Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Viral Kasus Gerokgak, Bansos DPRD Diusulkan Dialihkan untuk Ambulans Jenazah

Kamis, 8 Januari 2026, 17:44 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Viral Kasus Gerokgak, Bansos DPRD Diusulkan Dialihkan untuk Ambulans Jenazah.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BULELENG.

Usulan agar bantuan sosial (bansos) dari anggota DPRD Buleleng diprioritaskan untuk pengadaan ambulans jenazah mencuat dalam rapat bersama DPRD dan seluruh kepala puskesmas di Ruang Rapat Gabungan Komisi DPRD Buleleng, Kamis (8/1). 

Usulan ini mengemuka menyusul viralnya kasus di Puskesmas Gerokgak II, lantaran ambulans yang tersedia tidak dapat digunakan untuk mengangkut jenazah.

Usulan tersebut disampaikan Perbekel Kubutambahan, Gede Paridnyana. Ia menilai, bentuk bansos yang selama ini diberikan anggota DPRD mayoritas berupa kursi dan tenda, yang dinilai kurang menyentuh kebutuhan mendesak masyarakat.

"Kalau masalah ambulans ini sudah viral, harusnya DPRD juga berpikir. Bantu. Bansos sekarang kan sebagian besar bentuknya kursi dan tenda. Dari pada kurang efektif, coba kasih ambulans," katanya.

Paridnyana mengungkapkan, hingga kini Desa Kubutambahan belum memiliki ambulans jenazah. Desa hanya memiliki satu unit mobil pelayanan kesehatan jenis Avanza yang dibeli dari dana Bantuan Keuangan Khusus (BKK), dan difungsikan untuk mengantar warga berobat ke RSUP Prof. Ngoerah Denpasar.

"Kalau mau kontrol ke Denpasar bisa pakai mobil itu. Tapi untuk bensinnya di tanggung sendiri. Kalau ambulans jenazah, belum punya dan memang sangat dibutuhkan khususnya masyarakat miskin," terangnya.

Dalam rapat tersebut, Kepala Puskesmas Gerokgak II, dr I Nyoman Suardyatma, menjelaskan kronologi kasus yang sempat viral di media sosial. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (3/1) siang, ketika seorang pasien asal Banjar Dinas Pegametan, Desa Sumberkima, dibawa keluarga ke UGD Puskesmas Gerokgak II menggunakan mobil pribadi.

Menurut dr Suardyatma, saat diterima petugas, kondisi pasien sejatinya sudah meninggal dunia dengan tanda-tanda lebam mayat di bagian wajah dan dada. Meski demikian, pihak puskesmas tetap melakukan penanganan sesuai SOP, namun nyawa pasien tidak dapat diselamatkan.

 

"Setelah pasien dinyatakan sudah meninggal, satu anggota keluarganya diajak oleh tim kamu untuk berdialog, menjelaskan tentang ambulans jenazah karena keluarganya minta agar mayatnya dipulangkan ke Sumberkima," terang dr Suardyatma.

Ia menjelaskan, Puskesmas Gerokgak II memiliki beberapa unit ambulans, namun salah satunya merupakan milik TNI yang digunakan khusus untuk kepentingan latihan. Sementara ambulans lainnya hanya diperuntukkan bagi layanan gawat darurat dan tidak dapat digunakan mengangkut jenazah.

Pihak puskesmas pun berupaya meminjam ambulans jenazah dari Puskesmas Gerokgak I yang jaraknya sekitar 20 menit. Namun situasi di lapangan memanas karena keluarga pasien dalam kondisi emosional.

"Bak sampah ditendang, mobil ambulans di pukul pakai tangan. Keluarga yang ada di dalam UGD langsung mengangkat mayat ke mobil. Sehingga saat mayat dibawa ke mobil, cucunya merekam hingga viral. Sebenarnya upaya meminjam ambulans di Puskesmas Gerokgak 1 bukan kali ini saja. Sudah sering dan tidak ada masalah. Baru kali ini kami temukan seemosional ini," jelasnya.

Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya menilai kejadian tersebut dipicu emosi sesaat. Ia menegaskan, ketersediaan ambulans pasien maupun jenazah di wilayah Gerokgak sejatinya sudah mencukupi.

"Yang kemarin hanya emosi semata. Tapi kami tidak ingin hal yang kecil merusak program yang besar. Buntut-buntutnya bupati yang disalahkan. Ambulan di Gerokgak rasanya sudah cukup. Hanya butuh waktu 20 menit untuk kesana. Memang tingkat kesabaran berbeda-beda. Kami imbau Kepala Dinas Kesehatan edukasi masyarakat karena tidak semua tau dengan SOP penggunaan ambulans," jelasnya.

Ngurah Arya juga menilai penambahan sopir ambulans lebih mendesak dibandingkan pengadaan armada baru, agar pelayanan bisa berjalan selama 24 jam penuh.

"Untuk pengadaan harus ada hitung-hitungan. Jangan sampai daerah habis hanya untuk ambulans. Orang mati toh tidak setiap saat. Harus bijak. Ketersediaan ambulans sudah cukup. Sopir yang ditambah, biar bisa 24 jam," tandasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rat



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami