Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 6 Agustus 2026
Sudah Nasib Sebatangkara, Putu Edwin Dibebankan Iuran Desa
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Bocah sebatang kara, I Putu Edwin Candranata Septiawan, 4, di Banjar Peliatan, Desa Kelusa, Kecamatan Payangan diatensi Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Bali.
Bocah Edwin hidup sendiri karena kakek dan ayahnya meninggal dunia, sementara ibu kandungnya menikah lagi. Sehari-hari, Edwin dirawat oleh bibinya Ni Wayan Emi yang rumahnya bersebelahan. Komisioner KPPAD Bali, Made Ariasa mengatakan Putu Edwin siap ditanggung oleh seorang pengusaha.
"Kami sudah dipertemukan dengan salah satu orang tua asuh yang akan membantu dana kehidupan dan pendidikan bagi si kecil Putu Edwin," ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (1/8).
Diharapkan, bocah itu memperoleh kail sebagai bekal hidup masa depan."Tidak cukup memberikan ikan (sumbangan, red) berapapun banyaknya, tetap akan lebih baik memberikan bekal kail (alat pancing, red). Agar si Putu (sapaan bocah yatim, red) kelak bisa meraih masa depannya,” ujar Ariasa.
Ariasa mengaku, kondisi bocah ini cukup berat karena otomatis dibebankan tanah ayahan desa. Dia sudah masuk warga adat dan tiap bulan membayar iuran ke desa. Namun karena masih bocah, Putu Edwin tidak ikut tedun ngayah.
“Kail itu sebagai bekal untuk tetap menjaga warisan orang tua maupun leluhurnya termasuk meneruskan tanggung jawab kewajiban yang cukup berat menempati tanah ayah desa,” jelasnya.
Komisioner asal Desa Mas, Kecamatan Ubud itu menambahkan, permasalahan yang dihadapi Putu Edwin bukan sekedar kebutuhan hidup makan minum, kesehatan, bermain dan pendidikan saja.
“Ke depannya tetap masalah terkait kewajiban adat di luar ayah-ayahan. Misalnya, ada hak PKH (Program Keluarga Harapan) yang ternyata masih dipegang oleh kakak tirinya. Infonya (kakak tiri, red) tidak lagi merawat dan menghidupinya,” terangnya.
Ariasa berharap, nasib Putu Edwin ini perlu keterlibatan dan inisiasi semua pihak. “Mulai dari pemerintah banjar, desa, kabupaten di dinas terkait,” ujarnya.
Lantaran bocah ini bersentuhan dengan adat, Ariasa menilai perlu peran Majelis Desa Adat (MDA) Gianyar. “Termasuk MDA kecamatan dan kabupaten, terhadap beban tanggung jawab adat tersebut serta pengembalian hak PKH warisan orang tuanya,” pintanya.
Ariasa yang merupakan KPPAD Bidang Pendidikan akan ikut berusaha mengupayakan pendidikan berkelanjutan. “Salah satunya mengupayakan ada orang tua asuh untuk keberlangsungan masa depan pendidikannya sebagai bentuk bekal kail masa depannya. Bukan untuk memancing tapi untuk bekal bekerja lebih baik,” jelasnya.
Pihaknya berharap, akan ada banyak orang tua asuh yang akan mau mengulurkan sebagian kecil rezekinya. “Sebagai wujud syukur atas segala berkah Tuhan selama ini,” ujarnya penuh harap.
Lebih lanjut dikatakan, persoalan semacam yang dialami Putu Edwin ini juga banyak dialami oleh anak-anak lainnya di Bali.
“Bukan hanya untuk si Putu Edwin ini saja. Masih ada anak-anak lain yang mengalami kesulitan masa depan pendidikan. Semoga di masa pandemi covid-19 saat ini semakin meningkat semangat bergotong royong masyarakat Bali yang ekonominya masih di atas rata-rata lainnya," harapnya.
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 3493 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1321 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 923 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 846 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 689 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun