
Berikut curahan isi hati PKL dan tukang ojek yang terpantau saat mereka demo ke Kantor Lurah Gilimanuk, Kamis (16/7). Mereka mengaku sudah hidup susah lalu semakin terjepit lantaran mereka “diusir” dari Pelabuhan Gilimanuk.
“Kami sudah susah kini makin terjepit. Kenapa kami diusir dari pelabuhan sementara orang luar diberikan tempat mencari makan di pelabuhan,” teriak seorang pedagang. Pedagang lainnya juga meneriakkan kalau mereka tidak membutuhkan sumbangan setahun sekali dari ASDP yang menurut mereka nilainya tidak seberapa asal tetapi tidak diberikan mencari nafkah di pelabuhan.
“Kami tidak perlu sumbangan. Kami hanya ingin diberikan ijin mencari nafkah di pelabuhan karena sejak dulu pelabuhan adalah sumber penghidupan kami,”ujarnya. Komang, seorang pedagang lainya mengatakan jika ASDP tetap ngotot dengan kebijakannya itu maka 800 pedagang akan kehilangan penghasilan.
“Ini artinya keluarga kami juga tidak makan,” ujarnya. Sementara Widi, pedagang lainya menambahkan selama berjualan di pelabuhan mereka mengaku sudah mengikuti aturan main yang diterapkan ASDP termasuk membayar pas masuk Rp. 2 ribu dan memberihkan lokasi berjualan setelah tutup. “Kalau kami tak ikut aturan wajar kami digusur,” ucapnya.
I Nengah Karianta, seorang PKL mengaku heran dengan kebijakan yang dibuat ASDP. “Kebijakan ini aneh sekali. Sepengetahuan saya pelabuhan lain termasuk Ketapang pedagang tetap diberikan mencari nafkah. Silahkan cek ke pelabuhan lainnya,” tandasnya.
Menurutnya, PKL dan ojek di Gilimanuk yang dilakoni oleh orang lokal merasa dikucilkan oleh orang pendatang. “Kok malah ASDP membuat kantin yang dikontrakkan oleh orang luar. Padahal menteri tidak memperbolehkan,” ujarnya.
Karianta menilai kebijakan ASDP ini tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah untuk memerangi kemiskinan lantaran larangan ASDP ini akan otomatis membuat ratusan warga Gilimanuk menjadi pengangguran.
Supandi, perwakilan ojek menambahkan percuma kalau Pelabuhan Gilimanuk dibuat menjadi pelabuhan bertaraf internasional sementara masyarakat di sekelilingnya kelaparan. “Buat apa ada pelabuhan internasional kalau warga sekelilingnya kelaparan. Daripada kelaparan lebih baik kami mati perang sekalian,”teriaknya.
Supandi meminta agar ada solusi terbaik secepatnya sehingga mereka bisa menyambung hidup. “Di Ketapang ojek dan pedagang boleh masuk pelabuhan tapi di Gilimanuk tidak. Kalau ojek tak boleh masuk, keluarga empat ratus ojek disuruh makan apa. makan pasir?” tandasnya. (dey)
Reporter: -
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli