Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 12 Mei 2026
Seniman Ubud Nyoman Bratayasa Gelar Pameran “Road to Tatah Natah” di Jakarta
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Seniman asal Banjar Gelogor, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Gianyar, I Nyoman Bratayasa, kembali menorehkan prestasi penting dalam perjalanan berkeseninya.
Ia tampil di panggung nasional melalui pameran tunggal bertajuk Road to Tatah Natah di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, yang berlangsung dari 1 November hingga 31 Desember 2025.
Dalam suasana hangat dan penuh makna, para kolektor dan pecinta seni dapat berdialog langsung dengan Bratayasa mengenai proses kreatif dan spiritual yang menjadi dasar setiap karyanya. Pameran ini dibuka secara resmi oleh pecinta seni Ifal Ifal Hutagalung dan juga dihadiri oleh seorang artist Hydea asal Jepang.
Bratayasa menampilkan karya lukisan di atas kertas dan kanvas, serta pahatan pada media batu padas—material yang menjadi identitas khasnya. Melalui Road to Tatah Natah, ia memperkenalkan nilai-nilai spiritual serta filosofi Bali melalui medium visual yang lahir dari pengalaman batin dan kepekaan diri terhadap kehidupan.
“Setiap karya memiliki roh. Saya ingin menghadirkan semangat spiritual dan kesadaran budaya Bali di setiap guratan dan tatahannya,” ujar Bratayasa, Selasa (4/11).
Pameran ini juga menjadi ruang dialog antara seniman dan penikmat seni, sekaligus membuka jalan menuju perayaan seni yang lebih besar di Bali pada tahun mendatang.
Sebelum tampil di Jakarta, Bratayasa menyelesaikan karya monumental berupa relief batu padas sepanjang 15 meter dan tinggi 3 meter di halaman rumahnya di Ubud. Karya yang dikerjakan selama sembilan bulan itu menggunakan batu padas dari puing bangunan yang ia kumpulkan selama lima tahun terakhir.
“Saya kumpulkan batu-batu yang tak terpakai dan saya tata ulang agar bernilai kembali,” ungkapnya.
Meski tidak memiliki pendidikan formal di bidang ukir, Bratayasa membuktikan bahwa kekuatan naluri, pengalaman batin, dan kesadaran budaya mampu melahirkan karya seni bernilai estetika dan spiritual tinggi. Relief batu padas tersebut memuat simbol kehidupan, hubungan manusia dengan alam, dan harmoni semesta—falsafah yang menjadi inti kehidupan masyarakat Bali.
Baginya, halaman rumah bukan hanya ruang fisik, tetapi juga ruang spiritual yang menghubungkan dirinya dengan leluhur.
“Saya ingin halaman ini jadi ruang belajar dan bertumbuh, terutama bagi anak-anak muda yang tertarik pada seni,” ujarnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1104 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 875 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 696 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 645 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik