Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Tawur Agung, Rangda dan Barong Kerauhan

Negara

Rabu, 25 Maret 2009, 14:56 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

kerauhan tawur kesangaSetelah dilakukan upacara melasti, rangkaian Hari Raya Nyepi dilanjutkan dengan upacara Tawur Kesanga. Pelaksanaan Tawur Kesanga di tingkat Kabupaten Jembrana dilaksanakan di Simpang Empat Kantor Bupati Jembrana, Rabu (25/3) dengan tingkatan upacara manca kelud dan dipuput oleh 5 sulinggih (Sarwa Sadhaka). Dalam tawur kesanga ini juga diwarnai dengan kerauhan (trance) rangda dan barong saat dipentaskan pada bagian akhir upacara tahunan tersebut.

Setelah melakukan pecaruan dan persembahyangan saat matahari persis di ubun-ubun, prosesi upacara tahunan ini dilanjutkan dengan pementasan barong dan rangda oleh sekaa dari Lingkungan Pancardawa, Pendem, Jembrana sebagai perwujudan bhuta kala untuk melebar caru.

Seperti biasanya, pertunjukkan seperti ini diisi dengan trance para penari rangda dan barong. Para bhuta kala ini dibaratkan memakan sesajen yang telah usai dipergunakan yang diwujudkan dengan merusak sesajen tersebut. Pertunjukkan ini memiliki makna agar pada saat perayaan Nyepi nanti, para bhuta kala ini tidak lagi mengganggu umat Hindu. Kejadian ini berlangsung lumayan lama dan berakhir ketika pemangku menyiratkan tirta (air suci) kepada ketiga pemeran tersebut.

Sementara itu, Ketua PHDI Jembrana, I Ketut Semaraguna dalam dharma wacananya mengatakan tawur kesanga bermakna mensucikan semua bhuta kalaagar semua selaras sehingga dunia menjadi damai. “Sebelum melaksanakan hari raya Nyepi, kita berharap bhuta kala yang berpotensi mengganggu khidmadnya umat Hindu dalam menjalankan Catur Brata Penyepian dapat dilebur menjadi unsur positif,” katanya.

Di sisi lain, Semaraguna yang juga merupakan Ketua Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB) mengharapkan adanya toleransi antara umat Hindu dengan umat lain yang tidak melaksanakan Hari Raya Nyepi. “Mari kita taati seruan bersama FKUB demi lancarnya pelaksanaan Hari Raya Nyepi,” ajak Semaraguna.

Bupati Jembrana, I Gede Winasa dalam sambutannya mengatakan hari raya Nyepi seharusnya dimaknai sebagai ajang instrospeksi diri untuk mencapai keharmonisan dunia dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian. “Umat Hindu saya harapkan dapat melaksanakan catur brata penyepian dengan seksama, jangan membuat hal-hal yang berpotensi konflik. Mari kita mulat sarira (instrospeksi diri) dalam melaksanakan hari raya Nyepi,” harap Winasa.


Dalam pesan Nyepinya, Winasa mengajak seluruh masyarakat agar senantiasa menjalankan dharma agama dan dharma negara serta tetap menjaga toleransi yang sudah terbina dengan baik. “Mari kita laksanakan kewajiban kita kepada agama dan negara dengan tetap menjunjung tinggi toleransi yang sudah terbina dengan baik,” pesannya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/dey



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami