Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 5 Juli 2026
Akibat Tata Ruang Semrawut dan Kerusakan Lingkungan
Denpasar
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Banjir parah di beberapa wilayah di Bali disertai tanah longsor disebabkan oleh tata ruang yang semrawut dan banyaknya alih fungsi lahan yang menghilangkan daerah resapan air.
Kebiasaan buruk masyarakat membuang sampah di sungai serta saluran air atau selokan, juga ikut menjadi pemicu terjadinya banjir serta tanah longsor.
Hal ini disampaikan dua LSM lingkungan di Bali yakni Wahana Lingkungan Hidup atau Walhi Bali dan Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim.
Menurut Walhi Bali, banjir parah di beberapa wilayah di Bali disertai tanah longsor kemarin, disebabkan oleh semrawutnya tata ruang Bali.
“Lahan yang seharusnya berfungsi sebagai kawasan resapan air, kini banyak yang beralih fungsi menjadi pertokoan, villa, atau perumahan,†kata Agung Wardana, Direktur Walhi Bali.
“Politik tata ruang yang dikeluarkan pemerintah kabupaten maupun kota Di Bali lebih memihak kepentingan investor dan kurang memperhatikan keberlanjutan lingkungan hidup di Bali,â€imbuhnya.
Sementara Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim melihat kurangnya infrastruktur seperti saluran pembuangan air untuk mengimbangi pesatnya pembangunan fisik di Bali.
“Pembanguan fisik yang pesat membuat kawasan alami seperti hutan mangrove banyak yang dibabat dan diganti dengan kawasan pertokoan atau mall,†jelas Panji Tisna, anggota Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim.
“Kebiasaan buruk masyarakat yang membuang sampah sembarangan di sungai atau saluran air juga membuat kondisi semakin parah terutama di saat hujan deras,†kata Panji.
Menurut catatan Walhi Bali, saat ini ada tiga kabupaten kota di Bali yang mengalami kerusakan lingkungan paling parah. Ketiga kabupaten kota itu antara lain Kabupaten Badung, kabupaten Tabanan, dan kota Denpasar.
“Tabanan yang sebelumnya dikenal sebagai lumbung beras di Bali, kini banyak lahannya yang beralih fungsi menjadi sarana pendukung pariwisata seperti hotel dan villa. (bob)
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3473 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1120 Kali
Peserta JKN Tembus 282,7 Juta, BPJS Kesehatan Catat Kinerja Positif
Dibaca: 522 Kali
CBR Tabrak Truk di Sibetan, Pemotor Tewas di Tempat
Dibaca: 488 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun