Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben

Sabtu, 18 Juli 2026, 15:22 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok beritabali.com/Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JAKARTA.

Tradisi Ngaben di Bali terus mengalami perubahan seiring berkembangnya kondisi sosial, ekonomi, dan gaya hidup masyarakat. Jika selama ini prosesi Ngaben identik dengan penggunaan bade yang megah dan membutuhkan biaya besar, kini semakin banyak umat Hindu memilih krematorium sebagai alternatif yang lebih praktis tanpa mengurangi nilai spiritual upacara.

Fenomena tersebut diungkapkan Periset Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PRMLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), I Made Budiasa, dalam diskusi bertema "Collective Memory, Heritage, and Community" pada rangkaian lokakarya internasional "Doing Critical Island Studies in Southeast Asia" di Jakarta, Selasa (14/7).

Budiasa menjelaskan, masyarakat Bali, terutama generasi muda, kini dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan bentuk tradisi yang telah berlangsung turun-temurun atau menyesuaikannya dengan tuntutan kehidupan modern. Dari hasil penelitiannya, pelaksanaan Ngaben secara konvensional diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp80 juta hingga Rp100 juta. Sementara melalui krematorium, upacara yang tetap memenuhi ketentuan agama dapat dilaksanakan dengan biaya sekitar Rp32 juta.

"Generasi muda cenderung lebih terbuka terhadap penggunaan krematorium. Pilihan ini bukan berarti mengurangi penghormatan kepada leluhur, melainkan bentuk penyesuaian agar keluarga tetap dapat menjalankan kewajiban keagamaan tanpa mengorbankan kebutuhan penting lainnya, seperti pendidikan anak. Di sini tampak adanya dinamika yang oleh para ilmuwan disebut sebagai religious marketplace, yakni ketika praktik dan layanan keagamaan beradaptasi dengan kebutuhan, preferensi, dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat modern," ujar Budiasa.

Ia menambahkan, urbanisasi juga menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan tersebut. Banyak masyarakat Bali yang kini tinggal di wilayah perkotaan memiliki keterbatasan waktu karena tuntutan pekerjaan dan tidak lagi dapat terlibat secara penuh dalam tradisi ngayah seperti yang masih berlangsung di desa adat.

Dalam kondisi tersebut, krematorium menjadi solusi agar umat Hindu tetap dapat melaksanakan Ngaben secara layak tanpa mengurangi makna spiritual yang terkandung dalam ritual tersebut.

Menurut Budiasa, bagi sebagian masyarakat Bali, Ngaben bukan hanya prosesi pelepasan roh menuju alam leluhur, tetapi juga menjadi bentuk bakti keluarga yang selama ini sering dikaitkan dengan prestise sosial.

“Pelaksanaan Ngaben secara konvensional membutuhkan persiapan panjang, melibatkan banyak orang, dan memerlukan biaya yang besar. Perubahan pola kehidupan modern kemudian mendorong sebagian masyarakat mencari bentuk pelaksanaan ritual yang lebih efisien,” jelasnya.

Selain menghemat waktu dan biaya, keberadaan krematorium juga dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan, mobilitas tinggi, serta aktivitas pekerjaan yang padat. Bagi generasi muda, penggunaan krematorium dipandang sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan kewajiban religius kepada leluhur.

Dalam diskusi yang diselenggarakan PRMLTL BRIN bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) tersebut juga dibahas bahwa penggunaan krematorium bukan hanya menunjukkan perubahan teknis dalam pelaksanaan ritual, tetapi juga mencerminkan pergeseran nilai, praktik budaya, dan cara masyarakat memaknai warisan leluhur di tengah dinamika kehidupan modern.

Adaptasi Tradisi dengan Perkembangan Zaman

Menanggapi hasil riset tersebut, Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) sekaligus Guru Besar Purnabakti Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Prof. Melani Budianta, menilai penggunaan krematorium menunjukkan kemampuan masyarakat Bali beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai budaya dan spiritual.

"Situasi itu merupakan bentuk lompatan teknologi yang menghadirkan efisiensi dalam pelaksanaan ritual. Pergeseran dari pembakaran terbuka menuju krematorium tertutup adalah inovasi budaya yang tidak menghilangkan esensi filosofis Ngaben. Yang berubah adalah mediumnya, sementara makna spiritualnya tetap dipertahankan. Bahkan, pendekatan ini berpotensi lebih ramah lingkungan. Tantangan ke depan adalah memahami bagaimana masyarakat terus memaknai kesucian ritual di tengah perubahan sosial dan modernitas," kata Melani.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa transformasi pelaksanaan Ngaben di Bali bukan sekadar perubahan teknis, melainkan bagian dari proses penyesuaian antara tradisi, ajaran agama, perkembangan teknologi, serta dinamika sosial dan ekonomi masyarakat. Temuan ini menjadi gambaran bagaimana warisan budaya Bali terus berkembang mengikuti perubahan zaman, sembari tetap mempertahankan nilai-nilai spiritual yang menjadi inti dari pelaksanaan Ngaben. (sumber: BRIN)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami