Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Seniman Ubud Nyoman Bratayasa Gelar Pameran “Road to Tatah Natah” di Jakarta

Rabu, 5 November 2025, 16:57 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Seniman Ubud Nyoman Bratayasa Gelar Pameran Road to Tatah Natah di Jakarta.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, GIANYAR.

Seniman asal Banjar Gelogor, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Gianyar, I Nyoman Bratayasa, kembali menorehkan prestasi penting dalam perjalanan berkeseninya. 

Ia tampil di panggung nasional melalui pameran tunggal bertajuk Road to Tatah Natah di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, yang berlangsung dari 1 November hingga 31 Desember 2025.

Dalam suasana hangat dan penuh makna, para kolektor dan pecinta seni dapat berdialog langsung dengan Bratayasa mengenai proses kreatif dan spiritual yang menjadi dasar setiap karyanya. Pameran ini dibuka secara resmi oleh pecinta seni Ifal Ifal Hutagalung dan juga dihadiri oleh seorang artist Hydea asal Jepang.

Bratayasa menampilkan karya lukisan di atas kertas dan kanvas, serta pahatan pada media batu padas—material yang menjadi identitas khasnya. Melalui Road to Tatah Natah, ia memperkenalkan nilai-nilai spiritual serta filosofi Bali melalui medium visual yang lahir dari pengalaman batin dan kepekaan diri terhadap kehidupan.

“Setiap karya memiliki roh. Saya ingin menghadirkan semangat spiritual dan kesadaran budaya Bali di setiap guratan dan tatahannya,” ujar Bratayasa, Selasa (4/11).

Pameran ini juga menjadi ruang dialog antara seniman dan penikmat seni, sekaligus membuka jalan menuju perayaan seni yang lebih besar di Bali pada tahun mendatang.

Sebelum tampil di Jakarta, Bratayasa menyelesaikan karya monumental berupa relief batu padas sepanjang 15 meter dan tinggi 3 meter di halaman rumahnya di Ubud. Karya yang dikerjakan selama sembilan bulan itu menggunakan batu padas dari puing bangunan yang ia kumpulkan selama lima tahun terakhir.

“Saya kumpulkan batu-batu yang tak terpakai dan saya tata ulang agar bernilai kembali,” ungkapnya.

Meski tidak memiliki pendidikan formal di bidang ukir, Bratayasa membuktikan bahwa kekuatan naluri, pengalaman batin, dan kesadaran budaya mampu melahirkan karya seni bernilai estetika dan spiritual tinggi. Relief batu padas tersebut memuat simbol kehidupan, hubungan manusia dengan alam, dan harmoni semesta—falsafah yang menjadi inti kehidupan masyarakat Bali.

Baginya, halaman rumah bukan hanya ruang fisik, tetapi juga ruang spiritual yang menghubungkan dirinya dengan leluhur.

“Saya ingin halaman ini jadi ruang belajar dan bertumbuh, terutama bagi anak-anak muda yang tertarik pada seni,” ujarnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/gnr



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami